Online 68 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Masih Mandar-Kah Kita ? (Refleksi Kritis Budaya Mandar)

Masih Mandar-Kah Kita ? (Refleksi Kritis Budaya Mandar) Cetak
oleh Muhammad Junaedi Mahyuddin   
Sabtu, 27 Juli 2013 09:40 | Tampil : 1260 kali.

Mandar kaya akan kebudayaan dengan filsafah hidup. Kata Mandar memiliki dualitas akar etimologi dari kata manda'(sungai/air) dan juga berasal dari kata mandarras (mendalami),


maka merespon kutipan :

"Mua’ mandundumoo wai mandar, to mandarmo tu’u" jika kau sudah minum air mandar, berarti kau sudah menjadi orang Mandar.

  1. Mencermati petuah tersebut sangat jelas keterbukaan orang Mandar terhadap suku lain yang mengajarkan kita bersikap plural, hormat-menghormati antar sesama karena kita semua adalah saudara. Ini dibuktikan, di Mandar tempat bertemunya berbagai suku, contohnya; di Kec Wonomulyo di sana terdapat berbagai manusia-manusia dari suku yang ada di Indonesia. Ada jawa, bugis, toraja, Makassar, semuanya itu menyatu dan hidup rukun. Membentuk barisan cerita di dalam diri orang Mandar dan seolah menjadi bagian dari kebudayaan Mandar. Mandaq(sungai/air), salah satu literatur menyatakan bahwa masyarakat mandar itu rata-rata awalnya hidup disepanjang sungai mengingat bahwa sungai (air) adalah salah satu sumber wajib dari mahluk hidup makanya orang-orang yang mengambil air utk air minum di sungai tersebut disebut orang-orang mandar (ini yang disebut sebagai ORANG MANDAR, mandar secara garis keturunan). di samping itu kata "wai (air)" merupakan simbol sebagai bening/bersih/pemberi kehidupan, yang berarti jika kita mempunyai perilaku yang bersih (sopan satun), tolong menolong, kita dikatakan sebagai orang Mandar

  2. Mandar adalah dasar dari kata (manddarras/menguatkan/mendalami), kata mandarras di daerah mandar itu sangat erat kaitannya dengan Al-quran bahkan ketika para orang tua dulu mengatakan "manddarraso dolo ana" maka sang anak langsung membaca Al-quran tanpa bertanya lagi apa yang ingin didarras, jika kita menyatakan bahwa kitab itu tujuannya utk mempelajari kebenaran atau mencari kebenaran atau sesuatu yg di yakini benar dan sangat erat kaitannya dengan kebenaran maka defenisi etimologi mandar(mendalami kebenaran) jadi orang-orang(siapapun) yang tapak langkahnya menuju pada jalan kebenaran dan doa, perjuangan serta airmatanya dipersembahkan untuk kebenaran maka itu juga disebut orang mandar, mengutip seperti yang dikatakan baharuddin lopa bahwa "mua mandar tongano'o naungo dimandar mappaguru lulluare'mu di mandar..." (ini yang disebut sebagai MANUSIA MANDAR, mandar secara ideologi)
Sayyang Pattuqduq Mandar (Hiqmatiar Syamsul)
Sayyang Pattuqduq Mandar, budaya yang masih tetap dipertahankan
Foto : Hiqmatiar Syamsul

Sedikit banyak yang saya ingin kemukakan tentang sesuatu yang membuatku selalu rindu dengan Mandar, kepadamu kawan. 1. tiap tahun, tepatnya di bulan maulid, sering diadakan prosesi khatam al-qur'an yang dikirab menggunakan kuda pattu'du (kuda yang menari) diiringi celoteh kalinda'da dan instrumen rabana, 2. pakkacaping towaine, 3. lomba perahu sandeq, 4. parrabana towaine, 5. pasayang-sayang.

Pakkalindaqdaq Mandar (Ohe Syam Suharso)
Lelaki muda Pakkalindaqdaq Mandar yang mengiringi kuda Pattuqduq
Foto : Ohe Syam Suharso

Saya ingin mengajak anda manusia-manusia di dunia ini untuk berkunjung langsung ke daerah kelahiraku, Mandar. Kepada teman dan sahabat saya selalu menitip kata bahwa Mandar adalah daerah berbudaya yang sangat menghormati orang yang lebih tua dari dia dan sangat menjunjung tinggi kejujuran. Dulu ketika kami lewat di depan orang yang lebih tua dari kita, kita selalu menundukkan tubuh sedikit lalu mengucapkan kata tawe, menggunakan kata iye puang ketika menyahut panggilan dari orang yang lebih tua dari kita, selalu berkata jujur- ini dibuktikan dengan filosofi Alm. Baharuddin Lopa dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifa dalam hukum. Budaya tolong menolong, ketika salah satu dari kerabat dekat, tetangga kita akan melakukan acara, kita sering mengunjungi untuk menyumbangkan tenaga (pria) sedangkan wanita membawa sesuatu untuk pembuat acara, mis: gula, minyak kelapa. Hal ini, menandakan bahwa Mandar adalah dunia yang indah dengan kebudayaannya. Mandar yang membuka mata dan hatiku mensyukuri nikmat yang Sang Pencipta berikan. Mandar yang membuat saya tunduk pasrah bersimpuh di hadapan San Penguasa di waktu sujud-syukur dilahirkan di daerah Mandar.

Akhir-akhir ini, hati saya sedih melihat Sikap-sikap anak-anak, anak muda, orang tua kita sekarang yang seakan digerogoti penyakit lupa akan budayanya (amnesia), lupa mengajarkan budaya. Diperparah dengan ketidakmampuan kita untuk menfilter budaya yang tak seharusnya untuk dilakukan, budaya luar merusak pikirannya, sudah lupa dengan kata tawe, sudah lupa dengan kata iyye, lupa akan pentingnya gotong royong (tolong menolong), curiga mencurigai, berbohong, mengesampingkan musyawarah, memperjuangkan kata siriq yang tidak pada tempatnya, anak-anak hinga anak muda memburu legitimasi sebagai anak gaul. Hal ini, membutuhkan perhatian khusus dari kita sebagai manusia yang dilahirkan di daerah tersebut. Mari memikirkan cara agar anak-anak, muda, tua kita lebih mencintai budayanya. Karena tidak menutup kemungkinan 5 tahun ke depan anak muda tersebut atau bahkan cucu kita sendiri sudah tidak akan mengenal budaya Mandar itu (punah)?. Siapa lagi yang akan peduli dengan kebudayaan kita kalau bukan kita? Ini tentunya pekerjan rumah kita masing-masing. Mungkin akan tidak terlalu berlebihan jika kita mengajak anak-anak kita sebagai generasi muda untuk mencintai Mandar secara keseluruhan. Daerah yang sangat menjunjung budayanya.

Mampukah kita menjadikan Mandar sebagai daerah yang berbudaya? Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Tidak dengan kata-kata melainkan dengan realisasi dari perkataan tersebut. SEPAKAT (Setia Pada kata)!!!. “Mari kita menjadi manusia yang berbudaya”............ Kepedulian kita terhadap budaya kita, harus menjadi sikap hidup, kita harus menjadi contoh.

Penulis :

Muhammad Junaedi MahyuddinMuhammad Junaedi Mahyuddin, saat ini menetap di Jati Sari - Semarang, Jawa Tengah, domisili asal di Kelurahan Banua Baru Kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar. Alumnus Universitas Negeri Makassar. Hobi menulis artikel bertemakan budaya, menyukai dunia pendidikan, fotografi, serta travelling.
Kontak Saya :
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017