Online 67 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Menguak Budaya Seni Rebana Islami Di Desa Mombi Kec. Alu Kab.Polewali Mandar

Menguak Budaya Seni Rebana Islami Di Desa Mombi Kec. Alu Kab.Polewali Mandar Cetak
oleh Administrator   
Kamis, 15 Agustus 2013 11:16 | Tampil : 1848 kali.

Rebana, adalah salah satu kesenian tradisional Mandar yang menjadi alat dimasa dahulu untuk menyebarkan agama Islam. Ini menjadi salah satu bentuk alat yang mudah diterima oleh masyarakat untuk syiar penyebaran agama yang lebih mudah didekati dengan aspek seni. Penyampaian pesan moral dengan muatan agama lebih dapat dicerna oleh masyarakat dibandingkan dengan metode ceramah atau khutbah yang sifatnya satu arah. Seni menjadi alat yang paling baik untuk menyampaikan muatan-muatan positif dan ajakan untuk mengikuti nilai-nilai agama.

 

Rebana Mandar

Seni Tradisional Rebana di Tanah Mandar (Foto : Syamsuddin Zainuddin)

Pertunjukan rebana di tanah Mandar dapat kita saksikan saat berlangsungnya acara atau hajatan, semisal dalam acara pernikahan, maulid, sunatan dan beberapa even-even budaya lainnya seperti pada saat arak-arakan "totammaq" (penamatan Al Qur'an). Namun dalam pelaksanaannya rebana menjadi berbeda ketika dipertunjukkan untuk even yang berbeda pula, beberapa "tuttuq" juga akan berbeda, misalnya ketika ia dipentaskan dalam acara pernikahan, untuk maulid, ataupun pada saat pementasan "sayyang pattuqduq"

Perkembangan kelompok rebana di desa Mombi kec. Alu

Secara umum kelompok rebana di tanah Mandar tidak lepas dari dinamisasi dan perkembangan, mulai ada kelompok-kelompok rebana yang hadir dengan modifikasi "tuttuqnya" sendiri yang mendobrak aturan rebana klasik. Karena itu ada berbagai macam kelompok rebana yang mulai hadir

kelompok rebana di desa Mombi kec. Alu awal mulanya dibawa oleh seorang Imam di lingkungan Paropo desa Mombi yang biasa disebut "Kanneq Imang" dari beliau kemudian lahir kelompok Al-Ikhwan yang sampai saat ini masih menjaga pelestarian rebana klasik. Kelompok ini adalah mereka yang masih menjaga rebana sebagai sebuah metode dan cara untuk menjaga eksistensi awal rebana (sebagai metode syiar Islam). Mereka masih menyempatkan berzikir disaat menghentak rebana, dan melantunkan kidung-kidung bernafaskan Islam dengan petunjuk dari kitab "Barzanji" berisi kisah-kisah kehidupan Nabi Muhammad S.A.W.  Menurut mereka saat ini ada banyak kelompok rebana yang lahir dengan "asal menghentak" saja tanpa memperhatikan bagaimana seorang "parrawana" menghentak instrumennya.

kelompok rebana mandar mambi

Kelompok Rebana Al-Ikhwan Desa Mombi Kec. Alu Kab. Polewali Mandar (Foto : Syamsuddin Zainuddin)

Seiring waktu kelompok-kelompok rebana modern lainnya lahir ditengah tuntutan rebana yang lebih kontemporer sebutlah pada kelompok rebana "Hidayatullah 1" dan "Hidayatullah 2" yang pada awalnya lahir dari kelompok rebana Al Ikhwan yang lebih menyerap aspek modernisme dalam berkesenian. Kelompok ini juga masih berasal dari desa yang sama di kec. Alu. Kelompok ini berusaha menyajikan rebana dengan lebih modern dan diterima oleh masyarakat. "Tuttuq" mereka lebih dinamis dan variatif jika dibandingkan dengan rebana klasik.

Satu kelompok rebana klasik "Al Ikhwan" misalnya, kelompok ini terdiri dari beberapa orang pemain (sekitar 10-15 orang) dengan menggunakan instrumen rebana yang berbeda-beda dari segi ukuran dan bentuk. Dari segi ukuran rebana bervariasi mulai dari yang berdiameter sekitar 50 cm hingga 30 cm dengan spesifikasi frekuensi suara yang berbeda-beda pula. Paduan frekuensi suara yang berbeda lalu menghasilkan paduan irama rebana yang lumayan seru untuk disaksikan. Selain itu terdapat instrumen yang disebut "rinci" yang digunakan untuk "maqdeqo" dan instrumen-instrumen lainnya. Pemain rebana adalah kombinasi dari orang tua dan anak-anak. Sebagian anak lalu akan masuk ke tengah lingkaran saat rebana telah dimainkan untuk "maqdego" bersama rinci mereka.

Jika dilihat secara detail rebana klasik lebih "statis" dan membosankan dari segi penilaian pertunjukan, anda akan disuguhi permainan yang itu-itu saja, tanpa modifikasi pukulan yang lebih bersemangat dan menghentak, tapi seperti itulah rebana klasik yang berlandaskan syiar Islam dibentuk. Hari ini kesenian rebana bisa dikatakan stagnan namun perlahan beranjak dan bergerak untuk membudaya di masyarakat. Jika dibandingkan dengan kesenian klasik tradisional lainnya bisa dikatakan ini lebih bisa diterima dibandingkan dengan kesenian "Gambus" yang masih berkerabat dekat. Gambus hari ini perlahan mulai musnah

Pelestarian budaya rebana di desa Mombi kec. Alu

kelompok rebana mandar

Bentuk Pelestarian Budaya Rebana di Tanah Mandar (Foto : Syamsuddin Zainuddin)

Satu hal yang patut dicatat dan menjadi bentuk pelestarian budaya seni rebana ini adalah adanya pelibatan generasi muda (anak-anak) dalam kelompok rebana ini. Hal ini dapat menjadi semacam sebuah "regenerasi" untuk melahirkan pemain rebana yang akan meneruskan seni tradisional Mandar. Untuk kelompk rebana ini sebagian anak diikutkan dalam grup, untuk mereka yang masih berusia sangat muda akan menjadi seorang "paqdego" dan menari dalam lingkaran, sementara  yang berusia lebih dewasa akan turut menghentak rebana bersama para orang tua.  Bentuk-bentuk pelestarian budaya dan seni mutlak membutuhkan satu proses usaha untuk menjaga keberlangsungan hidup, karena jika tidak maka tidak mustahil tradisi ini akan musnah tergerus oleh budaya luar yang semakin merasuk.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017