Online 68 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Uwaq Unding, Seniman Sayang-Sayang Mandar Multi Talenta

Uwaq Unding, Seniman Sayang-Sayang Mandar Multi Talenta Cetak
oleh Administrator   
Jumat, 16 Agustus 2013 22:03 | Tampil : 1818 kali.

Awal pertemuan saya dengan Uwaq Unding adalah ketika ia menjadi salah satu narasumber untuk kunjungan kawan-kawan dalam trip wisata budaya serta sejarah “Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar” menelusuri kecamatan Alu. Di malam hari saat saya mengunjungi tetangga rumahnya “Papaq Sukran” yang menjadi pemimpin grup rebana klasik Islami Al-Ikhwan saya hanya melintasi rumahnya. Rumahnya tampak kecil dan sepi, tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam sana, memang waktu itu malam sudah agak larut, saya dan rekan yang tinggal di desa Mombi (Zulkifli Zain) hanya melintasi rumah yang sederhana itu sembari berniat dalam hati untuk kembali keesokan harinya. Istri Uwaq Unding adalah salah satu pengrajin tenun sutera yang masih melakukan kegiatan menenun dengan cara-cara yang tradisional, dan ia mutlak saya butuhkan sebagai narasumber untuk menjelaskan tentang teknik-teknik “manetteq”, singkatnya kami mutlak bertemu dengan Uwaq Unding dan istrinya.

sayang-sayang mandar

Seniman Sayang Sayang Mandar Uwaq Unding dari desa Mombi kec. Alu Kab. Polman

Esok hari setelah bertemu dengan personel kelompok gambus Al-Fatah yang dimotori oleh pak Harun, Imam lingkungan Paropo, dan setuju untuk kami kunjungi dalam trip budaya dan sejarah, perjalanan kami lanjutkan ke kepala desa Mombi (sekalian silaturahmi dengan aparat desa), salah satu desa di kecamatan Alu yang menjadi basis kunjungan kami nantinya. Adapun akses ke kepala desa tidaklah sulit karena rekan saya (Zulkifli Zain) masih  kerabat dekatnya. Saat berbincang dengan kepala desa itu kami mengutarakan maksud kedatangan untuk melihat secara langsung aspek budaya dan seni yang ada di desa Mombi, dari informasi beliau (kepala desa) maka disebutlah nama “Uwaq Unding” sebagai salah satu seniman yang mahir memainkan musik tradisional khas Mandar yaitu “Sayang-Sayang” . Awalnya kami hanya akan meminta istrinya untuk menjelaskan dan mendemokan sedikit soal “Panetteq” tapi kemudian kami beralih ke rencana tambahan untuk menampilkan pertunjukan sayang-sayang live dari Uwaq Unding sendiri.

Bersama pak kepala desa Mombi kami mengunjungi rumah Uwaq Unding, menaiki anak tangga rumah pangungnya satu persatu dan disambut dengan sangat ramah. Sedikit kata pengantar dari Pak kepala desa dan berujung pada maksud kedatangan kami. Maka sesaat kemudian beliau mulai bercerita panjang soal kemampuannya dalam memainkan “Sayang-Sayang” salah satu seni musik Mandar yang saat ini beranjak punah dan musnah. Salah satu seni unik yang menuntut pemainnya mampu merangkai kata lewat syair lagu-lagunya secara “live”, bukan dengan menghafal syair lagunya. Saya kemudian bertanya pada beliau mengenai awal kemampuannya dalam mendalami seni ini. Ia lalu menjawab “saya mempelajarinya sendiri, tanpa berguru pada seorang pun” singkatnya kemampuannya dalam menyajikan sayang-sayang ia dapatkan dengan belajar sendiri secara otodidak, tanpa guru, ia hanya telaten mendengarkan lagu sayang-sayang dan mulai mempraktekkannya sendiri.

Seketika Uwaq Unding bercerita bahwa ia sering bermain sayang-sayang jika ia diundang untuk acara hajatan misalnya perkawinan, sunatan dan acara-acara budaya lainnya di sekitar desa Mombi. Ia juga memiliki pasangan bermain sayang-sayang yaitu seorang perempuan, seperti diketahui bahwa pertunjukan sayang-sayang Mandar biasanya terdiri dari dua orang di atas panggung yang akan saling berbalas “Kalindaqdaq” Mandar. Isi syair sayang-sayang biasanya merupakan petikan dari kalindaqdaq ataupun kata-kata yang dirangkai sendiri untuk menyindir lawan main, ataupun orang-orang yang ada disekitarnya. Pasangan bermain sayang-sayang nya berlokasi jauh dari tempat tinggalnya, sehingga menurutnya sulit jika ia tampil esok harinya dengan pasangannya, maka kemudian kami menawarinya untuk tampil solo, dan ia pun setuju.

Uwaq unding sangat bersemangat dalam menceritakan soal “Sayang-Sayang Mandar” ia juga memiliki sebuah gitar listrik namun salah satu komponennya sudah tidak dapat digunakan lagi hingga kami pun memintanya untuk melakoni pertunjukan dengan gitar akustik. Sesaat kemudian kami meminta beliau untuk sedikit mendemokan mengenai cara bermain “sayang-sayang” namun gitar akustik yang dimilikinya berada didalam salah satu kamar di kolong rumah panggungnya, sementara kamar itu dikunci dari luar oleh anaknya yang sedang pergi bekerja. Sempat ingin meminjam gitar akustik tetangganya namun si tetangga juga sedang tidak ditempat, maka kami kemudian tidak sempat mendengarkan demonstrasi singkat pertunjukan sayang-sayang Mandar dari beliau.

Uwaq unding selain pandai memainkan musik “Sayang-Sayang” Mandar ia juga dikenal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang umum. Di desa Mombi ia dikenal sebagai seorang yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang-orang dari guna-guna dan ilmu hitam. Bahkan dalam wawancara yang saya lakukan ia berkata, bahwa “tampak fisik memang saya yang anda lihat, tapi kadang-kadang saya merasa bukan diri saya” . Kecamatan Alu memang sepertinya tidak bisa lepas begitu saja dari cerita-cerita yang tidak dapat dijangkau oleh logika manusia. Karena memiliki kemampuan seperti itu, maka saya pun bertanya pada beliau seputar ilmu hitam yang dahulu berkembang di wilayah Mandar yaitu “Doti”, beliau menjelaskannya sedikit dan secara singkat ia merangkum bahwa doti masuk dalam wilayah ilmu hitam yang digunakan untuk menyakiti dan membunuh, kadang juga digunakan untuk menyantet orang, dan ia adalah orang yang berusaha mengatasi ilmu hitam ini. Ada banyak orang yang telah datang berkunjung padanya untuk menyembuhkan penyakitnya yang dideteksi sebagai akibat pengaruh ilmu hitam. Ia konon mempunyai sebatang kayu yang jika seseorang yang saat itu terkena ilmu hitam maka seketika ia akan pingsan.

Saya sempat bertanya pada beliau darimana ia mendapatkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa ini. Ia pun menjawab “kemampuan ini saya dapatkan dari mimpi-mimpi saat saya tidur” Jika dilihat dari sisi ilmiah dan logika, maka akan sangat sulit kemampuan-kemampuan seperti ini diterima oleh akal manusia. Akal akan menolak ketika ia berbenturan dengan logika manusia.

Kemahirannya dalam bermain sayang-sayang Mandar tidak diragukan lagi, setelah saya menyaksikan langsung pertunjukan Sayang-Sayang nya maka kita tidak perlu bertanya lagi tentang kemampuannya. Ia menguasai jenis “koqbiq” atau petikan dalam varian-varian sayang-sayang seperti “koqbiq padang pasir”, “koqbiq dua silinder”, “koqbiq kemayoran”, “koqbiq karambangan”, dan beberapa koqbiq lainnya. Saat pertunjukan itu lagu sayang-sayang yang dibawakannya hanyalah dua dengan jenis koqbiq yang berbeda.

Dewasa ini Uwaq Unding menunjukkan eksistensinya sebagai seniman Mandar yang masih menjaga budaya seni khas daerah yang mulai bergeser dan tertinggal. Di saat berbagai macam genre musik merasuki wilayah Mandar ia masih tetap bertahan dan mampu “survive” dengan keterampilannya yang berbeda. Untaian melodi sayang-sayang dari gitarnya yang sederhana itu mampu membuat anda merasakan betapa kentalnya seni musik Mandar berpadu dengan bahasa pantun dan kiasan dalam paduan nada yang berujung pada suasana tanah Mandar zaman dahulu.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017