Online 71 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Penyu, Makhluk Manis Bermata Sendu

Penyu, Makhluk Manis Bermata Sendu Cetak
oleh Zulfihadi   
Selasa, 27 Agustus 2013 14:10 | Tampil : 1036 kali.

Penyu, yah siapa yang tidak kenal reptil laut yang bermata sendu ini. Dengan begitu banyak keistimewaan yang dimilikinya, mahluk eksotis nan menawan yang merupakan saudara dekat kura –kura ini berhasil memikat mata dunia. Cangkang belakangnya yang punya motif warna mengagumkan menjadi pelindung tubuhnya dalam mengarungi lautan. Gerakannya yang lembut saat bergerak di air seolah seorang penari putri yang gemulai membawakan tari yang begitu indah. Matanya yang sendu ibarat mata putri raja yang kesepian, hingga selalu menghadirkan rasa haru saat menatapnya. Usianya yang panjang hingga ratusan tahun membuatnya menjadi legenda dilautan dan menjadi pujaan beberapa suku atau bangsa di dunia.

Namun sayang karena keistimewaannya itu pula, keberadaan penyu menjadi incaran pemangsa terhebat dan terganas di dunia yang bernama “manusia”. Tdk ada bagian tubuh hewan cantik ini yang luput dari usaha eksploitasi manusia, mulai dari telurnya yang konon sangat enak dan bisa menambah stamina, daging yang lezat disajikan sebagai hidangan sate nan istimewa, cangkang sebagai bahan kerajinan dan souvenir dengan harga selangit, selain itu penyu juga terkadang di persembahkan dalam ritual agama tertentu.

Penyu jantan menhabiskan seluruh

hidupnya di lautan, hanya penyu betina yang sesekali ke darat untuk bertelur.

 

Penyu laut telah mengalami penurunan yang dramatis dalam jumlah populasi dalam jangka waktu terakhir ini. Bahkan beberapa spesies terancam kepunahan dalam waktu yang dekat. Di alam, penyu-penyu yang baru menetas menghadapi ancaman kematian dari hewan-hewan seperti kepiting, burung, dan reptilia lainnya seperti biawak. Bahkan pada saat menetas dan menuju ke laut pun tukik, istilah untuk anak penyu yang baru menetas akan menghadapi bahaya pemangsa seperti anjing liar atau burung camar. Selain dari pemangsa, padatnya pemukiman penduduk yang menggeser habitat penyu untuk bertelur pun menjadi ancaman. Inilah semua yang menurut para ahli menyebabkan presentase kehidupan anak penyu hingga mencapai dewasa hanya berkisar 0,1-0,1% saja, ini artinya dari 1000 butir telur penyu yang ditetaskan, hanya 1 – 2 ekor saja yang sanggup mencapai usia dewasa.

 


Anak penyu yang baru menetas di sebut tukik

 

Penyu dipambussuang.

 

Meski sudah beberapa kali mendapati penyu atau sarang penyu namun masyarakat pantai pambussuang di kecamatan Balanipa, kabupaten Polewali mandar tetap dikejutkan dengan adanya tukik-tukik yang berbondong bondong keluar dari sarangnya pada tanggal 23 agustus 2013 lalu. Hal ini disebabkan karena lokasi sarang penyu tepat berada di samping pagar kandang ayam salah seorang warga. Bahkan menurut A’ba Masyurah, warga yang halaman belakang rumahnya menjadi tempat bersarang penyu bahwa di sekitar lubang sarang itulah dia sering memberi makan ayam-ayamnya namun dia tak pernah menyangka bahwa beberapa sentimeter di bawah permukaan pasir itu terdapat telur telur penyu yang sedang dalam proses pengeraman.

Hingga saat tukik itu keluar dari sarang, maka A’ba Masyurah berinisiatif melaporkan hal tersebut kepada Muhammad Ridwan Alimuddin, salah seorang warga yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial, pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Setelah itu, karena pertimbangan kondisi lingkungan maka merekapun mengangkut para tukik dari jenis penyu sisik itu untuk di pindahkan ke pantai palippis sekitar 2 km dari lokasi sarang tempat menetasnya telur-telur tadi dan di sanalah tukik itu kemudian dilepaskan. Keesokan harinya, tanggal 24 Agustus 2013, sejumlah 64 ekor tukik pun berhamburan turun kelaut dan berenang lincah seolah bergembira menyambut air laut.

“Berenanglah penyu ku yang cantik dan anggun, bertahanlah selalu. Arungi lautan dunia bersama perahu sande’ nan bersahaja, di pantai teluk mandar kunanti dirimu kembali”

 

Bekas sarang penyu yang ditemukan oleh A'ba Masyurah

pada tanggal 23 Agustus 2013

(Foto video: Muhammad Alimuddin Ridwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

 

 

 

Comments 

 
#1 2013-08-27 15:28
gerakan konservasi laut dan organismenya menantikan kita bisa melihat penyunya kembali ke daratan pambusuang untuk bertelur dan mengeram lagi
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017