Online 49 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Pullandoq Dan Puccecang Tokoh Dongeng Tanah Mandar Yang Terkikis Oleh Zaman

Pullandoq Dan Puccecang Tokoh Dongeng Tanah Mandar Yang Terkikis Oleh Zaman Cetak
oleh Heriadi Darwis   
Rabu, 02 Oktober 2013 21:56 | Tampil : 4856 kali.

Kisah cerita lokal bertemakan anak-anak juga dikenal di daerah Mandar, salah satunya dengan tokoh yang selalu dipasangkan berdua, yaitu si Puccecang dan si Pullandoq. Dua tokoh yang selalu menjadi tema sentral cerita untuk kalangan anak-anak, seringkali dijadikan sebagai cerita pengantar tidur oleh orang tua (bapak atau ibu kepada anaknya) dan (kakek atau nenek pada cucunya), atau pada saat waktu senggang. Cerita lokal bertemakan Pullandoq dan Puccecang selalu mengetengahkan kisah antara si cerdas dan si tolol ataukah dengan dua karakter baik dan buruk, atau rajin dan malas. Kisah yang berkembang di masyarakat Mandar dikisahkan dalam banyak versi.

pullandoq dan puccecang mandar

Ilustrasi tokoh Puccecang

Berikut ini adalah salah satu versi cerita si Puccecang dan si Pullandoq :

"Dimesa wattu, puccecang annaq pullandoq mellambai di biring lembang. Ia riqo pullandoq, maqitai loka kaiyyang annaq mariri. Nasabaq andangi toriq mala mittekeq I  pullandoq jari nasioi puccecang mittekeq. Tappana riqo, mittekeqmi daiq puccecang. Tappana iwaomi puccecang, maquangi pullandoq" Buanganaq mai pirallisar loka puccecang, meloq toaq iyau maqande loka. Apari tia napogauq I puccecang, tittai\I naung anna maquangi " jagai mating loka kaiyyang annaq maririo pullandoq,,"

Dipolongi carita , tappa diang buqang milleneq daiq di Puccecang, tappana nasikkiq "anunna" I Puccecang. Tappa bemmeq i Puccecang sola lokana,..!

Terjamahannya adalah sebagai berikut :

"Disuatu waktu Puccecang dan Pullandoq berjalan ditepi sungai. Tiba-tiba pullandoq melihat pisang yang besar dan kuning, Karna Pullandoq tidak bisa memanjat, akhirnya si pullandoq meminta puccecang memanjat. Si Puccecang pun memanjat. Setelah ia berada diatas pohon, Pullandoq berkata " Lemparkan saya beberapa pisang, saya juga mau makan pisang". Lantas puccecang justru buang air besar dan berkata " Tangkaplah pisang besar dan kuning itu"

Singkat cerita, Tiba-tiba ada seekor kepiting yang memanjat pohon itu dan menggigit kemaluan Puccecang. Akhirnya puccecang pun jatuh bersama pisangnya."

Demikianlah salah satu versi penggalan cerita tentang Pullandoq dan Puccecang yang 16 tahun yang lalu sering diceritakan oleh kakek dan bapak (aqba) si penulis. Cerita ini lucu dan mengandung nilai moral sehingga sangat cocok untuk kalangan anak-anak.

Ironisnya, saat ini banyak generasi Mandar khususnya anak yang tumbuh di zaman digital dan zaman globalisasi tidak lagi mengenal tokoh dan cerita diatas. Padahal cerita ini adalah warisan budaya Mandar yang harusnya dilestarikan semua generasi. Lebih ironisnya lagi, Ada generasi yang seolah gengsi untuk melestarikan cerita ini. Kata mereka "ini kampungan (norak) kalau cerita tentang tokoh tradisional". Mereka lebih enjoy dengan tokoh -tokoh super hero seperti Naruto, Power Ranger, Superman, Batman, dll yang notabene produk luar luar negeri.

Sebenarnya tidak salah jika mereka mengidolakan tokoh-tokoh tersebut diatas, namun pertanyaannya adalah "Haruskah tokoh-tokoh tradisional seperti Pullandoq dan Puccecang terlupakan? Tentu jawabannya "tidak", oleh karenanya sebagai generasi Mandar marilah kita menjaga kearifan lokal ini dengan mencintai dan melestarikan cerita ini. Minimal, kita memperkenalkan tokoh Pullandoq dan Puccecang pada anak-anak disekitar kita, agar mereka semakin cinta dengan budaya Mandar.


Penulis :

heriadi darwisHeriadi Darwis, alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) kota Pare-Pare, Jurusan Bahasa Inggris. Menyukai dunia  seni dan budaya Mandar, saat ini menetap di Pare-Pare dan aktif di lembaga Metro English Course sebagai pengajar.

Kontak Saya :

facebook : https://www.facebook.com/heriadi.darwis

 

Comments 

 
#1 2014-03-13 14:39
tongan sanna dipau
Quote
 
 
#2 2015-07-23 15:31
Dongeng pendek yg selalu kunanti sblm tidur di wkt kecilku, tp sayang sepertinya ada pergeseran pengucapan kata-kata di Mandar, seperti: 1."riqo" yg sy tau ( dziqo atau dzi'o )2."toriq yg sy tau ( todziq atau todzi' )artinya:kasian . kalau "toriq" artnya:menggore s hingga melukai (benda apapun)3."Apari" yg sy tau (Apadzi) yg artinya: Ada apa? atau bs jg dijadikan sebagai kata sambung dlm kalimat sebagai penegas atas kalimat tersebut seperti cerita di atas yg bs berarti: " ...eh malah...". mhn maaf hanya sekadar tambahan, semoga bermanfaat dan lanjutkan terus dengengnya.Trmkash.
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017