Online 63 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Permainan Tradisional Daerah, Playstation Ala Anak Mandar

Permainan Tradisional Daerah, Playstation Ala Anak Mandar Cetak
oleh Heriadi Darwis   
Kamis, 03 Oktober 2013 13:15 | Tampil : 3956 kali.

Tulisan kali ini bertemakan "Permainan tradisional Mandar" yang sangat popular (dulu, bukan saat ini). Beberapa permainan seperti Mattingkoq, Makkalacang, Maccangke, dan Manggasing adalah permainan khas Mandar khususnya di Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju (Daerah lain di Mandar juga memiliki permainan ini, hanya namanya saja yang beda). Namun perlahan tapi pasti beberapa dari permainan tradisional ini mulai punah, dan jarang dimainkan oleh anak-anak saat ini. Jika kemudian dilihat dari permukaannya ada pengaruh permainan modern yang lebih praktis dan mudah untuk dilakukan.

gasing permainan tradisonal mandar

Gasing, alat untuk memainkan permainan tradisional "Manggasing" di daerah Mandar (Foto : Masykur Sair)

Berikut ini sedikit deskripsi terkait permainan tradisional yang disebutkan diatas. Mattingkoq adalah permainan sejenis petak umpet yang umumnya dimainkan di malam hari. Makkalacang adalah permainan yang menggunakan kayu panjang ( berdiameter sekitar 20 cm) yang dilubangi (Kebanyakan 12 lubang) dan Batu (setiap lubang berisi 3 batu). kemudian setiap pemain bergantian mengisi lubang sampai mereka mendapatkan lubang yang berisi 4 biji batu. Maccangke adalah permainan dengan menggunakan tangkai kayu yang kira2 berdiameter 1 Cm (1 panjangnya sekitar 70 cm, dan satunya berukuran 15 cm). Manggasing adalah permainan yang menggunakan kayu yang telah dibentuk dengan model tertentu, dan kemudian diputar dengan menggunakan "kararrang (tali)", kemudian para pemain saling melempar gasing. Itulah beberapa permainan yang menjadi identitas anak-anak di wilayah Mandar dan sering dimainkan.

Sebagian besar permainan tradisional Mandar ini membutuhkan beberapa orang untuk memainkannya, dilakukan dengan interaksi antara dua orang atau lebih bahkan kadang dilakoni dalam kelompok-kelompok atau tim yang telah dibagi sebelumnya. Untuk permainan mattingkoq, maccangke dan manggasing ketiga permainan ini biasanya dimainkan kedalam dua tim (kelompok) dengan berbagai macam aturan. Dalam maccangke misalnya tim yang dapat melempar bilah kayu yang paling jauh akan menentukan dari titik mana pihak tim yang kalah akan memanggul tim yang menang. Semua tim yang kalah akan memanggul tim yang menang ke titik awal permainan. Secara umum permainan-permainan ini membutuhkan interaksi dalam memainkannya dan lebih menekankan pada keterampilan dan kekompakan tim. Ini adalah salah satu aspek yang dominan dalam permainan tradisional daerah.

Aspek sosial permainan tradisional daerah

Permainan tradisional tersebut ibarat "playstation" pada zamannya yang menjadi candu dikalangan anak-anak Mandar. Jika dilihat dengan perspektif sosial, permainan ini dapat memupuk solidaritas dan silaturahmi kalangan anak-anak sebab permainan ini selalu dimainkan secara berkelompok. Lain halnya dengan Permainan zaman sekarang seperti PlayStation dan Game On-Line yang hanya menghabiskan uang banyak (Umumnya 3 ribu per jamnya, jika dikalikan 10 jam = Rp 30.000 ). Sehingga jangan heran kalau kita temukan kasus seorang anak SD mencuri gara-gara "kebelet" mau main Game Online.

Permainan modern saat ini cenderung dapat dimainkan secara tunggal, tanpa adanya interaksi antara pemain lainnya, karena peran lawan digantikan oleh sebuah layar komputer yang dihubungkan dengan mesin game seperti pada (PlayStation). Lebih canggih lagi pada Game Online dimana peranan lawan bisa digantikan oleh orang lain yang tersambung dalam satu jaringan hingga dapat membentuk suatu tim. Secara psikologi perkembangan permainan modern ini dapat mengarahkan seorang anak pada minimnya komunikasi dan interaksi dengan rekan seusia dan sebayanya. Hal ini tidak menguntungkan dari sisi perkembangan psiko motoriknya karena layar komputer atau game yang sejatinya bersikap pasif tidak akan pernah bisa memberikan reaksi yang sifatnya spontan dan bersifat memberi pelajaran.

Peran permainan tradisional daerah misalnya yang berasal dari Mandar ini sangat menguntungkan bagi perkembangan psikologis anak, terutama dalam sikap dan cara seorang anak dalam berinteraksi dalam lingkungannya, memahami pribadi lain yang seusianya, belajar dari peristiwa yang terjadi selama hubungan dengan kawan sepermainannya, serta mulai memahami tentang rasa kebersamaan, kekompakan, kerjasama, dan sikap-sikap positif dalam membangun kesatuan untuk memenangkan permainan.

Menurut Dessy Danarti dalam bukunya yang berjudul "52 Fun Family Full Games" terdapat nilai-nilai kebersamaan, strategi, kekompakan, kejujuran, ketangkasan, olahraga, dan kesenangan yang dapat diperoleh dari permainan tradisional. Hal-hal yang sama sekali tidak dapat diperoleh dari permainan modern seperti game PlayStation ataupun Game Online.

Nilai dalam permainan tradisional yang tidak dapat dikesampingkan adalah adanya unsur olahraga didalamnya, ini yang sama sekali tidak dapat diperoleh manfaatnya dari permainan modern, nyaris ketika memainkan permainan modern seperti game PlayStation anak-anak duduk didepan layar dan tidak bergerak sama sekali, hanya memandangi layar komputer atau televisi dalam waktu yang lama-lama (bahkan hingga berjam-jam). Hal ini juga merugikan kesehatan mata secara tidak langsung. Cahaya layar monitor atau TV memiliki radiasi dan membuat mata anak cepat lelah. Sementara permaina n tradisonal seperti maggasing, maccangke, dan mattingkoq sepenuhnya menggunakan fisik dan gerak tubuh yang dilakukan secara aktif, diakhir permainan yang seru akan mengeluarkan sekresi tubuh berupa keringat, melatih ketangkasan, dan cukup dalam membakar kalori, hal yang saat ini membuat banyaknya ditemukan kasus obesitas (kegemukan) pada anak, karena minimumnya gerakan fisik pada anak.

Idealnya seorang anak boleh saja bermain game modern, tapi jangan sampai melupakan permainan tradisional yang telah menjadi identitas daerah khususnya di wilayah (Mandar)

Referensi :

  • Danarti, D. (2010). 52 Fun Family Full Games, Mudah, Murah, Kreatif, Edukatif, Sekaligus Menyenangkan. Yogyakarta : Penerbit Andi

Penulis :

heriadi darwisHeriadi Darwis, alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) kota Pare-Pare, Jurusan Bahasa Inggris. Menyukai dunia  seni dan budaya Mandar, saat ini menetap di Pare-Pare dan aktif di lembaga Metro English Course sebagai pengajar.

Kontak Saya :

facebook : https://www.facebook.com/heriadi.darwis

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017