Online 61 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Lukisan keberanian manusia sulawesi dalam sastera

Lukisan keberanian manusia sulawesi dalam sastera Cetak
oleh Zulfihadi   
Sabtu, 30 November 2013 11:18 | Tampil : 2395 kali.

Seorang pemuda membawakan syair pattaroala

(foto: Kaco Kendeq Tandiapa)

Manusia Sulawesi dikenal sebagai manusia berwatak keras, pemberani dan menjunjung tinggi nilai kesetiaan bahkan mungkin cenderung pendendam(?). Ini bukanlah hal yang baru, ketika jaman ini persaingan makin keras dan cenderung membuat seseorng menjadi cepat emosi. Kekerasan watak, keberanian dan kesetiaan orang Sulselbar terkenal sejak jamn dahulu dan menjadi buah bibir di belahan dunia lain. Beberapa kejadian heroik telah dicatatkan oleh sejarah, mulai dari kisah Daeng Mangalle dengan kurang lebih 200 orang pengikutnya yang melakukan perlawanan terhadap raja Siam (Thailand) yang bernama Phra Narai di tahun 1658-1659 yang dibantu oleh pasukan perancis. Dimana Daeng Mangalle dan pasukannya berhasil menewaskan hampir 2000 orang Siam dan Perancis. (Kisah ini sendiri diambil dari catatan Claude de Forbin seorang ksatria Prancis oleh Raja Louis XIV). (sumber:http://lontarakarebosi.blogspot.com/2011/12/daeng-mangalle-tokoh-pembangkang-raja.html)


Kemudian kisah To Salamaka Syekh Yusuf Al Makassary Al Bantany, yang membuat VOC mengalami frustasi berat. Dan hanya bisa ditangkap setelah anak perempuannya disandera oleh pasukan VOC, di Jawa barat. Dan berlanjut dengan kisah Ammana Pattolawali yang perlawanannya baru bisa dihentikan oleh Belanda setelah beliau terbunuh dengan jalan anggota tubuhnya ditarik dengan kuda kearah berlawanan hingga tercerai berai.

Apakah ini kebetulan?
Maka dari sudut pandang saya, saya mengambil kesimpulan bahwa  semua ini bukanlah sebuah kebetulan. Orang-orang sulselbar terlatih dan terdidik oleh alam yang keras, mulai dari kerasnya perjuangan menaklukkan pegunungan dan hutan rimba hingga keganasan gelombang laut untuk mereka yang hidup di pesisir.
Selain kisah sejarah, maka sebagai sebuah bangsa yang berbudaya, keberanian orang sulselbar juga tergambar dari peninggalan yang berupa sastera. Salah satu sastera yang menggambarkan keberanian dan kesetiaan orang sulselbar adalah adanya puisi perang yang menyatakan ikrar kesetiaan pada sahabat, junjungan, tanah air dan bangsanya. Ada beberpa istilah untuk puisi perang ini di sulselbar, ada yang menyebutnya mesong/osong (bugis), pangngaruq (makassar) atau pattaroalaq (mandar), dan berikut beberapa contohnya:

 

 

Ilustrasi duel dalam sarung

(sumber foto: Sempugi)

 


1. Pangngaruq (Makassar)


Karaeng ku.......!
Kipamomporammaq, jai dudu karaeng....!
Ri dallekang laqbiriqna,
ri empoang matingginna,
ri sakkiri karatuanna.
Satulituli kanangku karaeng.
Pangngainna laherekku, pappatojeng na batengku,
bera niaq kunipattebbak, pangkuluq kunisoean.....
ikatte anging karaeng....na ikambe lekok ayu......
ikatte jenneq karaeng, i kambe batang mammanyuk.

Ikatte jarung karaeng.....na ikambe bannang panjaiq....

Artinya:

Junjunganku !... Maafkan Aku Sebanyak banyakx !..

Dari kesalahan Di hadapan Kedudukan tahta yang mulia,

jika pernah saya berniat tidak menghiraukan Titah Baginda...

Kelahiranku ditakdirkan untuk mengabdi pada tuanku ...

Maka jika aku ada berkhianat

saya siap dirubuhkan dengan pedang yang terselip di pinggang tuanku..

Baginda Angin saya cabang pohon kayu yang ditiup angin..

Baginda Air hamba Batang yang menopang aliranx..

Baginda Jarum hamba benang penjahitx..

Ilustrasi perang Bone 1905

(Foto: wikipedia)

 

 

2. Mesong/osong ( bugis )

Ikrar pasukan cakkuridiE.

Itaka' mai Lapuang, Djinniralana Tana Wajo !
Iya'na pakka temmalara'na Gilireng
Tomassola-solaEngngi sunge'na
Ri Lanti'E ri Tengnga Padang
Tania bElo-bElo janggo'E na bulu sadang
Tania bElo-bElo bElua' sampo gEnoE
Engkapa musuu ri tengnga padang na riyabbEso-bEsoang
Aroo malebba', pajjagguru' malibu
Olii tEa sopE', darah tEa mitti', ure' tEa pettu',,
polopi cappa' kawalikku
Mallajangpi sunge'ku ri pammasareng
Naripasoro ujuuku ri tengnga padang

Artinya:

(I)taka' mai Lapuang, Djinniralana Tana Wajo ! --> lihatlah aku wahai tuanku, jendral tanah wajo
Iya'na pakkana temmalara'na Gilireng --> sayalah perisai tak lapuknya gilireng
Tomassola-solaEngngi sunge'na --> yang menyabung hidupnya
Ri Lanti'E ri Tengnga Padang --> dilantik di tengah padang
Tania bElo-bElo janggo'E na bulu sadang --> bukan hiasan janggotnya dan bulu dagu
Tania bElo-bElo bElua' sampo gEnoE --> bukan hiasan rambut penutup kalung
Engkapa musuu ri tengnga padang na riyabbEso-bEsoang --> nanti ketika datang musuh ditengah padang akan dibenturkan
Aroo malebba', pajjagguru' malibu
Olii tEa sopE', darah tEa mitti', ure' tEa pettu',---> dada lebar, tinju bulat, kulit tak robek, darah tak menetes, urat tak putus
polopi cappa' kawalikku
Mallajangpi sunge'ku ri pammasareng
Naripasoro ujuuku ri tengnga padang--> nanti patah ujung badikku,melayang rohku ke alam barzah,(barulah) mayatku mundur ditengah padang

 

 

Kompleks makam Ammana Pattolawali, desa Alu.

(foto: KomPa DanSa Mandar)

 

 

3. Syair Pattaroalaq ( mandar ):


Indi tia Passopo doena tomalaqbi
passanger kowiq lakkana tomakanang
Pattuei tirarunna todzi posiriq
muaq mupasoppoi annaq mupabullei tomaq
Harangi ulengasang muaq tania tonamatinnande
Iya malaqbi, iya makanang, iya toqo diposiriq

Artinya :

Akulah pemikul tombak orang yg jadi panutan
pengasah parang panjang orang ternama
peniup sumpit bagi orang yg punya harga diri
kalau aku diberi beban dan tanggung jawab
pantang bagiku untuk membela
kalau bukan panutan, ternama dan punya harga diri.

Indi tia betteng bayanna litaq dzi mandar
Arriang appeqna boyang dzi Tomadio
Namekkeqde dzi atonangang, meloq siasayangngi
Meloq sidamo-damo, meloq toi sipetombangan ceraq
Muaq nadiang tolandur, pasayu tigiling sokkoqna
Tiraqbiq mata gayanna.


Artinya :
Inilah benteng kokohnya tanah di mandar

tiang penyanggah empatnya rumah di Tomadio
berdiri tegak dalam kebenaran, ingin saling menyayangi
ingin saling mengasihi, dang juga ingin bersimbah darah
kalau ada yang lewat ingin menentang bertepuk dada, maka kerisnya terhunus.

 

 

Itulah beberapa syair yang menggambarkan bagaimana orang-orang sulselbar dalam hal keberanian dan kesetiaannya. Semestinyalah kita sebagai penerus mampu menjadikan peninggalan-peninggalan sastera heroisme ini sebagai pegangan dalam menegakkan kedaulatan bangsa yang bermartabat. Dan semestinyalah kita mewarisi jiwa-jiwa ksatria leluhur kita, bukan hanya sekedar berbangga sebagai keturunan namun tak mampu mengejewantahkannya dalam hidup dan kehidupan kita.

 

 

 

Penulis.

Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017