Online 67 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Strategi Membumikan Teater Di Tanah Mandar: Menyongsong Festival Teater Putih Abu-Abu V Kampus Unasman

Strategi Membumikan Teater Di Tanah Mandar: Menyongsong Festival Teater Putih Abu-Abu V Kampus Unasman Cetak
oleh Ibnu Masyis   
Jumat, 07 Februari 2014 14:05 | Tampil : 1724 kali.

Sebelumnya, saya secara pribadi  berterima kasih kepada UKM Kosaster SIIN Unasman yang masih konsisten menggelar hajatan teater ini, walau masih dengan skala pelajar atau SMA. Ketika  digulir pertama kali sekitar tahun 2009, saya sempat mengabadikan acara ini lewat tulisan yang hanya bisa dibaca melalui media online. Pada paragraf-paragraf akhir disitu tertulis harapan agar kiranya Festival Teater Putih Abu-abu (selanjutnya baca: FTPA) tidak berhenti sampai 1-2 kali pelaksanaan, tapi terus diupayakan berjalan selama manusia masih membutuhkan yang namanya ruang refleksi dan perenungan. Masih seingat saya, dalam tulisan lawas itu juga dipenuhi harapan sekiranya semangat berteater bisa dimulai dari situ.

Konsistensi, saya memulai dari kata itu. Tak jauh beda dengan kelompok kesenian lainnya, bisa bertahan sekian tahun saja sudah luar biasa. Apalagi dalam regional sekecil Polewali Mandar, sampai mampu mengagendakan festival teater tahunan dalam kondisi kekurangan secara finansial tentu sangat luar biasa. Dan itu dilakukan oleh sebuah UKM kampus, ini yang fantastis menurut saya. Kegiatan ini tidak akan bertahan sampai hari ini bila tanpa didasari oleh konsistensi pengurusnya sebagai landasan.

Lalu mengapa FTPA layak untuk dibicarakan?

Dari awal pertama kali kegiatan ini sampai edisi kelima pelaksanaannya, sebagai penonton yang intens mengikuti saya menarik kesimpulan bahwa FTPA bukanlah kegiatan seremonial belaka atau kegiatan pemenuh hasrat rapat kerja tahunan sebuah lembaga, melainkan sebuah strategi pengenalan teater. Keseriusan pihak penyelenggara bisa diukur dari kehadiran beberapa tokoh teater Sulbar yang sempat didaulat sebagai tim juri, sebut saja misalnya Asmadi Taro, A’ba Tammalele, Azikin Noer, Chandra, Ramli Rusli dan lain-lain. Saya tidak akan mengatakan bahwa pasca rutin tahunan FTPA, dunia teater seolah-olah membumi, namun memang ada animo yang lahir dan mengstimulasi terbentuknya sanggar-sanggar di sekolah tingkat SMA  untuk tiba pada capaian kreatif bahwa tahun ini dan tahun depan ada festival teater. Tak jauh beda dengan kebanyakan sanggar tari yang sekian bulan menanti lomba tari kreasi pada Festival Budaya Polewali Mandar. Padahal FTPA tidak memiliki biaya pembinaan loh!

festival FTPA Sulbar

Penampilan teater SMA Negeri 2 Majene dalam salah satu kegiatan FTPA (Foto : Ibnu Masyis)

Kemudian FTPA mendesain diri ke arah profesional dengan beberapa pembenahan. Dari hasil evaluasi selama 4 kegiatan yang lalu, akhirnya FTPA tahun ini tidak memungut biaya pendaftaran sekaligus membantah tudingan bahwa panitia hanya mencari untung dari kegiatan ini. Bahkan sejak tahun lalu, panitia malah memfasilitasi pengadaan baliho pertunjukan peserta plus urusan pemasangannya. Inovasi kegiatan juga dapat dibaca ketika tahun lalu FTPA 4 mewajibkan para peserta membawakan naskah yang ditulis oleh warga Sulbar sendiri. Substansi hal teknis seperti ini akan mewujudkan wacana yang sempat bergulir tentang adanya bank naskah lokal. Tak tanggung-tanggung, pihak penyelenggara mendata dan menyambangi para penulis lokal agar menghibahkan naskahnya. Ide tersebut kemudian berkembang pra FTPA 5 tahun ini, selain naskah penulis lokal, naskah pilihan peserta adalah naskah yang belum pernah ikut dilombakan. Ruang pembacaan dan interpretasi terbuka lebar di sini. Tentunya pihak penyelenggara sedang tidak memikirkan kesuksesan acara semata, tetapi bagaimana dunia perteateran kita hidup secara dinamis.

festival teater pelajar sulawesi barat

Salah satu adegan yang ditampilkan oleh  teater SMA Negeri 2 Majene dalam kegiatan FTPA (Foto : Ibnu Masyis)

Jumlah peserta dari tahun ke tahun memang sifatnya fluktuatif. Namun daya magnetik kegiatan ini kurang pas bila hanya dilihat dari angka naik-turun pesertanya. Poin penting yang layak diapresiasi di sini, ternyata ada beberapa sanggar yang rutin atau bertahan mengikuti kegiatan ini antara lain, Sanggar Layonga SMAN 1 dan SMKN 1 keduanya dari Tinambung. Di Polewali ada Teater Pammarica SMAN 1. Wakil dari Wonomulyo tak pernah absen baik dari SMAN 1 maupun SMK YPPP. Perihal jumlah peserta juga kemudian dievaluasi sebagai upaya pematangan kegiatan ini. Sasaran kegiatan diperluas sejak 2 tahun lalu  menjadi skala Sulbar, bukan lagi hanya Polman. Konsekuensi hadirnya peserta dari luar kabupaten sehingga pihak panitia memfasilitasi para peserta ruang penginapan walau tidak mewah.

ftpa sulbar majene sma 2

Salah satu scene dalam teater kegiatan FTPA (Foto : Ibnu Masyis)

Pada perspektif pendidikan teater, logikanya sederhana, dengan mewajibkan peserta baik aktris/ aktor dan semua penata produksi yang terlibat harus dari kalangan pelajar, dengan sendirinya kemandirian diajarkan disitu. Ini tidak jauh beda dengan perkemahan Pramuka, pelatihan PMR, latihan dasar kepemimpinan OSIS. Sehingga saya kadang heran bila ada sekolah yang ketakutan dengan acara ini.

teater ftpa sma 2 majene

Aksi teater SMA Negeri 2 Majene dalam kegiatan FTPA (Foto : Ibnu Masyis)

Dalam ranah kesenian secara luas, output FTPA bisa diasumsikan seperti ini, jika Tinambung (Kota Budaya) adalah referensi atau parameter kesenian di Sulbar, maka saya akan mengambil kesimpulan bahwa salah satu hal mengapa dinamika budaya kesenian bisa bertahan dan tumbuh subur sekian tahun sampai hari ini di Tinambung, karna di Tinambung ada eksistensi Sanggar Layonga. Sanggar-sanggar besar di Tinambung adalah jawaban dari rangkaian sebuah proses. Ekspektasi masa depan teater harus dimulai dari memupuk dan memperkenalkan teater sejak dini. Itulah FTPA: cerminan masa depan perteateran kita di Mandar (baca: Sulbar).

festival teater pelajar mandar

Aksi teater SMA Negeri 2 Majene dalam kegiatan FTPA (Foto : Ibnu Masyis)

Di Polewali, dengan kesadaran di atas, sehingga divisi teater Madatte Arts menjadikan FTPA sebagai agenda jangka panjang tahunan. Lepas dari segala kekurangan pelaksanaanya mulai dari suhu dalam gedung yang panas, tidak adanya dana pembinaan sampai buruknya tropy yang bahkan pernah  dibuat dari kaleng susu. Puncak seadanya hadir pada tropy FTPA 4 yang terbuat dari olahan kayu dengan kualitas yang relatif rendah. Hal ini sempat menuai kritik dari beberapa sekolah yang kurang puas dengan jawaban, “Ini kreatifitas.”

Terinspirasi dari spirit FTPA membuat divisi teater Madatte Arts berinisiatif mendirikan dan membina beberapa sanggar SMA di Polewali. Acuannya tidak saja berkisar tentang kesenian, pengetahuan tentang akar sejarah budaya juga menjadi pertimbangan. Berangkat dari kerjasama sosial beberapa kawan di tahun 2010 Sanggar Terbig SMK Biges dibangun. Sempat berniat masuk ke SMKN 1 Polewali tapi mendapat kendala. Lalu akhir 2013 Sanggar Taqbilowe MAN 2 Polewali didirikan. Sementara ini sedang merancang pendirian Sanggar Seni di SMA 3 Polewali. Dengan harapan semua SMA di Polewali memiliki sanggar seni seperti Teater Pammarica yang sudah bertahan sekian tahun.

Proses kerja teater seperti ini juga tidak luput dari usaha kawan-kawan lain di Tinambung. Melalui seorang Dalif Palipoi Sanggar Todilaling SMK 1 Tinambung didirikan. Sanggar Layongan SMA 1 Tinambung selalu diasuh oleh Sahabuddin Mahganna. Sanggar Sisalili SMA 2 Majene ditangani Abang Ishaq Jenggot dan Rosdiana Tammalele. MAN Tinambung ada Abd. Rahman (mantan ketua Teater Flamboyant). Hendra Djafar sekian tahun merecoki kepala mahasiswa Unasman untuk berkesenian. Apabila upaya seperti ini terus dilakukan, seiring pelaksanaan FTPA tiap tahunnya, maka dunia perteateran kita di Sulbar dan khususnya Polewali Mandar akan jauh lebih maju. Bukankah kita- penonton juga adalah bagian dari pertunjukan teater?

Terlepas dari urusan politik dengan berbagai strategi sekat busuknya, FTPA dengan kampus Unasman-nya (diakui atau tidak) adalah indikator tumbuh-kembangnya dunia perteateran kita, sebagai satu-satunya festival teater tahunan di Sulbar. Sampai jumpa pada pembukaan acara Festival Teater Putih abu-abu (FTPA 5) tanggal 25 Pebruari 2014 di Aula S. Mengga Kampus Unasman.    

Tepi Salu madatte, 5 Februari 2014


Penulis :

muh ibnu masyisMuh. Ibnu Masyis, lahir tidak jauh dari sungai Madatte, Polewali. Saat ini tinggal di Kabupaten Polewali Mandar. Penggiat sejarah Mandar, pemerhati budaya, aktif berkegiatan seni di Sanggar kesenian Madatte Arts dan menjadi pembina di divisi Teater.  Bercita-cita melihat dunia Teater dan Madatte Arts membumi di Mandar, Sulawesi Barat.

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/ibnu.whidya

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017