Online 66 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Artikel Catatan Kecil Pengembangan Wisata Sulawesi Barat

Catatan Kecil Pengembangan Wisata Sulawesi Barat Cetak
oleh Muhammad Rachmat Muchtar   
Minggu, 17 April 2016 11:15 | Tampil : 938 kali.

Kalau kita betul-betul ingin membedah hal pengembangan wisata di Sulawesi Barat. Pengalaman saya melihat Jogja dan Bali pada kondisi ril di lapangan. Katakanlah kalau kita membandingkan soal pesona pantainya (laut, ombak dll) memang tidak jauh ketinggalan, Cuma misal kita melihat pesona pantai Tara Ujung, yang fokus dan dominan bisa kita tawarkan pada wisman dan lokal itu apa? Pasir putihnya?, snorkeling atau diving nya? (melihat kehidupan bawah laut). Karena yang jelas untuk wisata surfing pasti jauh karena ombak disini tidak seperti di Bali terlebih ombak di Mentawai (Nias). dari sisi pengembangan destinasi, Kawasan Strategis Pariwisata untuk wilayah Sul-Bar menasional belum mempunyai atau belum pernah dibuat masterplan-nya secara menyeluruh, mungkin karena betul-betul belum pernah mengkaji secara dasar atau memang secara alami tidak menarik seperti area diving di Raja Ampat, Labuan Baji dan Wakatobi. Dan mereka memang sudah mengembangkan pariwisata berbasis maritim itu puluhan tahun yang lalu.

Kalau hanya Sandeq Race yang sudah beberapa kali diadakan dengan bertujuan meningkatkan kunjungan wisata, sulit diharapkan terlebih pada cara atau metode mengelola suatu event berbasis wisata. Karena event tersebut hanya gaung pada lomba. Ternyata memang tidak gampang & seindah yang kita bayangkan dalam hal kelola potensi satu ini, karena mestinya bukan hanya bertumpu pada satu bidang dinas, yakni pada dinas pariwisata. Tapi kolaborasi dari beberapa dinas terkait misal. Budaya, P.U, tata kota, kesehatan dlsb harus urung rembuk pada satu tujuan pembangunan daerah. Sebab pasti terkait dengan infrastruktur destinasi wisata pendukung seperti hotel, restoran, café, bar, convention hal, mal & sarana transportasi lokal yang komplit, juga termasuk kajian ekowisatanya (advokasi lingkungan).

Untuk itu saya begitu yakin pada pendukung wisata lainnya selain pesona alam yakni atraksi budaya kita yang teramat kaya dan khas, itu modal yang kuat saya lihat. Nah, untuk pesona wisata dataran tinggi, hemat saya juga sangat bisa diandalkan. Ada Mamasa meski agak mirip Toraja tapi beda, Kalumpang dan jejeran dataran tinggi lainnya yang belum kita eksplore oleh aral akses. Saya pikir pembangunan jalan oleh pak Gubernur lewat Mamuju – Mamasa merupakan terobosan mahal untuk dilanjutkan titik olahannya. Dan alokasi dana pembangunan wisata juga mestinya tidak melulu bertumpu pada satu titik destinasi yang sudah ada. Karena alam disini ibarat surga terhampar begitu indah telanjang menantang syahwat untuk investasi.

pantai taraujung

Pantai Taraujung di Kec. Pamboang, pantai yang punya potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata di kab. Majene (Foto : Muh. Thamrin)

Tetapi mengapa tidak ada yang mau total menggelontorkan dana ke? Saya yakin pasti ada orang kaya kita yang mau (sebelum bule-bule mendahului kita seperti pulau Moyo yang ada di Tambora sana yang sudah menjadi kelola mereka) kalau kita/fasilitator membuat masterplan yang jelas. Kemenpar pasti merespon itu. Misalnya, diving spot Karampuang, bagi teman-teman yang sudah merambahnya, lumayan atau tidak? Tak usahlah menyebut Bunaken! Ekowisata hutan mangrove Gonda dan Kalukku sudah siapkah kita promosikan? Kalo misal belum siap kita untuk menjualnya, ya kita permatang  agar nanti betul-betul siap untuk kunjungan agar dampaknya kelak lebih terasa dan tidak seadanya dan sekedar memperlihatkan. Semisal Pulau Gusung Toraja yang ada di Polewali Mandar, sudah mantap belum kajian dan efek ekonominya terhadap masyarakat. Apa saja yang dibangun disana, ada tempat inapnya tidak? Pesona snorkelingnya bagaimana? Air bersihnya seperti apa? Sebab jika hanya bungalow-bungalow yang terbuka, saya pikir bisa-bisa jangka panjangnya akan jadi sepi layaknya kuburan. Mubassir lagi dana pembangunan seperti bangunan kedai kuliner di atas pantai Palippis.

Agaknya bagus koma atau titik dulu  untuk promosi, atau bisa sembari jalan tapi nanggung. Untuk atraksi budaya lumayanlah untuk kita promosikan. Sekali lagi karena baru itu modal yang sungguh-sungguh terlihat. Tinggal packing agendanya saja. Tapi untuk teman-teman atau dari pihak pemerintah yang sudah terlanjur promo hal pesona alam, ya apa boleh buat. Katakanlah poinnya bisa kita dapatkan dari segi pensugestian agar dilirik untuk investasi. Namun bagi para pelancong atau wisatawan bisa kecewa ketika mereka datang melihat langsung dan ternyata tidak sesuai yang kita promokan. Misal seperti poto promo pantai palippis yang sudah sekian tahun beredar, dan ternyata dalam beberapa tahun kini dan kedepan pantai palippis mengalami penyusutan oleh air naiknya air laut. Maka pasti tidak sesuai dengan apa yang kita lihat dulu dan kini ketika berkunjung. Dampaknya disitu. Sangat banyak hal yang amat mendasar untuk hal ini, dan itu kerja kita semua, terlebih pada pemerintah yang bisa mengajukan anggaran untuk itu. Selamat bergerak.


Penulis :

Muhammad Rachmat Muchtar, Seniman, pendiri Uwakeq Culture Foundation, saat ini menetap di kec. Tinambung, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Kontak Saya :

facebook : https://www.facebook.com/muhammad.r.muchtar

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017