Online 19 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Sulapaq Appeq Dalam Perspektif Religi Masyarakat Mandar

Sulapaq Appeq Dalam Perspektif Religi Masyarakat Mandar Cetak
oleh Zulfihadi   
Minggu, 21 Juli 2013 23:39 | Tampil : 3101 kali.

Mandar, sebuah etnis yang mendiami jazirah bagian barat pulau Celebes dan dikenal sebagai salah satu suku yang sangat religius, dalam hal ini sebagai penganut agama islam. Hal ini dapat terlihat dari begitu banyak seni dan kebudayaan Mandar yang mendapat pengaruh agama islam seperti misalnya "Rawana" yang berasal dari kata "rebana" atau sayyang pattuqduq/messawe yang selalu diadakan secara besar-besaran saat bulan maulud. Adapun tentang pembawa agama islam di tanah Mandar pertama kali masih menjadi perdebatan diantara para pakar sejarah, namun yang pasti bahwa masuknya islam di tanah Mandar tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kerajaan Gowa yang telah terlebih dahulu menerima agama islam sebagai agama kerajaan. Hal ini didasarkan pada hasil kesimpulan pengkajian sejarah Departemen Agama  tentang penyebaran Islam di Sulawesi. Menilik adanya sejarah penyebaran agama islam seperti itu, maka tidaklah terlalu membingungkan jika kita melihat adanya persamaan metode dakwah yang dilakukan oleh para ulama penyebar ajaran Islam pada masa awal di Daerah Mandar dengan metode dakwah yang dilakukan di Kerajaan Gowa-Tallo, Kerajaan Bone, Wajo, dan kerajaan lain di daratan Sulawesi yang lebih condong pada metode pendekatan Sufistik atau dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tarekat (mattarekaq/pattarekaq).

Arti dari kata tarekat ini berasal dari bahasa arab yaitu "Thariqoh" yang sesungguhnya mempunyai makna sebagai jalan, namun dalam perkembangannya kemudian oleh masyarakat kita kata tarekat ini disematkan pada ilmu keislaman yang lebih menekankan pada sisi kebatinan. Sehingga dahulu penulis sering bertanya pada teman penulis yang kebetulan bertemu dijalan, “pole inna o luluareq” lalu si teman menjawab “pole bo mi tau mattareka di boyang na andong guru “yanu”. Dimana maksud dari jawaban teman penulis itu maksudnya dia baru saja datang dari rumah seorang guru agama untuk belajar ilmu kebatinan.

Generasi salaf lebih banyak mengajarkan hikmah dan makna-makna keislaman yang bersifat sufistik. Kecenderungan nalar keagamaan yang dikembangkan oleh ulama generasi awal lebih banyak bersifat hakikat. Nalar sufisme menjadi trend dan menarik perhatian masyarakat Mandar. Kisah tentang kesaktian dan karomah yang dimiliki oleh para ulama menjadi berita yang menarik untuk diperbincangkan. Sifat pengajian lebih banyak bersifat tanya-jawab. Oleh karena itu, sistem pengajian tidak banyak menggunakan buku rujukan sebagai acuan. Model pengajian yang dikembangkan lebih banyak bersifat reaksioner terhadap persoalan-persoalan sosial keagamaan terutama dan pendekatan yang digunakan untuk memberi reaksi terhadap persoalan sosial tersebut, lebih banyak menggunakan perspektif sufistik. Dan metode dakwah dengan jalan seperti ini tentu memang pas dengan tradisi asli Mandar yang mirip dengan tradisi masyarakat Nusantara pada umumnya yang mempercayai hal-hal mistik, sebut saja ada yang meyakini bahwa sebuah “gayang” (red; keris) memiliki tuah tertentu, atau ada yang meyakini tentang ilmu kaqbal/ “kebal” begitu pula dengan tentang sejarah hidup Imam Lapeo yang mempunyai beberapa cerita “ajaib”.

Mengkaji tentang ajaran religi didalam suku Mandar yang mendapat pengaruh sufistik dan mendalami persoalan hakikat seperti diterangkan diatas, maka tentu saja kita tidak dapat melepaskan pengkajian kita dari adanya simbol-simbol budaya yang berasal dari masa lalu yang kemudian mendapat pengaruh islami. Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa alam sebagai tempat hidup manusia itu sendiri tidak terlepas dari empat alam yaitu alam ruh, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Dimana secara umum, kalimat untuk menyebut keyakinan budaya yang digunakan sebagai induk dari segala simbolisasi yang dilahirkan kemudian disebut sebagai "Sulapaq Appeq" atau segi empat. Simbol yang berbentuk segi empat ini dapat kita temukan dengan mudah dalam seni ragam corak hampir semua suku yang ada di sulawesi bahkan Nusantara atau bahkan mungkin dunia. Simbol sulapaq appeq sebenarnya berangkat dari keyakinan sarwajagat yaitu hakekat penciptaan diri manusia sebagai makhluk. Beberapa arti ajaran dari simbol sulapaq appeq yang dapat penulis sebutkan diantaranya :
1. Zat pembentuk tubuh
  • Api
  • Angin
  • Air
  • Tanah
2. Keberadaan manusia dalam alam dunia
  • Pemahaman manusia terhadap penciptaan dirinya.
  • Pemahaman hubungan manusia dengan tuhannya.
  • Pemahaman hubungan manusia dengan alam lingkungannya.
  • Pemahaman manusia terhadap pemimpinnya.
3. Shalat/sambayang
  • Berdiri
  • Rukuk
  • Sujud
  • Iqtidal
4. Pembentuk darah sesuai dengan fungsinya.
  • Darah merah untuk menggerakkan tubuh.
  • Darah hitam untuk menguatkan tubuh.
  • Darah putih untuk pertahanan tubuh.
  • Darah kuning untuk memperbaiki/menyembuhkan tubuh pada saat luka.
5. Siklus kehidupan manusia.
  • Lahir
  • Syukuran/ritual/ibadah harian.
  • Perkawinan
  • Kematian
Pada suku Mandar sendiri, oleh kearifan daya fikir leluhurnya maka penggunaan simbol ini sangat erat dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dengan mudah kita temukan pada beberapa seni ragam corak seperti sureq/corak sarung tenun atau kelengkapan ritual perkawinan seperti balasuji.

Namun untuk tulisan kali ini, penulis hanya akan membahas "sulapaq appeq" yang disimbolkan dengan sokkol dan balasuji. Namun sebelumnya, akan lebih bijak rasanya sekiranya kita mau membuka fikiran dan wawasan yang seluas-luasnya sebelum menjatuhkan vonis. Sebab membahas sokkol dan balasuji dalam perspektif keagamaan seringkali dibenturkan dengan syariat yang kaku sehingga dengan mudahnya status bid’ah dan tahyul begitu mudah kita sematkan pada tradisi yang satu ini. Makanya pada awal tulisan ini penulis menjelaskan bahwa ajaran sufistik yang menjadi metode dakwah awal penyebaran islam di jazirah Mandar lebih menekankan pada pendalaman hakikat.

Sokkol Patanrupa (ketan empat warna)
Dalam setiap ritual/syukuran (mambaca-baca) didalam komunitas suku Mandar, tidak sempurna rasanya tanpa adanya sajian sokkol (ketan) yang terkadang diberi warna yaitu hitam, putih, kuning dan merah (khusus untuk warna putih dan hitam, sesuai warna aslinya). Dimana keempat warna ini dipercaya mewakili masing-masing untuk putih mewakili unsur air yang membentuk tulang, hitam mewakili unsur kulit dan daging, merah mewakili unsur api yang membentuk darah dan kuning mewakili unsur angin yang membentuk nafas/ruh. Masih ada beberapa pendapat lain tentang pewakilan ini diantaranya api mewakili nafsu, air mewakili kesabaran, angin mewakili cita-cita dan tanah mewakili kasih sayang dan lain-lain sebagaimana telah kami tulis sebelumnya. Lalu terkadang ada yang bertanya, lalu kenapa harus menggunakan sokkol dan kenapa bukan nasi atau yang lainnya?. Menurut penulis, ada beberapa hal sehingga harus menggunakan sokkol yaitu:
  1. Pada jaman dahulu bahkan hingga sekarang, ketan adalah makanan langka dan istimewa sehingga memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras biasa.
  2. Jika dibandingkan dengan nasi, maka daya tahan sokkol lebih baik dan sokkol lebih cepat mengenyangkan perut daripada nasi serta memberikan rasa kenyang yang lebih lama.
  3. Jika dilihat dari kandungan gizi, maka ketan sebagai bahan dasar sokkol memiliki nilai gizi dan anti oksidan lebih baik daripada nasi.
  4. Dari segi penamaan, sokkol memiliki nama yang sangat identik dengan sakkaq = sedekah yang menandakan pelakunya memiliki kemurahan hati. Sukkuq = lengkap, cukup atau sempurna.
  5. Dibanding dengan nasi, sokkol merekat lebih kuat dibanding dengan nasi yang cenderung terhambur. Ini menggambarkan bagaimana sebagai sesama makhluk, maka manusia seharusnya bisa bersatu dan merekatkan silaturrahmi dengan manusia lain tanpa memandang perbedaan.
  6. Dari segi cara pembuatannya yang rumit, tentu memerlukan kesungguhan akan niat untuk mempersembahkan yang terbaik.
Dari keenam point di atas, maka bisa diterima kesimpulan bahwa pelaksanaan syukuran dengan menyajikan sokkol patanrupa diharapkan bisa menjadikan si tuan rumah yang melakukan ritual mambaca-baca tetap memiliki kemurahan hati dan dengan ritual yang didalamnya ada do’a dan harapan itu, diharapkan menjadi pelengkap tercapainya harapan setelah melakukan usaha nyata atau bekerja serta menjadi perekat silaturrahmi sesama manusia.

Sokkol Patanrupa Mandar
Sokkol Patanrupa (Ketan Empat Warna)
Foto : Zulfihadi

Balasuji
Sebuah kearifan lokal yang masih tersisa hingga sekarang adalah juga dengan adanya tradisi pembuatan balasuji yang dibuat untuk upacara-upacara tertentu. Balasuji dibuat dari bahan bambu yang dibelah-belah kemudian dipasang berselang seling hingga membentuk segi empat dan biasanya digunakan sebagai wadah handataran pada upacara perkawinan atau dibuat sebagai pintu gerbang. Dewasa ini pembuatan balasuji masih sering kita dapati pada komunitas masyarakat mandar khususnya dan sulawesi pada umumnya. Namun sayang meski tradisi ini masih banyak kita dapati, namun begitu sedikit orang yang memahami arti dan pesan dari benda ini sebagai pengajaran leluhur kepada generasi penerusnya. Dan melalui tulisan singkat ini, penulis ingin berbagi kepada pembaca yang lain meski tentu saja penulis tidak dapat menjabarkan semua secara keseluruhan mengingat simbol ini begitu sarat makna serta adanya keterbatasan ruang tulis, terlebih kemampuan saya yang masih dalam tahap belajar.

Balasuji dari segi nama berasal dari dua kata yakni bala dan suji. Bala berarti pembatas atau kurungan dan suji berasal dari sebuah kata kuno yang sudah tidak dijumpai lagi saat ini yang berarti suci/agung. Dengan demikian setelah digabung maka balasuji bisa diartikan sebagai pagar yang suci, atau pagar yang memagari sebuah makna hakikat yang suci/agung. Nah jika balasuji adalah sebuah pagar yang agung maka tentu ada sesuatu didalam balsuji itu, lalu apa yang dipagarinya. Apakah sesuatu itu sehingga harus diberi pagar yang suci??.

Balasuji Mandar
Balasuji yang terbuat dari anyaman bambu
Foto : Zulfihadi

Pada balasuji yang berfungsi sebagai wadah hantaran pada acara perkawinan biasanya diisi dengan buah-buahan yang mewakili harapan dari sang mempelai dan keluarga sesuai buah atau tanaman yang dimasukkan. Seperti misalnya tebu sehingga diharapkan keluarga baru itu nantinya memiliki kehidupan yang manis. Kelapa dengan harapan agar keluarga baru tersebut akan mendapat rezeki yang tidak putus seperti halnya kelapa yang berbuah dengan tidak musim dan rasa buahnya gurih, dan begitu pula dengan buah yang lain. Itu pulalah yang menyebabkan sehingga tidak semua jenis buah-buahan dapat dimasukkan kedalam balasuji tersebut seperti buah salak sebab konon nama salak (Mandar, saqlaq identik dengan kata salah atau tidak benar. Kedondong, sebab buah kedondong rasanya asam dan memiliki biji yang berduri. Maka ditakutkan jika kehidupan sang mempelai akan kacau dan saling mencurigai. Sepintas mungkin ini akan dianggap takhyul, namun selayaknya kita tempatkan hal ini sebagai cara untuk menyatakan harapan.

Demikian pula balasuji yang dibentuk sebagai gapura, dimana dipercaya didalam agama islam bahwa semua manusia memiliki fitrah yang suci. Sehingga diharapkan agar semua yang melangkah melalui pintu gerbang memiliki niat dan harapan yang suci pula. Dan kemudian bentuk balasuji yang segi empat memiliki makna disetiap sisinya yaitu bagaimana seorang manusia memahami hakikat penciptaannya sebagai makhluk, bagaimana hubungan seorang manusia sebagai hamba dengan tuhan penciptanya, hubungan manusia dengan alam sekitarnya yang menyediakan segala kebutuhan hidupnya serta yang terakhir bagaimana kita sebagai manusia mampu memahami hakikat diri sebagai pemimpin sekaligus pengikut/pelayan bagi manusia lain. Ini sangat sesuai dengan ajaran islam sebagai ajaran rahmatan lil alamin yaitu habluminallahi dan habluminanaas.

Itulah sekelumit dari sekian banyak warisan budaya leluhur kita terkhusus tentang sokkol patanrupa dan balasuji, juga masih banyak sebenarnya arti dan makna yang terkandung didalam sokkol dan balasuji ini yang bisa digali dan tidak dapat penulis paparkan dalam uraian yang sangat sedikit ini. namun berangkat dari sebuah kekhawatiran pribadi penulis tentang pemahaman kaum muda Mandar yang sepertinya kian punah dan niat tulus untuk tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kebudayaan Mandar. Terlebih lagi setelah melakukan browsing web, penulis tidak mendapati adanya tulisan yang membahas tentang pemahaman Mandar terhadap balasuji dan sokkol, sehingga penulis mencoba berbagi pemahaman dalam segala keterbatasan pengetahuan dan sekali lagi penulis berharap dengan hadirnya tulisan ini bisa semakin memperkaya khazanah pengetahuan kita semua tentang simbol warisan leluhur yang didasari dari sebuah kearifan.

Referensi :
  • Muhammad A. 2007 . Konsep Sufistik dalam Tarekat Naqsyabandiyah pada Masyarakat Mandar Majene.
  • Diskusi grup sosial media seputar tema "Sulapaq Appeq"
  • Wawancara langsung dengan (Ambo Upe Daeng Manessa)
Penulis :
Zulfihadi
Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman  Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

Kontak Saya :
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017