Online 6 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya “Panambe” , Potret Kebersamaan Warga di Dusun Pao-Pao Malunda

“Panambe” , Potret Kebersamaan Warga di Dusun Pao-Pao Malunda Cetak
oleh Administrator   
Jumat, 23 Agustus 2013 10:32 | Tampil : 1167 kali.

Berkunjung ke rumah seorang teman di desa Pao-Pao, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, bagi saya mungkin sudah merupakan ritual setiap tahunnya. Entah mengapa seolah setiap kali liburan lebaran saya selalu punya waktu berkunjung ke dusun ini. Ya, dusun ini memang menawarkan pesona indahnya pesisir pantai dan tebing terjal disisi kiri serta indahnya gunung dan aliran sungai-sunagai kecil di sisi kanan. Siapapun pasti tertarik dengan panorama ini.

Dusun pao-pao, kecamatan Malunda, mungkin berjarak 80-an km dari kota Majene. Sebagian besar daerah ini adalah pesisir pantai dengan garis pantai yang tidak terlalu panjang, dengan hamparan sawah yang masih bisa ditemui yang letaknya tidak jauh dari garis pantai. Sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah dari bertani, berkebun, dan sebagian juga ada yang menggantungkan hidup dari laut sebagai nelayan. Pesisir pantai Pao-Pao Malunda menyediakan sumber daya alam, yang tentu saja banyak, kerang serta ikan mungkin dapat ditemui dengan mudah disini. Walaupun memang dari pandangan mata saya hanya sedikit warga yang menggantungkan hidup dari laut, buktinya kapal nelayan, dan sampan yang terparkir di pantai bisa dihitung jari.

Akhir Desember 2009 lalu saya menginjakkan kaki lagi di dusun ini, dan saat sedang bersantai di teras rumah teman, tidak jauh dari pantai seperti ada keramaian, riuh warga yang sedang bersatu menarik jala, sayapun bertanya, ada apa ini? seorang teman berlari kearah kerumunan warga ini, kemudian menyusul pula teman yang lainnya, tak ingin ketinggalan saya pun turut bergabung. Dan ternyata sekumpulan warga bersatu, bergotong royong menraik jala, dan ini kesempatan yang menarik untuk diabadikan, Ya, kali ini saya melihat sekumpulan warga mungkin sekitar 50-an orang lebih bersatu menjaring ikan dengan menggunakan jala berukuran besar, dimana jala tersebut yang katanya digelar di pagi hari lalu siang harinya ditarik dengan menggunakan dua sisi (kiri dan kanan) secara bersamaan oleh beberapa orang dengan menggunakan satu buah kapal motor sebagai ujung dimana jala akan berakhir ditarik.

Panambe di Malunda

Kaum pria sedang menarik jala dari atas perahu motor

Para anak muda dan bapak-bapak yang masih kuat berada diatas kapal motor menarik jala, kemudian dibantu anak muda lainnya disisi kiri dan kanan, lalu dari arah laut juga terdapat para bapak-bapak yang mendorong dan mengarahkan jala tersebut diatas perahu-kecil, mungkin terdapat kurang lebih 3 atau 4 buah perahu kecil (sampan) yang seolah-olah menghalau ikan untuk bergerak ke bibir pantai. Para ibu dan anak-anak berebutan mengambil ikan yang melompat dari dalam jala.

Warga Menjaring Ikan Di Malunda

Ikan dihalau dari laut lepas kearah bibir pantai dengan perahu kecil (sampan)

Menarik Jala Untuk Panambe

Seorang lelaki paruh baya menarik jala dengan sekuat tenaga

Anak Anak Mendapat Ikan Hasil Panambe

Anak-anak yang sudah mendapatkan ikan hasil dari panambe

 

Maka suara riuh dan ramai tidak terelakkan lagi. Hasil menangkap ikan dengan menggunakan jaring berukuran besar ini lumayan banyak, terlihat jelas ikan yang berlompatan dari dalam jala, yah, walaupun memang ukuran ikannya kecil-kecil. Jaring ini kemudian berakhir ditarik pada sebuah perahu motor. Setelah semua ikan dalam jala dimasukkan ke perahu motor, maka si empunya perahu pun pergi dari posisi yang tadi ke arah dimana perahu akan diparkir di bibir pantai, ternyata yang empunya perahu tidak tinggal di dusun ini, mereka tinggal didusun sebelah. Para ibu,bapak, anak muda, serta anak-anak Pao-Pao yang turut bergabung tadi sudah mendapatkan bagian, karena sudah sedari tadi mereka mengumpulkan ikan segar dari dalam jala. Jadi mereka hanya turut membantu menarik jala, sekalian juga mengambil ikan.

Ikan hasil tangkapan dari panambe


Ini potret kebersamaan orang-orang di dusun Pao-Pao yang sempat saya rekam, potret kearifan budaya persatuan untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama, kemudian mengambil manfaat hanya sebagian dari hasil yang didapatkan dengan kelumrahan atau pengertian imbalan yang diberikan oleh si empunya perahu motor. Sang pemilik perahu motor biasanya adalah orang dengan taraf kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya. Secara tidak langsung hal ini dapat memberikan keuntungan bagi dua pihak, sang pemilik terbantu pekerjaannya dan sama halnya dengan para warga yang ikut membantu juga mendapatkan ikan hasil tangkapan. Suatu simbiosis yang saling menguntungkan.

Sampai akhir prosesi menangkap ikan ini dan perahu motornya pergi saya masih tak tahu, ini namanya apa, lalu kemudian saya bertanya kepada teman yang orang Pao-Pao itu, dan meliau menjawab ini yang disebut “Panambe”, ya, suatu potret kebersamaan orang-orang Pao-Pao yang dibungkus oleh rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam semangat kekeluargaan. Semoga saja “Panambe” masih tetap ada untuk mempertahankan nilai-nilai kultur, agar tak hilang ditelan modernisasi kultur individualisme perkotaan yang sudah sangat mengancam budaya lokal.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017