Online 8 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Misma Anas, Tomalolo Polman 2010, Cinta Budaya Lewat Seni Tari

Misma Anas, Tomalolo Polman 2010, Cinta Budaya Lewat Seni Tari Cetak
oleh Pusvawirna Natalia Muchtar   
Kamis, 29 Agustus 2013 10:48 | Tampil : 3242 kali.

Misma Anas, pemenang pemilihan tomakappaq-tomalolo kabupaten Polewali Mandar tahun 2010 di kategori "tomalolo" adalah contoh insan muda daerah yang memiliki cara sendiri melestarikan budaya daerah. Ia mengapresiasi kecintaannya lewat dunia tari, dunia yang telah menjadi kesukaannya sejak kecil. Semenjak masih berusia kanak-kanak telah bercita-cita mendalami dunia ini, namun kemudian baru dapat tersalurkan ketika ia beranjak duduk di  tingkat SMA. Dunia ini kemudian yang mengantarkannya ke Jakarta, mengikuti "Pawai Budaya Nusantara 2013" dan bergabung dalam kontingen utusan pemerintah provinsi Sulawesi Barat. Misma berada dalam formasi penari "Pattuqduq" yang menarikan tari ini dengan kelompok tari binaan pemerintah kabupaten Polewali Mandar.

misma anas pawai budaya nusantara 2013

Dalam formasi penari pattuqduq saat "Pawai Budaya Nusantara 2013" di Jakarta (Foto : Misma Anas)

Tidak heran kemudian jika dengan mudah beberapa tahun yang lalu ia menyabet gelar juara "Tomalolo Polewali Mandar" pada 22 Desember 2010. Kelihaiannya dalam menari sangat membantu dalam prosesi kemenangannya.  Ia menjadi orang ketujuh sebagai "Tomalolo" semenjak pemilihan ini digelar di Polewali Mandar tahun 2004 lalu, berpasangan dengan "Tomakappaq Polman " Eko Satrio La'lang". Misma saat pemilihan menyisihkan sekitar 25 orang tomalolo dan menasbihkan dirinya sebagai yang terbaik di kategori "tomalolo". Setelah itu ia kemudian mengikuti pemilihan selanjutnya yaitu "Kakaq Kandiq Sulawesi Barat" dan menyabet gelar juara "Runner Up II".

misma anas tomalolo polman 2010

Menjawab pertanyaan juri saat pemilihan Tomalolo Polewali Mandar 2010 (Foto : Misma Anas)

misma anas tomalolo polewali mandar 2010

Saat menerima piala dari Tomalolo Polewali Mandar 2009 (Foto : Misma Anas)

mismma anas kaka kandi sulbar

Saat mengikuti pemilihan Kaka Kandi tingkat provinsi Sulawesi Barat (Foto : Misma Anas)

misma anas runner up 2 kaka kandi sulbar

Menyabet posisi runner up 2 di pemilihan Kaka Kandi tingkat provinsi Sulawesi Barat (Foto : Misma Anas)

Misma yang berasal dari desa Bonde Campalagian ini hidup dalam lingkungan yang kental dengan budaya dan agama. Rumahnya yang berada tepat di belakang Masjid Besar Campalagian Kampung Masigi adalah termasuk dalam kawasan yang punya nilai sejarah Islam sendiri. Di daerah ini menurut catatan sejarah menjadi tempat awal berkembangnya penyebaran Islam. Ditempat ini pula berkembang pengguna bahasa "Koneq-Koneqe" satu jenis bahasa bugis dialek ketujuh yang telah berubah sedemikian rupa dan berasimilasi dengan bahasa Mandar. Bahasa unik yang hanya ditemukan di daerah Campalagian ini menjadi bahasa pengantar Misma Anas, tetapi kemudian induk bahasa umum yang digunakan adalah tetap bahasa Mandar.

Dara cantik yang menyelesaikan pendidikannya di SDN Inpres 036 Bonde, SMP Neg 1 Campalagian, SMA Neg 1 Campalagian ini selain aktif di dunia tari dan sanggar seni juga rutin dalam kegiatan organisasi Pramuka, ATT, IKANDI (Ikatan Kakaq Kandiq) Sulawesi Barat. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas 45.

Menurut dara energik ini "budaya dan seni daerah (Mandar) masih perlu digali dan lebih dieksplorasi, meskipun memang pada realitanya sudah ada beberapa aspek yang mulai dilestarikan, namun masih sebagian kecil". Menurutnya lagi "ada banyak hal yang memprihatinkan soal budaya daerah, diantaranya yaitu budaya "Siriq" yang semakin memudar di kalangan generasi muda saat ini" . Menurut hematnya, "pemerintah dan masyarakat harus mencoba mempertahankan budaya yang telah mulai tergerus itu". Salah satu peran pemerintah yang menurutnya efektif adalah diadakannya pemilihan duta budaya dan wisata di tingkat kabupaten dan provinsi (Sulawesi Barat) untuk memperkenalkan budaya dan wisata daerah secara umum pada masyarakat. Salah satu cara sederhana mencintai dan melestarikan budaya daerah menurutnya adalah "memulainya dari diri sendiri, mengindahkan budaya "siriq", tahu dan menggunakan bahasa lokal (Mandar)".

Sehubungan dengan maraknya budaya luar negatif yang masuk merangsek dan mempengaruhi budaya daerah menurut Misma hal ini cukup memprihatinkan dan banyak memberi pengaruh pada generasi muda, mereka (generasi muda) sebaiknya tidak meninggalkan budaya (daerah) itu sendiri walaupun ada banyak budaya baru yang masuk. Namun kenyataan saat ini banyak kaum muda yang lebih tahu budaya luar diabdningkan dengan budaya lokalnya sendiri.

Penulis :

pusvawirna natalia muchtarPusvawirna Natalia Muchtar, saat ini tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat. Penggemar travelling, seni, dan dunia desain grafis. Menamatkan pendidikan di D3 Manajemen Informatika AIK AKBA Makassar, dan saat ini bekerja sebagai staf karantina pertanian di Dinas Pertanian Pemerintah Provinsi Sulbar.

Kontak Saya :

Email : Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Twitter : https://twitter.com/pusvanadeshiko

Facebook : https://www.facebook.com/pusvawirnanatalia.muchtar

 

Comments 

 
#1 2014-09-25 15:59
Kalau Tomalolo 2014 siapa ??
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017