Online 17 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Gusi, Wadah Air Klasik Dari Mandar Yang Perlahan Ditinggalkan

Gusi, Wadah Air Klasik Dari Mandar Yang Perlahan Ditinggalkan Cetak
oleh Administrator   
Kamis, 05 September 2013 16:42 | Tampil : 1327 kali.

Wadah air yang terbuat dari struktur batu, sudah sangat jarang ditemukan saat ini dan digunakan oleh masyarakat di suku Mandar untuk menampung air. Wadah ini cukup berat dan berbeda dengan wadah air yang terbuat dari tanah liat. Wadah ini disekitar tahun 90-an masih bisa ditemukan dalam jumlah yang minim, dan bisa dipastikan bahwa wadah ini juga semakin langka ditemukan saat ini.

gusi batu mandar

Gusi (wadah penyimpanan air) masyarakat Mandar yang tergolong langka saat ini (Foto : Faisal)

Tidak jelas wadah ini terbuat dari apa, namun kemudian bebannya yang sangat berat sangat kontras jika dibandingkan dengan wadah yang terbuat dari tanah liat. Wadah penyimpanan air yang sejenis dengan bentuk gambar diatas disebut “gusi”. Gusi ini biasa diletakkan di dapur, atau di tanah dekat dengan tangga, dimana dominan rumah-rumah yang dimiliki orang-orang Mandar dahulu adalah rumah panggung, maka “gusi” kemudian menjadi wadah penampungan air yang diletakkan di anak tangga terbawah untuk mencuci kaki sebelum naik ke atas rumah.

Fungsi “gusi” yang diletakkan di dekat anak tangga disini sederhana yaitu sebagai tempat untuk menampung air dan tempat mencuci kaki, terutama untuk masyarakat Mandar yang dahulu sebagian besarnya adalah petani dan para peladang. Aktivitas yang cukup “kotor” di sawah atau di ladang menjadi alasan untuk membersihkan kaki sebelum menginjakkan kaki ke bagian atas rumah yang lebih bersih.

Adapun “gusi” seperti pada gambar yang ada diatas lebih banyak ditemukan sebagai wadah penyimpanan air utama yang sifatnya “permanen” dan tak bisa digerakkan, cenderung statis dan fungsinya penting untuk menyimpan air yang akan dikonsumsi. Orang-orang Mandar dahulu memiliki kecenderungan memiliki satu wadah penampungan air utama yang akan dijadikan sebagai air yang ditanak untuk dididihkan. Media penyimpanan air ini diletakkan didapur dengan posisi biasanya dekat dengan tempat memasak nasi, dimana air dari “gusi” ini digunakan untuk menanak air dan untuk menanak nasi, singkatnya ia berfungsi sebagai media penyimpanan utama air bersih untuk keperluan dikonsumsi sehari-hari.

“Gusi” yang serupa batu ini cenderung menyimpan air menjadi lebih dingin sepanjang hari. Karena itu jangan heran jika air yang ada dalam “gusi” memang selalu didapati dalam keadaan dingin.

Wadah penyimpanan air ini sebenarnya beragam bentuknya, diwilayah Makassar, Bugis dan Toraja mungkin dikenali beragam nama mulai dari Gumbang, Bempa, dan Busu ketiganya memiliki bahan, bentuk, fungsi dan struktur bangun yang berbeda.  Pada masyarakat Mandar “gusi” juga kadang digunakan sebagai wadah untuk menyimpan air untuk keperluan mengambil air untuk bersuci “wudhu”, ini adalah gusi yang memang dihadirkan khusus untuk keperluan bersuci. Di bagian dasarnya terlihat lubang kecil dengan sumbat yang biasa terbuat dari bahan sandal jepit bekas atau mungkin dari bahan “gamo” yang telah dibuat sedemikian rupa.  Gusi untuk keperluan ini juga banyak ditemukan di rumah para guru mengaji di kampong-kampung Mandar puluhan tahun yang lalu. Dimana kebiasaan atau kewajiban seorang murid yang sedang mengaji pada seorang guru adalah dengan mengisi “gusi” agar penuh dengan air sebelum mengikuti pengajaran baca Al Qur’an dari guru mereka.

Sederhanya “gusi” menjadi wadah penyimpanan air untuk berbagai macam kebutuhan pada saat itu dimana ia sangat sentral fungsinya, disaat belum ada pipa-pipa saluran air dari Perusaahan Daerah Air Minum yang masuk melalui keran-keran canggih. Dewasa ini penggunaan “gusi” mulai ditinggalkan dengan alasan kemudahan dan kepraktisan. Orang-orang kini lebih memilih wadah plastik yang ringan dan berukuran besar,serta dapat dipindahkan dengan mudah dibandingkan dengan “gusi” yang cenderung berat dan tidak mudah untuk dipindahkan, belum lagi resiko pecah yang dimiliki oleh “gusi” yang terbuat dari tanah liat.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017