Online 3 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Cara Seorang Andi Depu Melestarikan Budaya Dan Tradisi Mandar

Cara Seorang Andi Depu Melestarikan Budaya Dan Tradisi Mandar Cetak
oleh Administrator   
Senin, 07 Oktober 2013 10:11 | Tampil : 1944 kali.

Siapa yang tidak kenal dengan Andi Depu, satu-satunya Arajang wanita yang pernah memerintah kerajaan Balanipa, kerajaan yang menempati posisi puncak dalam konfederasi kelompok kerajaan Pitu Baqbana Binanga di wilayah yang dihuni sebagian besar oleh etnis Mandar. Andi Depu yang merupakan putri dari H. Laju Kanna I Doro, Arajang Balanipa ke 50 bergelar (Tomatindo Di Juddah) serta seorang istri dari Andi Baso Pawiseang, putra dari bangsawan tinggi Pallabuang. Ia putri raja yang tumbuh dalam lingkungan istana yang kental dengan budaya dan tradisi.

andi depu

Andi Depu, Arajang Balanipa Ke-52

Sebagaimana diketahui lingkungan istana kerajaan Balanipa adalah pusat budaya, dan tradisi khas Mandar yang telah dibangun beberapa lama. Di lingkungan ini berkembang nilai tradisi yang diungkapkan oleh kata-kata :

“Natamaq di Balanipa maindang kero-kero Puang”

Dari kata ini tercermin bahwa Balanipa lah yang menjadi cermin dari sikap kesopanan dan tradisi yang kental. Hal ini tidak kemudian menepikan kerajaan-kerajaan lainnya yang ada di dalam wilayah Mandar, namun sejarah panjang awal mula kerajaan dan peletakan hukum-hukum adat tidak akan terlepas dari “Balanipa”. Karena itu wajar jika Balanipa menjadi kiblat dalam adat istiadat dan tradisi di wilayah Mandar.

Andi Depu sebagai seorang Arajang Balanipa pada masanya berada di puncak setiap gerakan adat istiadat dan tradisi Mandar. Sebagai seorang raja ia memiliki tanggung jawab menghadiri beberapa ritual adat dan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat. Dan ia punya cara tersendiri yang cukup unik dalam usaha melestarikan tradisi secara lebih adil. Hal ini terlihat dari bagaimana cara Andi Depu memberikan sikap pada ritual adat Pelattigiang (pemberian restu). Momen tradisi pelattigiang biasa kita temukan pada ritual perkawinan, pemberian restu ini kadang menghadirkan raja (Maraqdia) setempat pada urutan pertama dalam ritual pemberian daun pacar.

Jika seorang Andi Depu diundang untuk menghadiri acara pelattigiang maka sebelumnya ia akan memperhatikan status ekonomi orang yang mengundangnya, jika kemudian yang mengundangnya dianggap tidak mampu secara ekonomi dan sangat memerlukan kehadirannya maka ia akan berusaha hadir. Dan sebelumnya ia akan berpesan “ Jangan jemput saya dan jangan antar saya, Insya Allah saya akan datang sendiri”. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan-kegiatan adat, tradisi, dan budaya Mandar tetap lestari. Karena jika dengan alasan ekonomi suatu acara tidak dihadiri maka secara perlahan akan membuat tradisi itu menjadi hilang dan tidak lagi dilakukan. Tetapi jika orang yang mengundangnya secara ekonomi adalah keluarga yang terbilang mampu maka ia akan menunggu untuk dijemput (Ahmad Asdy, 2002)

Bisa dikatakan adat tradisi dan budaya Mandar dipastikan lestari pada masa Andi Depua dengan sikapnya yang seperti itu, ada pertimbangan adil terhadap sikap menghadiri ritual adat yang kemudian disesuaikan dengan latar belakang ekonomi, tanpa memperhatikan dari latar belakang status sosial mana keluarga tersebut. Potret sikap sederhana yang diberikan seorang Andi Depu dalam melestarikan budaya dan tradisi Mandar.

Kebiasaan menghadirkan seorang raja (Maraqdia) pada ritual pelattigiang memang dikenal di daerah Mandar. Seorang raja dihadirkan untuk memberikan restu dengan urutan pertama memberikan lattigi berikutnya kemudian disusul oleh para bangsawan, dan berurut pada tingkat stratifikasi sosialnya. Dari cara Andi Depu diatas, seorang raja (maraqdia) dihadirkan dengan dijemput dan lalu diantar kembali (jika berasal keluarga mampu) dan jika tidak mampu maka seorang raja akan datang dan pulang dengan sendirinya. Namun, perlahan dengan dihapuskannya sistem kerajaan dan tidak lestarinya struktur kerajaan yang ada saat ini di wilayah Mandar maka kebiasaan menghadirkan raja (maraqdia) saat ini telah jarang ditemukan, walaupun masih terdapat beberapa orang yang masih melakukan tradisi ini.

Referensi :

  • Asdy, A. (2002). Mengenang Srikandi Dari Jazirah Tipalayo (Tommuanena Balanipa). Polewali Mandar : Yayasan Mahaputra Mandar (p. 61-62)
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017