Online 18 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Catatan Singkat Dari Lomba Pembuatan Keris Di Desa Pamboborang, Majene

Catatan Singkat Dari Lomba Pembuatan Keris Di Desa Pamboborang, Majene Cetak
oleh Zulfihadi   
Selasa, 31 Desember 2013 15:28 | Tampil : 2895 kali.

Dalam rangka syukuran perkawinan putera seorang tokoh masyarakat desa Pamboborang, kelurahan Baru, kecamatan Banggae, kab. Majene maka desa ini melaksanakan sebuah lomba yang cukup unik yaitu lomba pembuatan keris. Pamboborang memang sudah lama dikenal sebagai sentra pembuatan senjata logam seperti keris, badik, tombak ataupun juga peralatan pertanian seperti sabit, parang dan sebagainya. Berbekal sebuah pertanyaan yang selalu mengganjal di benak saya tentang nama seni pengetahuan tentang senjata tajam di Mandar, saya berusaha hadir dan berinteraksi langsung dengan para pandai besi di desa itu. Untuk kali ini karena lombanya adalah pembuatan keris, maka sedikit akan kita kupas tentang keris.

Dalam lomba ini, panitia membekali peserta (terdiri dari satu tim pandai besi) dengan besi baja seberat 500 gram atau ½ kg. Besi itulah yang harus ditempa dan diolah menjadi sebuah keris berlekuk dengan panjang 30 Cm atau lebih namun tak boleh kurang dari 30 Cm, dan bahan logam yang disediakan tersebut tidak boleh ditambah atau dicampur dengan logam lain dan harus selesai dalam waktu sehari.

Dalam proses pembuatan keris oleh peserta, logam awalnya dipanaskan dan ditempa hingga berbentuk keris kasar. Proses penempaannya dilakukan dengan teknik khusus agar bisa membentuk urat besi yang akan menjadi motif “alami” pada bagian bilah, serta pem”baraq”an. Setelah terbentuk, keris kemudian dihaluskan dengan gerinda atau kikir, dalam proses penghalusan ini pula kemudian ditambah dengan memberikan ukiran, “kanuku”, "tumbaq layar", serta pemasangan “kancingan” yg dibuat terpisah dengan keris.

bagian pangkal keris mandar

Bagian pangkal keris Mandar saat penghalusan (Foto : Zulfihadi)

Setelah proses penghalusan selesai, keris tersebut kemudian direndam beberapa lama dalam larutan asam. Perendaman atau dikenal dengan istilah “mattombang” ini berfungsi untuk menonjolkan urat besi yang telah terbentuk dari proses penempaan tadi. Perendaman dengan cairan asam ini tidak boleh terlalu lama sebab justru bisa merusak bilah keris.

larutan asam untuk mattombang keris mandar

Larutan asam yang digunakan untuk proses "mattombang" (Foto : Zulfihadi)

mattombang merendam keris mandar dalam larutan asam

Mattombang, proses perendaman keris dalam larutan asam (Foto : Fahmira Ahmad)

Sebagaimana di daerah lain, di Mandar juga dikenal dua jenis keris atau gayang yaitu "gayang lekkong (keris luk) dan sapukala (keris yang bentuknya lurus). Mengenai kedua jenis keris ini, ada "ussul" yang sempat kami dengar dari warga di sana bahwa gayang lekkong (keris luk) cocoknya untuk mereka yang memiliki rambut ikal atau keriting. Sedang sapukala cocoknya untuk mereka yang berambut lurus. Namun tak ada keterangan yang saya dapati mengapa mesti seperti itu.

Menurut salah seorang pandai besi yang ikut menjadi peserta dalam lomba ini, bahwa hasil keris yang dilombakan sebenarnya jauh dari hasil sempurna yang bisa dilakukan. Ini terjadi karena kurangnya bahan yang disediakan oleh panitia sehingga pandai besi tidak bisa melakukan penempaan dengan teknik lipat untuk menghasilkan urat besi yang lebih indah. Menurutnya, untuk membuat keris dengan kualitas baik setidaknya dibutuhkan logam baja seberat 2 Kg. serta sempitnya waktu pembuatan. Masih menurut beliau, bahwa para pandai besi jaman dahulu tidak menggunakan cairan asam kimia untuk “mattombang” keris, namun menggunakan cairan asam alami yang berasal dari air perasan jeruk nipis sehingga proses “mattombangnya”pun memakan waktu hingga berbulan-bulan.

keris mandar gayang lekkong dan sapukala

Foto penulis memegang gayang lekkong dan sapukala bersama panitia lomba pembuatan keris (Foto : Fahmira Ahmad)

Untuk lebih memudahkan mengenali seperti apa bagian-bagian keris secara lebih detail, ada beberapa istilah untuk bagian-bagian keris yang ada di Mandar yaitu sebagai berikut:
1. Parewa : meliputi kelengkapan keris dari guma dan pulu.
2. Guma : sarung keris / warangka.
3. Pulu : gagang keris
4. Kancingan : bagian yang terdapat diantara pangkal keris dengan gagang.
5. Kanuku  : bagian pangkal keris yang dibuat melengkung
6. Tumba layar : ornamen yang dipahatkan pada bagian pangkal keris.
7. Uraq bassi : alur-alur besi yang muncul dipermukaan bilah keris karena proses penempaan.
8. Pammor : guratan terang pada bilah senjata dari logam yang muncul akibat pencampuran dua atau lebih material logam yang berbeda.
9. Baraq : proses pembajaan pada senjata. Biasanya kadar baja pada bagian tepi yang tajam lebih  tinggi dari pada bagian tengah, sehingga bagian sisi yang tajam lebih keras.
10. Mattombang : proses perendaman dengan cairan asam untuk membersihkan karat dan menonjolkan urat besi.
11. Ati : bagian keris yang masuk ke dalam pulu, agar pulu dan keris menyatu.

nama bagian keris mandar

Nama bagian keris Mandar (Foto : Zulfihadi)

Lomba pelestarian budaya Mandar  di atas merupakan salah satu langkah melestarikan budaya pembuatan senjata tajam tradisional yang menjadi ciri khas desa Pamboborang. Di lain sisi budaya pembuatan teknik senjata tajam tradisional hari ini harus berhadapan dengan bentuk-bentuk inovasi senjata tajam baru yang dibuat dengan lebih modern. Semoga budaya membuat keris (gayang) dengan metode tradisional dapat lestari dan masih dapat kita lihat.


Penulis :
Zulfihadi
Zulfihadi, saat ini menetap di Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman  Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

Kontak Saya :

facebook :  https://www.facebook.com/zul.elang.biru

blog : http://zulfihadi-bugis-mandar.blogspot.com/

 

Comments 

 
#1 2014-01-02 03:05
mantap tulisannya (y)
btw, sekedar berbagi. yang saya tahu membersihkan bilah besi (tombang/tompang) menggunakan zat kimiawi (air aki H2SO4) merusak pori2 bilah besi, walau waktu singkat...apabila waktu lama, maka kerusakan pori2 lebih besar dan lebih kentara. memang lebih baik yang alami, perasan air jeruk...tabe
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017