Online 9 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Pikelluq, Menengok Dapur Mandar (Bagian I)

Pikelluq, Menengok Dapur Mandar (Bagian I) Cetak
oleh Muh. Ibnu Masyis   
Kamis, 16 Januari 2014 21:31 | Tampil : 1648 kali.

Bagi orang Mandar pada umumnya, pikelluq mungkin bukan hal asing dan malah sangat mudah ditemukan di dapur. Pikelluq  adalah salah satu peralatan dapur tradisional Mandar yang biasa dimaknai sebagai alat memarut buah kelapa dengan fungsi sesuai makna katanya.

Alat ini terbuat dari kayu  dengan model dan bentuk yang agak beragam, tetapi pada umumnya khas menyerupai buaya atau biawak dan sejenisnya. Belakangan bentuk modifikasi pikelluq dirancang dengan mengabaikan bentuk khas binatang tadi. Salah satu bentuk modifikasinya antara lain pikelluq dari Majene, dibuat seperti kotak persegi panjang dengan sisi/ bagian tertentu dari pikelluq dapat dilipat atau diselipkan ke sisi dalam/ ruang kotak.

pikelluq mandar modifikasi

Modifikasi pikelluq Mandar berbentuk kotak persegi panjang (Foto : Muh. Ibnu Masyis)

pikelluq mandar modern

Modifikasi pikelluq Mandar yang memungkinkannya untuk dilipat (Foto : Muh. Ibnu Masyis)

modifikasi pikelluq mandar

Modifikasi baru pikelluq Mandar berbentuk persegi dari Majene (Foto : Muh. Ibnu Masyis)

Cara penggunaan pikelluq biasa dilakukan dengan cara duduk menunggang di atasnya. Secara spesifik, bagian pikelluq dapat diklasifikasikan antara lain: bagian kaki terdiri atas 2, kaki depan dan kaki belakang. Kaki depan biasa lebih tinggi dibandingkan kaki belakang; selanjutnya bagian ekor dengan panjang berkisar 10-15 cm dengan lebar agak kecil; adapun bagian punggung, panjangnya kira-kira mampu menampung tubuh 2 orang dewasa dalam posisi berboncengan dan lebar sesuai kebutuhan untuk posisi duduk. Posisi punggung pikelluq berada tepat di antara posisi 2 kaki yang menopang pikelluq dari bawah; dan terakhir adalah bagian kepala atau moncong. Kepala pikelluq mudah saja dibedakan dengan ekor walau keduanya sama-sama memanjang dengan lebar yang agak kecil dari badan atau punggung pikelluq, tetapi posisi kepala lebih mendongak ke atas dan di ujungnya terdapat besi pipih berbentuk lingkaran bergerigi dengan pangkal yang agak memanjang seperti jari telunjuk untuk menghubungkan besi pipih tadi dengan kayu pikelluq.

pikelluq mandar

Bentuk pikelluq Mandar yang menyerupai bentuk hewan (Foto : Muh. Ibnu Masyis)

Cara memarut atau makkelluq juga tidak terlalu sulit. Cukup dengan menyediakan wadah, biasanya baki, tepat di bawah besi pipih parut tadi, lalu buah kelapa yang sebelumnya telah dibelah menjadi 2 bagian,  digosok secara vertical di lidah atau besi parut. Dengan teknik tertentu, sebisanya isi kelapa tidak terpisah dengan tempurung. Seperti yang disebutkan di atas,  posisi makkelluq yang menunggang, fantasinya tentu seperti sedang menunggang kuda dengan menghasilkan bunyi khas dari parutan demi parutannya. Bahkan bila makkelluq dilakukan oleh 2-4 orang, biasanya bila ada hajatan, akan menghasilkan bunyi yang menarik sekaligus bising.

Walaupun pikelluq adalah peralatan dapur, tetapi pria di Mandar juga banyak yang pandai makkelluq. Saya pribadi malah sering menggerutu bila diminta untuk makkelluq oleh ibu saya. “Bawa mi ke pabrik ini kelapa ma’ ee,” begitu kata  saya. Tapi ibu saya juga selalu memiliki jawaban, “Lebih banyak santannya kalau dikelluqi.” Dan itu artinya, saya harus siap keringatan plus pinggul ke atas agak lelah karena posisi tubuh dituntut agak menunduk dan tentu saja tulang belakang ditekan untuk membungkuk.

Sadar atau tidak, remeh temeh seperti ini juga bagian dari produk kebudayaan. Berangkat dari dapur, rumah yang sifatnya privat mungkin tradisi bisa dimulai atau menjadi benteng tradisi. Kenapa saya menulis tentang pikelluq?

Sama dengan perkakas dapur tradisional Mandar lainnya (dibahas terpisah), pikelluq keberadaannya bukan sekedar benda mati, yang sekedar dimanfaatkan sesuai fungsi formilnya dan selesai setelah hasil racikan atau penganan siap disajikan. Melainkan  pikelluq juga memiliki roh yang mengemban tugas mistik, sebagai media penghubung antara kosmis, manusia dan hal-hal metafisik. Sebutlah misalnya ketika angin bersama badai datang, tak jarang para ibu atau orang tua di Mandar langsung bergegas mengambil pikelluq saktinya dan menaruhnya tepat menghadap ke  pintu dari dalam rumah. Kalau angin masih kencang, barulah adzan penangkisnya.

Pada konteks yang berbeda, mungkin ada yang berasumsi bahwa bentuk pikelluq kebetulan saja dan memang lebih efektif didesain menyerupai buaya atau biawak. Tapi bila ditelisik lebih jauh, memang dalam kondisi tertentu, pikelluq memiliki hubungan erat dengan air atau sungai, selain dari segi bentuk fisiknya. Dipercaya, bila kita duduk di atas pikelluq atau sembari makkelluq, sangat dipemaliangi atau pantang sambil makan atau mengunyah makanan. Konsekuensi bila pantangan ini dilanggar, kita terancam akan diterkam atau dimakan buaya. Saya pribadi sedang tidak membangun hubungan logis sebagai pembenaran. Paling tidak, hubungan antara bentuk dan mitos ini dapat dijadikan acuan bahwa model pikelluq yang menyerupai buaya bukanlah hal yang kebetulan.

Secara sederhana, etika dan pantangan bila sedang makkelluq adalah jangan makan di atas pikelluq. Mudah memang untuk mendesain upaya pencegahan setelah melanggar pantangan di atas, dengan tidak mau turun ke sungai sementara waktu misalnya, atau rumah kita jauh dari sungai. Persoalannya kemudian, buaya murka yang merasa tertantang ini konon bisa berubah wujud. Bahkan diyakini mampu menjemput sendiri pelaku tak senonoh dalam kasus makkelluq tadi dimanapun berada. Jadi konsep idealnya, Pamali sejatinya adalah tata tertib.

Relevansi antara dapur mandar dan sungai dari contoh kasus di atas kelihatannya memang memiliki hubungan yang erat.  Sebab selain pikelluq, perkakas dapur lain semisal Sipiq  dan balenga juga memiliki etika dalam penggunaannya yang bila dilanggar juga akan berhadapan dengan buaya Mandar jadi-jadian. Apa lagi santer di masyarakat, banyak kasus korban yang diterkam buaya di Mandar kebanyakan (relatif) terjadi bukan dari hubungan sebab akibat antara bertemunya pemangsa lapar dan dimangsa muncul tepat waktu.

Lalu kemudian ada istilah ‘Tomappissawei pikelluqna’ yang dalam teks ini pikkelluq dikonotasikan sebagai batua atau golongan budak dalam strata sosial Mandar. Lalu Todilaling raja Balanipa I pernah berucap, “Da meloq diarakke rapang kanene yang walau ditakuti tetapi selalu diniatkan untuk dibunuh,” sampai pada kalimat, “Towaine apa riqo bassao, mau makkelluq andang toi naissang.” Kesemua hal di atas menunjukkan eksistensi pikelluq sebagai produk kebudayaan dengan keberadaan yang tidak semata dimaknai secara lahiriah saja. Sehingga hubungan emosional dan ketergantungan terhadap benda tersebut memiliki nilai bagi masyarakat penggunanya.

Lalu jika dapur kita sudah tidak menyisakan tempat untuk pikelluq akibat maraknya parut modern, perempuan kita malah lucu mendengar kata pikelluq, dan tertib pemali yang terkandung di dalamnya terbantahkan oleh paparan agama yang siap memvonis haram dan bid’ah serta tahayyul, maka 3 koleksi pikelluq milik ibu saya cepat atau lambat akan dimuseumkan.


Penulis :

muh ibnu masyisMuh. Ibnu Masyis, lahir tidak jauh dari sungai Madatte Polewali . Saat ini tinggal di Kabupaten Polewali Mandar. Aktif berkegiatan seni di Sanggar kesenian Madatte Arts dan bercita-cita melihat Madatte Arts masih eksis puluhan tahun ke depan. Tekun menyimak diskusi online yang intens di Grup Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR)

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/ibnu.whidya

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017