Online 17 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Konten Budaya Patung Panetteq Di Kota Makassar Dan Sarung Sutera Mandar

Konten Budaya Patung Panetteq Di Kota Makassar Dan Sarung Sutera Mandar Cetak
oleh Administrator   
Rabu, 05 Februari 2014 08:31 | Tampil : 1726 kali.

Semenjak suku Mandar memisahkan diri dari wilayah Sulawesi Selatan dengan membentuk provinsi baru, Sulawesi Barat pada tahun 2004, kelompok suku besar ini ternyata masih dianggap sebagai bagian besar dari keluarga Sulawesi Selatan. Puluhan tahun keempat komunitas suku besar dahulu, yaitu Makassar, Bugis, Mandar serta Toraja ini berinteraksi dalam satu provinsi Sulawesi Selatan dengan luasan wilayah yang cukup besar membentang dari wilayah utara ke selatan. Jika anda melihat wilayah Sulawesi Selatan saat Sulawesi Barat belum terpisah maka daerah Sulsel menguasai kaki huruf “K”  pulau Sulawesi.

Suku Mandar yang dominan menghuni wilayah provinsi Sulawesi Barat semenjak terpisah ternyata masih dianggap sebagai bagian keluarga di Sulawesi Selatan. Salah satu bukti nyata yang dapat disaksikan di Kota Makassar tepat di kawasan Pantai Losari adalah dibangunnya anjungan Mandar-Toraja yang terletak mengapit anjungan Pantai Losari bersama anjungan Bugis-Makassar. Salah satu konten budaya Mandar yang dapat ditemukan di kawasan ini adalah setidaknya merujuk pada empat benda pertama tulisan Mandar yang berukuran besar dengan tinggi sekitar 1,5 -2 meter, kedua patung seorang wanita tua yang sedang menenun (manetteq) sutera “saqbe Mandar”, ketiga seorang penari yang menggunakan kostum adat, serta keempat rumah adat Mamasa yang bentuk cungkupnya mirip dengan rumah adat Toraja.

patung panetteq mandar losari

Patung panetteq di anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari Makassar

Menarik melihat konten budaya Mandar ini di “Kota Daeng”, walaupun wilayah Sulawesi Barat cukup jauh dari Sulawesi Selatan namun anda masih dapat menikmati potret budaya ini di kawasan Pantai Losari, karena konten budaya dalam wujud patung “replika” berukuran raksasa ini cukup jarang ditemui, pun itu di wilayah Mandar sendiri.

patung panetteq anjungan losari

Patung panetteq yang sedang melakukan aktivitas merapatkan benang sutera di anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari Makassar

Salah satu yang cukup unik adalah sebuah patung berukuran raksasa yaitu seorang wanita tua yang sedang melakukan proses “manetteq” atau menenun. Patung yang berukuran tidak biasa ini berada di sisi kiri anjungan Mandar dengan dimensi sekitar 1,5-2 meter dibuat dengan struktur yang cukup detail  dan menggambarkan salah satu proses menenun saat merapatkan helaian benang menjadi rapat dengan alat penenun.

tenun mandar di pantai losari

Detail alat tenun Mandar yang terdapat pada Patung panetteq di anjungan Mandar Pantai Losari Makassar

patung penenun mandar losari

Patung panetteq di anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari Makassar berlatar suasana sore

patung panetteq mandar

Patung seorang wanita tua yang sedang menenun saqbe (sutera) di anjungan Mandar Pantai Losari Makassar

Menenun sutera atau “manetteq saqbe” di Mandar merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh kaum wanita, mulai dari usia gadis, remaja, hinga wanita dewasa untuk membuat sebuah sarung sutera. Di komunitas nelayan menenun sarung sutera merupakan kegiatan yang dilakukan oleh istri para nelayan saat suami mereka berlayar, potret budaya “sibali parriq” atau senasib sepenanggungan yang dimiliki oleh suku ini. Kegiatan menenun dalam posisi ini sedikit mampu menambah alternatif penghasilan ekonomi keluarga, sembari sang suami mencari penghidupan di laut dengan menangkap ikan.
Di daerah Mandar sarung sutera dibuat dengan cara memasak benang sutera menggunakan dedaunan (pewarna alami), dicuci bersih kemudian digulung lalu ditenun. Pada umumnya sarung sutera Mandar ini memiliki warna yang tidak cerah dan cenderung gelap. Jenis warna yang dihasilkan misalnya warna hitam, merah tua, serta coklat tua.  Warna ini dipengaruhi oleh penggunaan pewarna yang dimasak bersama dengan benang, karena itu ia tidak mudah luntur. (Sewang, 2001)

Jika merujuk pada sejarah sarung sutera tenun Mandar, dahulu hanyalah digunakan oleh keluarga para raja dan bangsawan. Bahkan kemudian dikatakan jika sarung sutera dapat membedakan status sosial seseorang di masyarakat. Namun seiring dengan perkembangn zaman, sarung sutera tidak hanya terbatas pada kalangan raja dan bangsawan tetapi lebih luas penggunaannya, biasa digunakan untuk  acara-acara yang berhubungan dengan kegiatan budaya misalnya untuk acara pernikahan, khatam  Al Quran, acara-acara adat dan merupakan suatu symbol dan identitas yang menunjukkan kekhasan suku Mandar.

Sarung Sutera memiliki corak ataupun motif yang biasa disebut sebagai “sureq” terdapat dua sureq yang sangat terkenal dan termasuk sureq tradisional, diantaranya yaitu “sureq padzadza” dan “sureq salaka”,tetapi karena tuntutan inovasi maka kemudian saat ini sureq-sureq tersebut berkembang menjadi lebih beragam bentuknya. Terdapat beberapa sureq yang merupakan hasil inovasi (pengembangan) lebih lanjut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bahrum 2008, terdapat kurang lebih 60 nama sureq yang terdapat di Mandar (corak tradisional, pengembangan, dan kontemporer). Nama-nama corak tersebut diantaranya yaitu :

Corak (sureq) Tradisional:
- Corak Salaka
- Corak Padzadza (parara)
- Corak Batu Darima
- Corak Taqbu
- Corak Aroppoq
- Corak Pandeng
- Corak Pangulu
- Corak Puang Lembang
- Corak Benggol
- Corak Jangang-jangang
- Corak Ragiwasa
- Corak Tunggeng
- Corak Loang
- Corak Beruq-beruq
- Corak Bataq Giling
- Corak Giling Kanaiq
- Corak Kaiyyang
- Corak Marica
- Corak Maraqdia

Sureq Perkembangan
- Corak 710
- Corak Karaeng
- Corak Parara alleq bunga
- Corak Saripa
- Corak Salaka Taqbu-taqbu
- Corak Wiranto
- Corak Kucing Garong
- Corak Sandeq
- Corak Sulbar
- Corak Kapala Daerah
- Corak Komandan Kodim

Adapun bagian-bagian alat tenun untuk membuat sarung sutera Mandar diantaranya yaitu pawaloq (untuk penahan benang), kalapa (menyusun dan merapatkan benang), aleq ( memanik atas bawah ), awerang / bambu (pengatur benang atas bawah ) passo ( penggulung hasil jadinya lipaq saqbe). Sementara untuk pembuatannya dilakukan dalam tiga tahapan yaitu mulai dari kalapa ( menyusun benang dan merapatkan ) lalu di masukkan ke pawaloq, pemindahan benang yang telah disusun atau papan depan, kemudian di tetteq atau proses akhir penggabungan benang hingga menjadi sarung Mandar. (Anonim, 2012)

Hasil tenunan sarung sutera Mandar dengan menggunakan metode tradisonal dikenali masyarakat Indonesia hingga akhir abad ke dua puluh, khususnya di Sulawesi karena tenunannya yang halus, dan coraknya mudah dibedakan dari sarung sutera yang dimiliki oleh suku bugis dan suku Makassar.

Referensi :

  1. Anonim. 2012. Lipaq Sabe; Icon Budaya Polman. Diakses dari infopublik.org/read/17408/www.apec2013.or.id (05 Februari 2014)
  2. Bahrum, S. 2008. Tenunan Tradisional Tenunan Mandar Sulawesi Barat. Diakses dari http://baruga2004.blogspot.com/2008/11/tenunan-tradisional-tenunan-mandar_25.html (05 Februari 2014)
  3. Sewang, A. 2001. Entografi Budaya Masyarakat Mandar. Sosialisasi Siriq pada Masyarakat Mandar. Yayasan Maha Putra Mandar
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017