Online 19 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Lokasi Mencuci Berjamaah, Sisi Lain Limbong Sitodo

Lokasi Mencuci Berjamaah, Sisi Lain Limbong Sitodo Cetak
oleh Ibnu Masyis   
Senin, 18 Agustus 2014 16:54 | Tampil : 1065 kali.

Saya tidak akan mengatakan bahwa membincang tempat wisata yang terletak di Kec. Anreapi ini tidak penting. Hanya saja Limbong Sitodo dalam skala lokal sudah sangat terkenal. Bahkan diabadikan dalam sebuah lagu yang dinyanyikan Irbad Kaimuddin. Tentang hal ini saya hanya ingin mengatakan 2 hal. Pertama, seperti aset wisata lain di wilayah ini: daya tariknya hanya bersifat sementara. Sebutlah misalnya Dato, Palippis, yang diawal tenarnya sangat ramai pengunjung. Semua orang tahu, Pantai Palippis di masa jayanya dapat membuat macet dengan antrian kendaraan sangat panjang. Kehilangan pesona juga sedang membelit Limbong Sitodo hari ini. Kalaupun masih sempat ramai, paling juga pada musim tertentu. Artinya, keindahan alam saja tidak cukup.  Masalahnya adalah: pengelolaan kreatif seperti apa dan bagaimana baiknya?

budaya mandar mencuci di sungai

Limbong Sitodo yang kadang digunakan untuk aktivitas mencuci pakaian (Foto : Ibnu Masyis)

Sekedar mengingatkan, dalam dunia wisata ada yang disebut pantai kering: itu yang kreatif menurut saya. Tanpa pantai dan sungai yang indah sekalipun: jika dikelola dengan baik malah mampu menarik perhatian.

Hal kedua, dalam 3 tahun tearkhir hidup di tengah keluarga istri saya: perlahan mulai paham kebiasaan mereka. Termasuk salah satunya adalah mencuci berjamaah di tempat wisata. Lokasi yang mereka tuju antara lain Limbong, Pappandangan dan Biru di Kanang. Ini juga langkah kreatif menghadapi tumpukan rutinitas rumah tangga. Mereka mendesain sesuatu yang melelahkan menjadi sangat ceria. Salah satu tips anti galau ya seperti yang mereka lakukan itu.

Sedikit mengenang, padahal di masa lampau: di sungai Rea (Madatte) dulunya ramai dari pagi sampai sore dengan aktivitas mencuci dan mandi. Seiring waktu berlalu: sungai terus dikeruk oleh penambang pasir: sungai menjadi keruh kehilangan kerikil dan pasir: mereka telah kehilangan sungai dan kenangannya.


Penulis :

muh ibnu masyisMuh. Ibnu Masyis, lahir tidak jauh dari sungai Madatte Polewali. Saat ini tinggal di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Aktif berkegiatan seni dan teater di Sanggar kesenian Madatte Arts.

Kontak Saya

facebook : https://www.facebook.com/ibnu.whidya

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017