Online 41 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Morangngang (Perburuan Babi Hutan) Yang Masih Marak Di Desa Sumarrang Campalagian

Morangngang (Perburuan Babi Hutan) Yang Masih Marak Di Desa Sumarrang Campalagian Cetak
oleh Muhammad Tom Andari   
Selasa, 27 November 2018 10:09 | Tampil : 111 kali.

Daerah pedalaman Polewali Mandar, Sulawesi Barat masih banyak menyimpan jejak kebudayaan tradisional, Morangngang  (kegiatan perburuan babi hutan) misalnya, orang-orang Mandar berburu babi hutan yang bertindak sebagi hama bagi tanaman para petani. Babi hutan memakan tanaman pertanian dan perkebuna yang beragam mulai dari singkong, pohon kelapa berukuran kecil, hingga mengobrak-abrik bedengan petani.Hal ini secara lengsung mengganggu kegiatan petani dan pekebun di pedalaman, selain memburunya sebagai hama, kegiatan Morangngang juga sebagai kegiatan yang punya nilai rekreasi bagi masyarakat dusun, kalau orang-orang kota dan barat menjadikan kegiatan berburu rusa dengan senjata, maka masyarakat desa memburu babi dengan tombak dan segerombolan anjing.

Daerah sebaran babi hutan di pedalaman yang cukup banyak misalnya di dusun Batu Sasi, desa Suruang, kec. Campalagian menjadikan banyak warganya yang dekat dengan kegiatan Morangngang. Hal ini terlihat saat mengunjungi wilayah dusun ini hari Sabtu (24/11/2018) yang lalu. Ada beberapa rumah yang memelihara anjing di pekarangan rumah, bukan hanya seekor atau dua ekor, tetapi ada yang sampai tiga ekor untuk satu rumah, belum lagi adanya tombak tajam yang disimpan di dinding kayu di sisi rumah yang menjelaskan bahwa tombak tajam adalah alat untuk berburu babi hutan. Gerombolan anjing dan tombak tajam adalah dua alat penunjang untuk berburu babi, anjing berfungsi untuk memburu dan mengepung babi hutan sementara tombak berfungsi sebagai senjata yang akan membunuh babi.

berburu babi hutan morangngang mandar

Ilustrasi perburuan babi hutan (Foto : www.realitarakyat.com)

Memburu babi hutan punya kesenangan tersendiri bagi warga desa Sumarrang, terlebih jika pemburu adalah korban keganasan hama babi, maka saat babi terbunuh akan terpuaskan dahaga setelah ladang atau kebun diserang babi. Bukan tanpa alasan, banyak tanaman petani yang bisa saja dipanen, namun lebih dahulu dimakan oleh babi, singkong misalnya, babi paling menyukai jenis tanaman ini, jika tak hati-hati, petani yang menanam singkong bisa saja kecewa di hari menjelang panen, karena babi lebih dulu "memanen" singkongnya.

Perilaku babi hutan yang menyerang ladang/kebun saat malam hari menjadi hal yang menyulitkan bagi para petani, malam diserang dan meninggalkan jejak di pagi hari, sehingga biasanya petani akan didahului oleh babi. Sang petani sedang istirahat malam hari dan babi saat itu beraksi. Bbai berhenti beraksi sang pertani datang ke ladang/kebun saat pagi hari hingga sore menemukan ladangnya sudah diobrak-abrik babi. Ini hal yang menambah kekesalan petani.

Kegiataan Morangngang (perburuan babi hutan) adalah jejak tradisional nenek moyang manusia. Budaya ini terjaga oleh adanya babi hutan sebagai hama yang harus dibasmi, perbedaanya jika dahulu moyang manusia berburu untuk mendapatkan daging maka Morangngang tidak. Agama Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di Sulbar menjadikan babi hutan sebagai makanan yang tidak boleh dikonsumsi sehingga kegiatan perburuan ini berbeda dengan perburuan masa lalu. Namun prinsip perburuan kurang lebih sama.

Morangngang membutuhkan kawanan anjing untuk mengendus jejak babi hutan, anjing dengan jumlah yang banyak biasanya akan mencium jejak babi hutan dari jauh, menemukan dan mengepung sang babi. Jika anjing telah mulai menyalak maka pemburu bisa berlari mengikuti jejak anjing untuk menemukan lokasi babi, saat terjebak maka babi biasanya tidak akan berlari karena ia takut dengan anjing, namun jumlah anjing harus lebih dari satu, jika satu babi lawan satu anjing maka biasanya anjing akan kalah, hal ini dijelaskan oleh salah seorang kawan yang turut berkunjung saat itu.

Jejak Morangngang terlihat jelas di desa Sumarrang, Campalagian, terlebih saat kami mampir di sebuah bengkel besi yang tampaknya memproduksi tombak tajam untuk kebutuhan Morangngang. Ujung besi tombak yang digunakan untuk Morangngang berwarna perak, sangat tajam dengan lebar sekitar 5-6 cm. Ini yang akan digunakan para warga saat berburu babi hutan.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018