Online 14 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Uniknya Wadah Saleleng Dan Tiada Hari Tanpa Manisnya Gula

Uniknya Wadah Saleleng Dan Tiada Hari Tanpa Manisnya Gula Cetak
oleh Gunawan Apriatno   
Minggu, 01 September 2019 09:56 | Tampil : 460 kali.

Siapa yang tak tahu gula merah, di Jawa sana disebut dengan "gula aren", gula yang dibuat dengan bahan baku air nira yang telah disadap, hampir semua orang mungkin sudah pernah melihat cara pembuatan gula aren karena komoditas ini hampir ada di setiap daerah di negeri ini sama seperti di daerah saya di kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Kali ini saya berkunjung ke rumah pak Abdul Kadir lebih dikenal dengan nama Puaq Roma ia tinggal di Desa Pasiang, Kec. Matakali, Kab. Polewali Mandar yang masih kental melakoni kegiatan berbau kearifan lokal. Beberapa suku tinggal di desa ini mulai dari suku Mandar, Bugis, Jawa, sehari hari mereka berprofesi sebagai petani, pembuat batu bata dan berkebun.

Saya ke rumah puaq roma sebenarnya untuk belajar alat musik tradisional Mandar, Calong tapi sesampai disana kami disuguhkan hidangan air kelapa muda yang dicampur dengan air gula merah, beliau ternyata pembuat gula aren. 

Siang itu sembari menikmati kelapa muda dan menunggunya membuat gula merah saya mengamati dan sesekali bertanya tentang pembuatan gula merah kepadanya dan akhirnya saya paham bahwa untuk membuat gula merah ada proses panjang dan ia tidak boleh ditunda dala prosesnya, maksudnya air nira yang telah disadap siap untuk di masak harus segera diolah karena rasa dari air nira bisa berubah,  dari awalnya manis bisa menjadi kecut dan masam. Mungkin ini juga alasan mengapa puaq roma langsung menyuguhkan kami kelapa muda agar kami tidak jenuh menunggunya.

Wadah Saleleng yang digunakan dalam proses pembuatan gula merah oleh Puaq Roma (Foto : Gunawan Apriatno)

Satu lagi yang menarik dan hendak saya ceritakan buat teman-teman bahwa setiap pekerjaan menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal yang bisa kita dapatkan. Contohnya dalam pembuatan gula merah ini, yaitu ada nilai kesabaran dan keikhlasan yang mendominasi, walaupun harga gula merah saat ini murah di pasaran lokal tapi Puaq Roma tetap komitmen untuk membuat gula merah.

Hasil air nira yang siap dietak menjadi gula merah  (Foto : Gunawan Apriatno)

Teknik dalam pembuatan gula merah puaq roma bagi saya unik, ketika saya bertanya nama alat yang ada di atas wajan saat air nira dimasak berjam jam itu dan apa fungsinya beliau menjawab dengan tersenyum "itu namanya saleleng" (dari anyaman bambu berbentuk tabung kecil lubang atas dan bawah) berfungsi agar air nira yang dimasak tidak tumpah karena air nira untuk menjadi gula aren dimasak kurang lebih 4 jam begitupun saat air nira telah menjadi gula merah, saleleng tidak langsung diangkat jadi harus dimasukkan parutan kelapa agar air nira bisa mengendap dan tidak tumpah, ternyata sesederhana itu jawaban Puaq Roma, tapi bagi kami sangat sulit untuk membayangkan pekerjaannya harus sesabar apa.

Gula merah hasil cetakan dari tempurung kelapa yang digunakan oleh Puaq Roma (Foto : Gunawan Apriatno)

Pohon aren yang menjadi lokasi penyadapan air nira oleh Puaq Roma (Foto : Gunawan Apriatno)

Walau singkat setidaknya ini yang bisa saya ambil dan dokumentasikan untuk merekam kebudayaan orang-orang di Sulawesi Barat, Apapun itu, tetap semangat untuk semua pembuat gula merah dimana pun berada.


Penulis :

gunawan apriatnoGunawan Apriatno, lahir dan besar di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, saat ini bermukim di kecamatan Wonomulyo. Penggemar tokoh musik Iwan Fals, dan menyukai dunia budaya, travelling serta wisata.

 

Kontak Saya :

Facebook : https://www.facebook.com/yoko.shi.9

 


Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2019