Online 49 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Buku Review Buku I Pura Paraqbue Dalam Kisah Nyata

Review Buku I Pura Paraqbue Dalam Kisah Nyata Cetak
oleh Adinda Ulfa Maulidy   
Jumat, 27 September 2013 08:36 | Tampil : 3385 kali.

I PURA PARA’BUE. Dalam kisah nyata. Romantisme diujung badik. Kisah ini adalah kisah nyata yang menyajikan tentang adanya pengaruh siri’ (malu) di Mandar. Banyak kejadian nyata yang dimana budaya siri’ telah menjadi sebuah sejarah. Sitti hadara telah mengukir kisah tragedi berdarah dari cinta segitiganya pada tahun 1938 yang telah merenggut lima nyawa kemudian disebut dengan “ Lima sipeundurang samabaseang cera’ “ yang artinya ada 5 orang yang bersamaan menghembuskan nafas terakhir dan bermandikan darah pada hari dan waktu yang bersamaan.

buku pura parqbue ahmad asdy

Sampul depan buku I Pura Paraqbue (Dalam Kisah Nyata) (Foto : Adinda Ulfa Maulidya)

Kecantikan siti hadara sungguh tak ada kata yang dapat melukiskan kecantikannya sehingga ia disebut sebagai sinar Palece dari renggeang. “seakan Nampak jelas kelihatan air mengalir lewat kerongkongannya” hal ini menandakan betapa putihnya gadis remaja ini. Begitulah cerita kecantikan sitti hadara. Apabila kita melihat senyum dari parasnya menawan, orang pasti akan terpaku dibuatnya. “lele lette’u tallele peitau, uwita dzi allo upangipi dzi bongi” (kakiku berpindah namun pandanganku tak berpindah, jumpa disiang kumimpikan dimalam hari) hal ini juga yang menggambarkan kecantikan sitti hadara sehingga banyak laki-laki yang menyukainya.

Sitti hadara dijodohkan dengan laki-laki yang tidak ia cintai, demikian juga dengan laki-lakinya. Sehingga ia bercerai dan menjadi janda kembang namun ia masih naiwaine (perawan). Akibat dari hal ini keluarga sitti hadara massokong atau mengganti kerugian sejumlah biaya yang dipakai dalam acara pernikahannya dulu karena sitti hadara tidak mau melayani suaminya layaknya seorang istri. Oleh karena itu ia harus mengganti kerugian suaminya.

Ia memang telah menjadi janda namun, ia masih saja menjadi primadona di daerahnya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan ca’bullung yang tidak lain adalah sepupunya dan ca’bullung juga adalah lelaki yang memiliki raut wajah yang tampan dan menjadi idola gadis remaja dikampungnya. Mereka bertemu di tepi sungai, terjadilah percakapan diantara kedua sejoli ini. Hari demi hari mereka semakin lengket saja, suratpun juga menjadi alat komunikasi yang setia untuk menyampaikan rasa yang telah membelenggu keduanya. Sampai akhirnya ca’bullung melamar sitti hadara. Sitti hadara menerima pinangan lelaki yang dicintainya. Akan tetapi keluarga menentang hal itu karena mereka pikir sitti hadara dan ca’bullung masih satu darah. Hal ini tidak mengurungkan niat ca’bullung untuk meminang sitti hadara. Kesepakatan waktu sudah ditentukan, mereka tinggal menunggu hari H nya saja.

Manusia memang hanya bisa merecanakan segala halnya. namun, Tuhan berkehendak lain. Sebelum hari H, sitti hadara telah mencintai sosok lain yaitu mattata. Mattata adalah seorang bujang yang memiliki raut wajah yang tidak kalah dengan tomakappanya desa tersebut. Ia berprofesi sebagai guru di SR Renggeang. Mattata menaruh harapan hatinya kepada sitti hadara yang dimana sitti hadara juga menyambut dengan semangat. Hari demi hari mereka lalui dengan menjalin kasih walaupun keluarga sitti hadara tak merestui hubungan mereka sebab sitti hadara sudah terikat oleh ca’bullung ia tak menghiraukannya. Melihat hal ini ca’bullung terbakar api cemburu. Ia selalu membuntuti sitti hadara. Dan suatu ketika ia benar-benar berada dipuncak cemburunya karena janji palsu sitti hadara. Hal ini juga merupakan siri bagi ca’bullung karena pada masyarakat berpendapat bahwa merupakan bagi siri’ setiap laki-laki yang telah dijodohkan jika pasangannya lele lao di tau laeng atau berpindah kelain hati.

Pada suatu ketika mattata mendapat kabar jika orangtuanya akan datang menemui mattata dan adiknya. Mattata juga berniat untuk mengenalkan sitti hadara dengan orang tuanya. Mattata pun meminta tolong kepada sitti hadara agar dapat menemani adiknya untuk menjemput keluarganya ditinambung esok harinya yang dimana hari itu merupakan hari pertumpahan darah. Mereka pun berbincang untuk melakukan kesepakatan dan akhirnya mattata bertanya kepada sitti hadara.

• Mattata : apa’ Tania kapang iyau dilalang diatemu dite’e dzi’e ingga’na sangga I ca’bullung muannya dzi pa’maimu ( seperti bukan aku yang berkenan di hatimu, mungkin hanya ca’bullung yang menjadi idamanmu).

• Sitti hadara : apa’ le’ba dzi pole’ battuang, apa’ moa I ca’bullung, pale’ lette’u anna rupanna andiang pai siratang, damo tia pole nabatanna ( apa arti sesungguhnya, sebab kalau dengan ca’bullung, telapak kakiku saja belum sebanding dengan wajahnya apalagi dengan tubuhnya ). Mereka asik bercengkrama. Tanpa disadari ternyata ca’bullung sedari tadi telah menguping dibawah kolong rumah. Meski gelap ia tak takut sebab ia meniatkan dalam hatinya bahwa “pattang uwala sulo, urang uwala la’lang” yang artinya gelap akan kujadikan obor dan hujan akan aku jadikan payung. Namun ternyata tidak sia-sia, ia mengetahui semuanya. Walaupun hatinya telah hancur berkeping-keping. Ia sangat-sangat marah. Ia berkata pada dirinya sendiri “saya-sayang pao tia kandiq mua’ saramu nasambar ditau laeng, ditao jappo nande lita’ dadzi natau laeng mapperasaio” yang artinya sungguh sangat disayangkan jika hasratmu akan jatuh ketangan oranglain, lebih baik engkau hancur dimakan tanah daripada orang lain yang akan menikmatimu. Ia berniat ingin membunuh sitti hadara malam itu namun ia menunggu hingga esok pagi. Keesokan paginya ca’bullung pergi ketempat yang dilalui sitti hadara bersama adik mattata ia membawa kowi jambiah (badik) yang kemudian ia selipkan di dalam pakaiannya.

Keduanya pun bertemu dan saling malu-malu. Ca’bullung memulai pembicaraan.

• Ca’bullung : inna dzi pura loamu pura pau-paummu hadara, andiang topai tituppu anna titedzo, sambar laeng dami saramu. (mana ucapanmu dulu yang telah kau sampaikan kepadaku hadara, kita belumlah tersandung, hasratmu telah berpaling ke orang lain).

• Sitti Hadara : calomo’o sappulo kilo ca’bullung diang mo passambo anna batangmu (kau telah digantikan dengan orang yang sepuluh kali lipat melebihimu).

• Ca’bullung : andiang dzi muingarang hadara, mua maedi uwalai sura-suramu dio di boyang, ruao ma’ua andianga muita sakkiniang monge i musa’ding. ( apakah kamu tidak ingat lagi hadara, jika aku masih menyimpan surat-suratmu, kamu pernah berkata bahwa aku akan sakit jika sejenak kita tidak bertemu).

• Sitti Hadara : pau-pau dsi ka’du, laeng diolo laeng boi dzi te’e (itu hanya ucapan isapan jempol semata, lain dulu lain juga sekarang.

Mendengar hal ini ca’bullung benar-benar naik darah. Ia langsung mengambil badik yang ada dibalik pakaiannya dan tanpa berkata-kata lagi ia langsung membenamkan badik ketubuh hadara. Sambil berkata “alai mating pale lette’u namu pejarammingi manini dzio di allo dziboe (ambillah telapak kakiku ini untuk kamu jadikan cermin kelak diakhirat).

Adik mattata langsung lari kekampung dan berteriak “ca’bullung mengamuk dan membunuh hadara di persimpangan jalan. Berita dengan cepatnya tersebar dan sampai ke kepala mattata jika ca’bullung telah membunuh hadara. Ia pun segera menyusul dan mencari matata namun ia dalm pencariannya ia bertemu dengan orang yang memberinya nasehat namun ia tidak hirau ia langsung saja membunuh orang itu kemudian ia bertemu juga dengan 2 orang lainnya dan langsung membunuhnya juga. Berita bahwa mattata membunuh orang yang tidak bersalah sampai ke perkampungan, warga mencari mattata dan menghukum mati mattata karena membunuh orang yang tidak bersalah. Mattata di tombak oleh laki-laki yang tidak menerima perbuatan mattata yang sudah membabi buta.

Cerita ini mengangkat tema tentang budaya siri dalam mandar. Siri merupakan rasa kemanusiaan yang bertumpu pada perasaan yang mendasar dari masyarakat Mandar. Siri dapat memunculkan reaksi yang tindakan yang diluar batas seperti pada cerita ini. Ada beberapa ungkapan pesan dari pare leluhur kita yakni:

1. Mua pa’dami siri anna dilalang alawena mesa rupa tau olo’-olo’ mi tu’u rapanganna ( jika perasaan malu sudah hilang maka ia hidup layaknya sebagai binatang ).

2. Mua diang dua lokko’ anna siri’ dilalang dialawaena mesa rupa tau, iyamo tu’u disanga tau sitonganna ( jika ada malu dalam diri seseorang, maka dia adalah manusia yang sebenarnya ).

3. Mau inna naola manggulilingngi lino, anna inna to’o naoroi titappa tomandar, dipattantumi nabawai anna nakaleppe’i siri’ na nabwuniang lokko’ na. ( kemana saja dan dimana saja orang mandar berada dipastikan bahwa ia akan selalu bersama dengan harkat dan martabat menyimpan dan menjaga harga dirinya )

4. Naiyya disanga ala’biangna mesa tau, iyapa anna sukku kalepu, sitangnga-tangaraing tau sipaingarangi tau di sessena attakkaluppang, sipaloloangi tau lao di para elo’ , sipaingarangi tau lao digau macoa, sibuniangani tau gau’ iyya sitinaya nadzi posiri’ (yang disebut manusia yang sempurna adalah orang yang bermartabat dan jujur dalam kehidupan, yang hidup saling memberi pertimbangan,' saling mengingatkan dari kelupaan, lalu seiring kehendak untuk saling memberi jalan, dan saling menjaga untuk tidak dipermalukan ) dan kemudian di pertegas lagi bahwa jika tak ada malu pada dirimu walaupun sedikit, maka cobalah untuk meminjam dan jika tak ada, maka seharusnya engkau membeli walaupun sangat mahal. Hal-hal inilah yang menjelaskan bahwa siri’ sangat dijaga dan mempunyai peran penting bagi masyarakat Mandar.

Orangtua saya terkadang berpesan jika anak-anaknya keluar rumah “ingarangi ana’ tania tu’u sangga siri dibatang alawemu mubawa moa messungo’o di nawang. Siri’na to’o tu’u tomawuengmu mubawa. Jari alaingangangi siri tomabuengmu” Nah, sebagai generasi muda kita harus menjaga sifat-sifat amandarang karena itu juga merupakan salah satu cara untuk mempertahankan budaya kita.


Penulis :

adinda ulfa maulidyaAdinda Ulfa Maulidya , saat ini menetap di kab. Majene. Alumnus SMKN 2 Majene, hobi menulis dan masih berstatus sebagai mahasiswa di Jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia Universitas AsSyariah Mandar (UNASMAN). Kini berprofesi sebagai pengajar dan staf administrasi di MI Guppi Binanga Majene

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/ulfamaulidya.unasman

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018