Online 38 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Karya Arajang Tie-Tie (Kerajaan Yang Hilang (Naskah S. Mursalin)

Arajang Tie-Tie (Kerajaan Yang Hilang (Naskah S. Mursalin) Cetak
oleh S. Mursalin   
Jumat, 27 September 2013 06:59 | Tampil : 1705 kali.

Kerajaan yang Hilang (Arayang Tie-tie)

ilustrasi arajang tie-tie

Ilustrasi arajang Tie-Tie (Foto : www.sekilasinfoaceh.blogspot.com)


Adegan  1
Mara’dia Tie tie    :     Dinda… kerajaan kita adalah kerajaan yang besar ,kerajaan yg sangat kaya,banyak kerajaan kerajaan luar yg iri terhadap kita aku sangat banga akan hal itu.di tambah lagi engkau telah memberiku seorang putri yg cancik rupawan,sungguh lengkap kebahagian ku dinda.
Permaisuri    :     iyaa kanda demikian pula dengan aku, aku juga, merasa bangga mempunyai seorang suami yang bijak  seperti kanda. Kanda… putri kita itu usianya sudah beranjak dewasa, sudah saatnya kita mencarikan seorang pendamping hidup untuknya, hitung-hitung untuk meneruskan garis keturunan kita kanda.
Mara’dia tie-tie    :     (berpikir) betul juga yang  dinda bilang, tapi aku ingin kelak menantuku adalah seorang yang berjiwa ksatria,yang tidak hanya cinta kepada anakku tetapi dia juga cinta terhadap negri ini dinda
Di tengah perbincangan mereka,datag seorang dayang yang menittipkan sebuah surat dari kerajaan rante bulahan yang isinya mengundang maradia tietie untuk menghadiri sebuah pertemuan kenegaraan di negrinya.
Dayang 1    :     Adappangang na puang.ini ada sebuah surat dari kereajaan Rantebulahan yang di amanatkan kepada saya untuk di sampaikan ke pada puang maradia.
Surat tersebut kemudia di terima oleh permaisuri.
Maradia tietie    :    surat apa itu dinda???
Permaisyuri    :    entahlah kanda,silakan kanda baca.
Maradia kemudian membacanya dan kemudian berpikir sejenak kemudian permaisuri melanjutkan pertanyaan.
Permaisyuri    :    apa isi surat itu kanda???
Maradia tietie    :    surat ini adalah undangan dari raja rante bulahan untukku


Agar menghadiri acara kenegaraan di negeri mereka tapi dinda kerajaan kita sedang dalm peprangan dengan ke rajaan passokkorang tidak mungkin aku akan meninggalkan erakyat ku dalam keadaan seperti ini.
Permasyuri    :    kanda ada benarnya juga.begini saja kanda bagaimana jika kita utus saja putrid kita sapatau saja putrid kita menemuaka sosok seorang pendampink dir ante bulahan
Maradia tietie    :    kalau begitu tolong panggilkan putrid kita kemari
Permasyuri    :    baiklah kanda
Permasyuri kemudian meninggalakan ruangan menuju kamar putrid maharani poktowuna Tidak lama kemudian datanglah permasyuri bersama dengan putrinya Maharani poktowuna dan seorang dayang.
p. m. poktowuna    :    ”ada apa Ayahanda memanggil putri, sepertinya ada hal yang begitu penting.
Mara’dia tietie    :    ”Begini anakku Maharani Poktowuna. Ini ada surat dari kerajaan Rante Bulahang yang isinya mengundang ayahanda mu ini untuk menghadiri acara kenegaraan di kerajaan rante bulahan.
P. M. poktowuna    :     “terus apa hubungannya dengan putri ayahanda ??
permaisuriku    :     begini anakku tentunya ananda sufdah tahu kondisi kerajaan kita ini. Jadi bagaimana jika ananda saja yang menggantikan ayahandamu menhadiri pertemuan itu.
P. m. poktowuna    :     tapi bunda aku hanya wanita kenapa  bukan para pejabat kerajaan saja yang ke rante bulahang ???
Mara’dia    :     “anakku maharani poktomuna, kerajaan kita adalah kerajaan yang memegang teguh tradisi siri, sunnguh tidak pantas jika aku hanya mengutus pejabat saja dan bukan anggota keluaga kerajaan.
p. m. poktowuna    :     “baiklah ayahanda jika itu amanat yang ayahanda berikan kepadaku aku akan berangkat bersama dayangku.


Maka berangkatlah poktowuna bersama dengan dayangnya ke rante bulahang untuk menghadiri pertemuannya.
Adegan 2
Pangeran      : “ya…!!! Semoga saja undanganku diterima baik oleh kerajaan tie-tie, agar aku bisa meminang anaknya yang kecantikannya tersohor  kemana-mana dan dengan menikahi anaknya aku bisa menguasai kerajaan tie-tie. Huaa.. haa.. haa (tertawa).
Dayang 2    : (masuk kedalam ruangan) adappangana pangeran putrid dari kerajaan tie-tie telahh tiba di depan gerbang kerajaan.
Pangeran     : (kegirangan) “kalau begitu suruh dia cepat masuk”
Dayang     : baiklah pangeran, tabe’….!!
Pangeran     : “akhirnya putri maharani telah dating, aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantiknya. Dan sekarang semua keinginanku hampir  tercapai. Ha..ha..ha..
Dayang 2     : ( masuk keruangan) adappangana pangeran, ini putri maharani telah tiba.
Pangeran     : ( takkajanna’) wow..!!! putri  impianku telah tiba, silahkan masuk putri.
p. m.poktowura     :  maaf pangeran, apa  sebenarnya niat pangeran mengundang kerajaan kami kesini, karena saya lihat tidak ada acara apa-apa disini ??
pangeran     : yaa… pertanyaan itulah yang aku tunggu. Sebenarnya aku mengharap ayahmu mara’dia tie-tie yang datang kemari, agar aku bisa menyampaikan niatku untuk melamarmu putrid, tapi rupanya nasib baik datang padaku, orang yang aku idam-idamkan dat5ang sendiri kehadapanku.
Putri          : oo.. rupanya itu maksud pangeran,  baiklah pangeran saya akan menerima pinangan pangeran, tapi dengan satu syarat.
Pangeran     : ”syaratnya apa putri ?? apapun syarat darimu akan aku kabulkan.”
Putrid      : begini pangeran saya dengar-dengar di negeri pangeran terdapat air tebu yang sangat manis, konon katanya masih terasa setelah beberapa hari, jika benar demikian aku ingiin mencicipinya.
Pangeran      : “betul putri, dinegriku memang terdapatair tebu yang sangat manis. Kalau demikian itu keinginan putrid akan aku laksanakan. Dayang……!!!! Dayang……!!!! Hoi… dayang……!!!!
Dayang 2     : adappangan pangeran, ada pangeran….
Pangeran     : cepat kamu ambilkan air tebu yang paling manis di negri ini.
Dayang 2     : segera pangeran….!!!
Pangeran     : sabar yaa putri, sebentar lagi pesanan putri akan segera datang.

Tidak berselang lama, dayang pun dating membawa segelas air tebu yang di minta oleh sang putri.
Dayang 2     : ini putri, air tebunya… silahkan cicipi.

Putri pun meminum air tebu yang disuguhkan, oleh dayang pangeran tetapi sang putrid kecewa setelah mencicipi air tebu tersebut yang ternyata tidak sesuai dengan harapannya.
Putri          : ini yang pangeran maksud dengan air tebu yang paling manis ??? aku bahkan pernah meminum yang lebih manis daripada air tebu ini. Pangeran pembohong, aku kecewa terhadap pangeran. Kalau begitu, aku permisi pangeran (pulang dengan wajah kesal).
Pangeran     : (dengan emosi yang meluap),  dayaang…….!!!! Air  tebu apa ini ?? dasar kau tidak berguna, keluar….!!! Sebelum kau kehilangan nyawa.
Dayang pun lari keluar ruangan dengan terberit-berit karena ketakutan.
Pangeran     : aku adalah pangeran yang paling di takuti di negriku, dan hari ini aku oleh dipasiri oleh seorang wanita. Jadi sebelum dia sampai kekerajaan tie-tie, aku harus mendapatkannya kembali bagaimana pun caranya. Kalau perlu akan kupenggal kepalanya dan akan kubawa kekerajaanku.


Pangeran pun keluar dan memburu sang putrid dengan niat  untuk memenggal kepalanya, diperjalanan pangeran menemukan putri.
Pangeran     : Hey…. Tunggu…!!!
Putri berhenti dan tanpa pikir panjang pangeran langsung memenggal kepala sang putri.
Melihat sang putri maharani poktowuna meninggal dengan tragis, dayang berlari terbirit-birit pulang ke istana tie-tie dan segera melaporkan kejadian itu kemara’dia tie-tie.
Dayang 1     : puang… puang…!!!
Mara’dia     : ada apa dayang ?? kenapa kamu terengah-engah begitu ?? mana putriku ??
Dayang 1     : anu puang… adappangana puang pangeran rante bulahang telah membunuh putrid dengan sadis puang. Dia memenggal kepala putri puang…!!!
Mara’dia     : (heran) “apaa…???!!! Pangeran keparat, aluppas…!!!
Dimana kamu bersembunyi, kau tidak akan pernah lepas dari kejaranku, meski ujung dunia sekalipun.
Dengan emosi yang meluap-luap, mara’dia menuju ke rante bulahang, berbiat menuntut balas atas kematian anaknya. Sesampainya dir ante bulahang.
Mara’dia     : hey… dimana kau pangeran keparat, keluar kau.. jangan jadi pengecut, keluar kau kalau kau berani.
Pamgeran     : (keluar dengan gaya yang jongkok) ada apa orang tua, haah… oow… kau dadant untuk mengantarkan nyawa rupanya, baiklah akan kuladeni kau…
Mara’dia     : kau lah yang akan kehilangan nyawa keparat.
Keduanya mengambil kuda-kuda dan beradu tanding. Perkelahian sengit terjadi diantara mereka, hingga akhirnya pangeran terkapar dengan leher patah dan tewas di tempat.


Penulis :

s mursalinS. Mursalin, pencinta dunia budaya Mandar, menyukai dunia desain grafis, alumnus Universitas Assyariah Mandar (UNASMAN) Kab. Polewali Mandar, pernah aktif sebagai ketua di unit kegiatan Mahasiswa Taekwondo UNASMAN.

Kontak Saya :

facebook : https://www.facebook.com/profile.php?id=100004089408809


 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018