Online 55 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Mengenal Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR)

Mengenal Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) Cetak
oleh Zulfihadi   
Rabu, 23 Oktober 2013 11:15 | Tampil : 1999 kali.

Diawali oleh sebuah Grup sosial media facebook dengan nama KOMUNITAS PENGGIAT BUDAYA DAN WISATA MANDAR yang launching pada hari Jum’at, 24 Mei 2013, pukul 12.07 wita. Yang dibuat oleh sebuah akun anonim bernama Tommuane Mandar. Dari sinilah langkah awal perjalanan ini dimulai. Maka beberapa anak muda yang dipertemukan oleh social media Facebook, dan memiliki keprihatinan yang sama kemudian bergabung dan menyatukan tekad untuk mengangkat dan mengembalikan keagungan tradisi budaya Mandar minimal di Tanah dan di hati warganya sendiri.

Berangkat dari keprihatinan akan sejarah dan budaya Mandar yang kian punah di pentas sejarah budaya nusantara, bahkan lebih parahnya lagi mulai hilang di hati dan ingatan para generasi mudanya itulah. Maka kami kemudian terpacu untuk melakukan langkah nyata untuk melestarikan Budaya Mandar dimulai dengan melakukan perjalanan sejarah budaya kebeberapa tempat.

Dengan biaya sendiri dari para member, perjalanan singkat pun dimulai dengan kunjungan ke Museum Mandar di Kabupaten Majene pada hari Selasa, tanggal 06 Agustus 2013. Syukur Alhamdulillah,sambutan penanggung jawab museum begitu antusias dengan kedatangan kami. Bahkan beliau juga dengan rela membukakan pintu museum untuk kami meski hari kerja sudah memasuki libur cuti bersama Iedul fitri. Di gedung bekas rumah sakit yang merupakan peninggalan Belanda dan dibangun pada tahun 1902 ini, kita disuguhkan dengan beberapa koleksi sejarah, budaya dan kepurbakalaan yang cukup lengkap dan representatif.

kompa dansa mandar museum mandar majene

Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) saat mengunjungi museum Mandar di kabupaten Majene
(Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

kompa dansa mandar museum mandar

Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) saat mendengarkan penjelasan mengenai kondisi umum museum Mandar Majene  (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Dari museum lalu perjalanan dilanjutkan ke Kompleks makam raja dan hadat Banggae. Barisan makam tua yang terbuat dari batu berukir indah, seakan bercerita tentang bagaimana kentalnya pengaruh Islam yang berasal dari belahan nusantara yang lain. Bahkan sebuah makam seorang wanita bangsawan dari Kalimantan juga menjadi saksi bahwa agama Islam telah dikenal di daerah ini jauh sebelum abad VI seprti yang ditulis oleh sejarahwan orientalis. Lalu perjalanan berlanjut ke mesjid pertama di Mandar, tepatnya di Salabose, makam Syekh Abdul Mannan dan pusat kerajinan pandai besi di Pamboqborang.

kompa dansa mandar poralle salabose majene

Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) di gerbang Poralle Bukit Salabose kab. Majene menuju makam Syekh Abd. Mannan  (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

kompa dansa mandar makam syekh abd mannan

Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) di dalam makam  Syekh Abd. Mannan  mendapatkan penjelasan mengenai sejarah perkembangan Islam di kab. Majene (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

kompa dansa mandar kompleks pemakaman raja raja banggae

Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) mengunjungi kompleks pemakaman raja-raja dan hadat kerajaan Banggae Majene (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Serasa belum lengkap dengan perjalanan sejarah budaya pertama, maka pada tanggal 10 Agustus perjalanan kedua dimulai kembali. Kali ini mengunjungi bekas Arayang Alu, salah satu kerajaan tua dan netral yang biasa dimasukkan kedalam kelompok Tiparittiqna uwai (tempat menetesnya air). Kerajaan ini tidak tergabung dalam konfederasi Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babbana Binanga. Setelah bertemu dan mendengarkan kisah tentang Arayang Alu dari pejabat sementara Paqbicara Kayyang Arayang Alu, beliau lalu menyempatkan diri mengantarkan kami ke makam Ammana Pattolawali dan I Daeng ta yang memiliki gelar anumerta sebagai To Mapute Ceraqna, Matindo Di Sambayang na. Disini kami terhanyut dengan cerita tragedi yang dialami oleh Ammana Pattolawali dalam menentang penjajahan Belanda. Menurut penuturan kakek dari Paqbicara Kayyang yang beliau ceritakan kepada kami, bahwa dengan kelebihan yang dimiliki oleh Ammana Pattolawali yang tidak mempan terhadap peluru. Maka Belanda berhasil menewaskan beliau dengan jalan menarik anggota tubuhnya hingga terlepas. Dari makam I Daeng ta, berturut-turut kami lanjutkan perjalanan dengan mengunjungi komunitas Parrawana, Passayang-sayang, Saeyyang Pattuqduq dan Paqgambus.

kompa dansa mandar makam ammana pattolawali
Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) saat mengunjungi kompleks pemakaman Ammana Pattolawali di desa Alu Kec Alu kab. Polewali Mandar (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

kompa dansa mandar sayyang pattuqduq

Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) berfoto bersama dengan pelatih sayyang pattuqduq di desa Mombi kec. Alu kab. Polewali Mandar  (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Komunitas seni Mandar yang ada di kec. Alu cukup  memprihatinkan, dihuni oleh orang-orang tua dan alat musik yang sederhana dan juga tua ditambah peminat yang kian langka. Sebuah kata yang dilontarkan secara guyon namun menyentuh oleh Uwaq Unding, pelaku kesenian Passayang-sayang “ ceh, mate-mate tomi todzi dieq tali gitar-e” (sudah mulai mati/sumbang suara tali gitar ini) seakan mewakili suara hati beliau yang merasa terabaikan.

Referensi :

1. Wawancara dengan pak Thamrin S. Pd (tenaga pengajar bidang studi sejarah di salah satu SMK di kab. Majene, sejarahwan muda yang sering menjadi guide di museum Mandar dan pemakaman raja dan hadat Banggae),

2. Wawancara dengan pejabat sementara Paqbicara Kaiyyang Arayang Alu.


Penulis :

Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

Kontak :

facebook : https://www.facebook.com/zul.elang.biru

 


 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018