Online 50 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Memperingati HUT RI Ke 69 Di Puncak Bukit Pulau Battoa Ala KOMPA DANSA MANDAR

Memperingati HUT RI Ke 69 Di Puncak Bukit Pulau Battoa Ala KOMPA DANSA MANDAR Cetak
oleh Zulfihadi   
Rabu, 20 Agustus 2014 21:21 | Tampil : 1331 kali.

Sore hari 16 Agustus 2014, saat persiapan team pelaksana upacara pengibaran bendera Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) bertolak ke pulau Battoa, desa Tonyaman, kecamatan Binuang, Kabupaten Pol-Man dalam rencana kegiatan kemping dan akan dirangkaikan dengan upacara pengibaran Sang Saka merah-putih pada keesokan harinya. Perjalanan sempat tertunda sekitar 1 jam dari jadwal yang telah disepakati sebelumnya disebabkan oleh keterlambatan teman dari Majene yang mengalami kerusakan motor dalam perjalanan ke titik pertemuan.

member kompa dansa mandar polman-majene di pulau battoa

Saat member Kompa Dansa Mandar berada di puncak bukit Pulau Battoa (Foto : Zulfihadi)

Menjejaki Pulau Battoa

Pulau Battoa yang menjadi tujuan team kami hanya berjarak sekitar 10 menit dari dermaga rakyat desa Tonyaman dengan menggunakan perahu motor atau taksi laut dalam istilah masyarakat di sana. Kedatangan team kami disambut kebersahajaan sebuah perkampungan nelayan sederhana. Dengan mata pencaharian sebagian masyarakatnya sebagai nelayan, pembuat perahu atau sebagai nahkoda taksi laut. Ada juga yang berprofesi sebagai petani, ini nampak dari lereng gunung gersang yang diterasering dan ditanami dengan singkong. Namun tidak banyak yang menekuni profesi sebagai petani, bisa jadi dipengaruhi oleh kondisi tanah yang bercadas. Sebenarnya dusun Lendangan yang ada di pulau Battoa ini bukannya tidak tersentuh oleh pembangunan, ini terlihat dengan adanya jalur listrik yang membentang di atas laut serta adanya aliran air PDAM di perkampungan warga, meskipun untuk aliran air PDAM menurut seorang warga biasanya hanya mengalir pada malam hari. Juga telah ada POSKESDES, sebuah sekolah SD dan sebuah SLTP. Hanya untuk lanjut kejenjang SMU saja anak-anak pulau ini masih harus menyeberang ke Polewali untuk sekolah. Pada umumnya warga masyarakat di dusun ini juga ramah dan bersahabat dengan senyum ramah yang selalu tersemat dibibir mereka saat kita berpapasan di jalan.

Sebelum menuju ke bukit Buttu Pallayangan yang rencananya menjadi lokasi untuk team mendirikan tenda, kami menyempatkan diri terlebih dahulu singgah di rumah kepala dusun untuk meminta izin. Beberapa langkah setelah meninggalkan rumah pak dusun, langkah team kami pun berhadapan pendakian dengan sudut kemiringan sekitar 35 atau 45 derajat. Dengan kondisi tanah gersang dan berbatu-batu cadas dengan tumbuhan mayoritas padang ilalang dan sedikit semak perdu serta beberapa pohon kelapa yang nampak kurus tanpa buah meski telah memiliki pohon yang cukup tinggi dan sudah pantas untuk berbuah.

kdm majene polman menuju puncak bukit pulau battoa

Saat member Kompa Dansa Mandar menuju puncak bukit Pallayangang di Pulau Battoa (Foto : Zulfihadi)

Tamu Yang Bersahabat

Adzan maghrib berkumandang dari mesjid diseberang pulau saat team mulai mendirikan tenda dan mengatur persiapan lainnya. Sebuah aturan tak tertulis dalam hidup berkelompok langsung diterapkan tanpa komando. Penghargaan khusus dalam hati dari saya untuk semua peserta team yang memposisikan diri menjadi beberapa kelompok tugas, ada yang mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan sebagian yang lain menyiapkan dapur umum. Sempat berfikir untuk mengantisipasi kurangnya air bersih untuk keperluan cuci dan masak yang kami bawa dari perkampungan, proses pencucian beras yang sedianya akan dimasak menjadi nasi terpaksa diskip atau dilewatkan. Alhamdulillah meski ditengah tiupan angin gunung yang agak kencang, karena keahlian tim cewek yang ikut serta maka nasi tetap matang sempurna. Suasana makan malam yang bersahaja dengan menu sederhana menambah keakraban dan persaudaraan dalam team hingga menambah kenikmatan makan malam kali ini. Mengisi waktu setelah makan malam, team kemudian melakukan diskusi ringan seputar kegiatan upacara keesokan harinya dilanjutkan dengan acara hiburan. Tak lama, saya yang kebetulan sedang berdiri menikmati pemandangan malam hari laut dan kota Polewali yang berada di belakang tenda, melihat beberapa lampu tak seberapa terang bergerak dari bawah menuju kearah team berada. Setelah semakin dekat, barulah jelas kalau yang datang adalah beberapa anak remaja SMP dengan menggunakan cahaya LED HP sebagai penerangan. Mereka  datang karena rasa penasaran akan keberadaan kami, dan kami menyambut ramah mereka dan mengajak untuk bergabung bersama anggota team.

warga sekitar pulau battoa menemani member kompa dansa mandar

Remaja SMP, warga sekitar bukit Palayangang yang turut bergabung bersama member Kompa Dansa Mandar (Foto : Zulfihadi)

meikmati makan malam di pulau battoa
Makan malam bersama member Kompa Dansa Mandar wilayah Polman dan Majene di tengah gelap malam (Foto : Zulfihadi)

Hawa dingin di atas bukit membuat makan malam kami tidak mampu mempertahankan kenyang, untung saja para remaja ramah tadi tanpa diminta berinisiatif untuk mencari singkong dikebun mereka. Dan jadilah acara dilanjutkan dengan bakar singkong untuk mengusir rasa lapar dari perut kami. Tidak lama kemudian, kami istirahat untuk memulihkan tenaga yang sore tadi sempat terkuras.

berfoto malam hari di pulau battoa

Malam hari di puncak bukit Pallayangang Pulau Battoa, kab.Polewali Mandar (Foto : Zulfihadi)

Menyaksikan fajar 17 Agustus dari atas puncak bukit Pallayangan pulau Battoa sungguh berkesan dengan semburat oranye yang begitu indah menjanjikan harapan cerah. Puas menyaksikan fajar, saya kemudian menyalakan api untuk mempersiapkan sarapan sambil menunggu anggota team yang sebagian masih terlena dalam tidur, sekalian untuk mengusir hawa dingin yang menerpa tubuh. Tak berapa lama kemudian, semua anggota team sudah terbangun dan ikut mempersiapkan kelengkapan upacara lalu dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama. Selepas sarapan, gladi upacara pun dilakukan diteruskan dengan upacara pengibaran sang saka merah putih. Upacara singkat berlangsung sangat khidmat tanpa ada obrolan dari peserta upacara seperti biasa terlihat pada upacara di tempat lain terutama biasanya yang datang dari barisan belakang. Meskipun sederhana dengan konsep upacara bisu, upacara terlaksana dengan susunan penyiapan pasukan oleh pemimpin upacara, pembacaan teks proklamasi oleh pembina upacara, pengibaran sang merah putih, hening cipta, dan menyanyikan lagu wajib nasional.

Selesai upacara, team segera berkemas untuk pulang. Maksud hati sebenarnya masih ingin tinggal sejenak untuk menikmati suasana pegunungan, namun apa daya, perbekalan air minum kami telah tandas sehingga kami harus pergi jika tidak ingin kehausan nantinya di atas gunung yang hawanya cukup panas saat menjelang siang ini.

Team segera merapikan tenda, mengumpulkan sampah bekas kemasan makanan yang kami bawa lalu membakarnya. Setelah memastikan api yang kami nyalakan tadi telah benar-benar padam, team segera turun dari gunung pallayangan, menuju dermaga yang selanjutnya menaiki taksi laut dan pulang kerumah masing-masing.

Tetes Akhir Darah Pena

Melihat kondisi pulau Battoa dan beberapa pulau disekitarnya, sebenarnya daerah ini memendam potensi wisata yang cukup besar. Dengan kondisi air laut yang jernih dan sebuah pulau dengan pantai berpasir putih yang lembut, tentu menjanjikan kenikmatan bagi wisatawan penikmat pantai atau mereka yang gemar snorkling atau diving. Namun tentu diharapkan kesungguhan pemerintah dan instansi terkait untuk menata sarana dan prasana pendukung jika ingin melihat daerah ini sebagai aset wisata jempolan.


Penulis :

Zulfihadi
Zulfihadi, saat ini menetap di Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer.

Kontak Saya :

facebook :  https://www.facebook.com/zul.elang.biru

blog : http://zulfihadi-bugis-mandar.blogspot.com/

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018