Online 44 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Ekspedisi Air Terjun Kadinginan Bagian 2 Suasana Camp Di Belantara Hutan

Ekspedisi Air Terjun Kadinginan Bagian 2 Suasana Camp Di Belantara Hutan Cetak
oleh Muhammad Putra Ardiansyah   
Sabtu, 03 September 2016 11:20 | Tampil : 763 kali.

Hanya berjarak sekitar 30 meter, kami berjalan menuju lokasi camp, rumput setinggi pinggang menyambut kami dalam gelapnya malam, untung saja kami sudah siapkan beberapa senter untuk penerangan.

“Kita akan mendirikan tenda disini” kata Kak Ucu’ sembari melayangkan sabetan parangnya ke arah rerumputan yang rimbun. Disamping kami terlihat bangunan kotak seukuran 3x3 meter yang tak beratap, entah itu rumah yang belum jadi, ka’bah hutan atau mungkin sejenis tempat peristirahatan, tapi siapa yang mau membangun tempat peristirahatan di tengah hutan tak berpenghuni seperti ini? Gumamku dalam hati sembari terus mengira-ngira bangunan kotak kayu ini.

mendirikan-tenda-di-sekitar-air-terjun-kadinginan

Menjejaki lokasi camp hingga menjelang malam hari di sekitar lokasi air terjun Kadinginan, Binuang (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)

tempat-mendirikan-tenda-air-terjun-kadinginan-binuang

Lahan untuk mendirikan tenda yang telah dibabat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)

“itu perangkap monyet” kata Kak Ucu’ membenarkan prasangka kami yang tidak-tidak pada bangunan kotak itu.

“Bangunan ini baru dibuat sekitar 2 bulan yang lalu tapi sudah tidak digunakan, hanya satu monyet yang berhasil di tangkap” Sambung Kak Ucu’ sembari sejenak istirahat dan kemudian kembali melanjutkan sabetan parangnya ke arah rumput.

perangkap-monyet-di-sekitar-air-terjun-kadinginan

Bangunan perangkap monyet tak jauh dari air terjun Kadinginan, Binuang (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)

Oke, rumputnya sudah rata, selanjutnya mari mendirikan tenda, sebenarnya kami membawa 3 tenda bulan, hanya saja Kak Ucu’ juga membawa tenda yang lebih besar, kalau diperkirakan mungkin tendanya bisa menampung keseluruhan dari kami. Maka dengan semangat 45 kami semua sepakat untuk mendirikan tenda Kak Ucu’ lalu kemudian barulah mendirikan tenda bulan sebagai pelengkap di sekitar tenda besar.

proses-mendirikan-tenda-di-air-terjun-kadinginan-binuang

Proses mendirikan tenda di sekitar air terjun Kadinginan Binuang (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)

Malam semakin larut dan dingin pun semakin menusuk, Adi dan Abrar bergegas mencari kayu bakar disekitar lokasi camp. Suasana tenda tiba-tiba menjadi panas, mungkin karena hawa panas dari api. Sebagian dari kami keluar di dekat perapian dan mulai bercerita panjang lebar tentang desa ini, tentang Kaleok yang menyembunyikan potongan surga dan lengkap dengan cerita-cerita mistisnya.

“Masih banyak yang belum terekspose di Kaleok, dari dulu saya mau bergerak untuk juga mempromosikan Kaleok agar dikenal orang banyak, hanya saja saya tidak memiliki teman”
Kembali kak Ucu’ berbicara seolah ada semangat yang tertahan dalam dirinya

“yah, kami ini sebenarnya dari komunitas penggiat budaya dan wisata, kami kerjanya memang mencari destinasi wisata yang tidak dikenal oleh banyak orang, saya sendiri senang sekali bisa datang ke Kaleok yang kata bang Ahmad memiliki beragam keindahan alam dan budaya yang tidak kalah dengan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Barat seperti yang selama ini sering kami ekspose di dunia maya” Jelasku seolah memancing semangat Kak Ucu’ untuk melanjutkan ceritanya.

Kami bercerita panjang lebar, tentang Buttu Sumandilo yang ketinggiannya berada di atas 2000 mdpl lebih, tentang ribuan batu yang tersusun rapi di lokasi pemakaman kuno, bahkan cerita tentang sengketa lahan di perbatasan Sulbar-Sulsel di wilayah Pinrang dan Binuang yang sampai saat ini tidak ada perhatian dari pemerintah. Ada lagi cerita tentang sepasang suami isteri yang berubah menjadi batu kala sedang berada di tengah hutan, menurut legenda saat itu seketika terjadi gerhana bulan dan sepasang suami isteri itu berubah menjadi batu.

“semua situsnya masih ada di sini, kapan-kapan kita berkunjung kesana untuk melihat secara langsung” kata kak Ucu’ melanjutkan ceritanya.

Malam sudah terlalu larut sepertinya beberapa dari kami sudah mulai mengantuk, tak terkecuali Kak Ucu’ yang sedari tadi bercerita panjang lebar tentang Pesona kec. Binuang. Hanya aku, Abrar, Sam, Adi dan Kheq yang rela begadang sembari kembali menyeruput kopi hutan buatan Abrar. Bulannya terang dan kami berlima melanjutkan cerita ala “anak muda”, sepertinya dipertengahan malam memang asik bercerita segala hal tentang perempuan.

Tidak terasa mataku mulai sayu dan aku sudah tidak sadarkan diri, ketika mataku kembali terbuka semuanya sudah terang dan akhirnya pagi menyambut dengan dingin yang menusuk serta bau khas belantara hutan yang kurasa untuk sekian lamanya baru kali ini kembali menikmati udara segar seperti ini.

“Waktunya ke air terjun” teriakku dengan semangat yang membara.


Penulis :

muhammad putra ardiansyahMuhammad Putra Ardiansyah, hobi travelling, fotografi, dan dunia bisnis. Alumni SMK Neg 1 Polewali 

Kontak Saya :
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018