Online 44 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Spesial Trip : Pulau Tangnga, Mangrove, Literasi, Dan Cerita Spiritual Tosalamaq Di Binuang (Bagian 2)

Spesial Trip : Pulau Tangnga, Mangrove, Literasi, Dan Cerita Spiritual Tosalamaq Di Binuang (Bagian 2) Cetak
oleh Muhammad Putra Ardiansyah   
Kamis, 05 Januari 2017 20:47 | Tampil : 553 kali.

Pulau Gusung Toraja perlahan menjadi kecil dari pandanganku, entah akan disulap jadi apa pulau itu, semoga saja menjadi lebih baik, gumamku dalam hati sembari terus memandang Gusung Toraja dari kejauhan untuk kemudian kembali duduk di ujung perahu bagian depan. Kali ini perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Salamaq, pulau yang banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, tidak lain karena di pulau itu terdapat Makam Tosalamaq, lupa namanya siapa, maklum saya memang kurang tertarik dengan wisata bergenre sejarah dan religi. Aku tahu orang akan berkata Astagfirullah Hal Adzim untuk ku.

Sepanjang jalan pelayaran kami menuju Pulau Salamaq, mataku tak hentinya menatap ke dalam air, aku mencoba berdiri di ujung moncong perahu agar bisa melihat dengan khusyuk ke bawah sana, dan betul saja dugaanku. Gerombolan terumbu karang terlihat jelas, airnya jernih, kuperkirakan kedalamannya sekitar 3-10 meter, aku meminta pada Pak Yusuf, guide kami untuk sejenak diturunkan di sini, namun katanya "silahkan ngomong ke supir perahunya". Bergegas aku kebelakang perahu namun kata pak Sarman, nelayan yang mengemudikan perahu “Kalau mau lihat Batu (Karang) nanti dekat pulau sana, batunya lebih banyak daripada yang ini, kata Supir perahu sambil tetap fokus mengemudikan perahunya. Ya sudahlah, semoga saja betul betul-betul bagus.

Mendekati pulau Salamaq, lambaian pohon mangrove yang tumbuh langsung di bibir pantai seolah melambaikan semangat hijaunya pada kami, yah hampir sebagian besar pesisir pulau pulau kecil di Binuang ditumbuhi oleh pohon mangrove yg rindang. Kami merapat ke sebuah dermaga kayu, di bawahnya gerombolan ikan-ikan kecil menyambut kami dengan penuh riang gembira, bak seorang tamu penting ikan-ikan ini mengawal perahu kami sampai ke  bibir dermaga, satu persatu dari kami bergegas melangkah keluar dari perahu.

mangrove di pulau salamaq binuang polewali mandar

Lambaian pohon mangrove yang tumbuh langsung di bibir pantai Pulau Tangnga / Pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

dermaga pulau tangnga pulau salamaq binuang polewali mandar

Dermaga kayu yang di bawahnya gerombolan ikan-ikan kecil menyambut kami dengan penuh riang gembira di Pulau Tangnga/ Pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar  (Foto : Muhammad Tom Andari)

Hanya sekitar 20 meter dari dermaga, tempat yang pertama kami kunjungi adalah rumah penjaga makam Tosalamaq, kata Pak Yusuf, bapak penjaga makam inilah yg menjadi guide setiap peziarah yang datang ke sini, selain itu di teras rumah ini juga terpasang 2 buah lemari kaca yang berisi berbagai macam buku buku bacaan. Sepertinya gerakan literasi yang lagi mainstream saat ini juga ada di Pulau Tosalamaq, oh yah hampir lupa, kata Bapaknya nama Asli dari pulau ini adalah Pulau Tangnga, tidak sempat nanya kenapa nama pulaunya adalah Tangnga, kemungkinan pulau ini berada di tengah tengah pulau pulau kecil lainnya "kameramen, tolong drone kawasan pulau ini dari atas hehehe*

taman bacaan masyarakat di pulau tangnga pulau salamaq binuang polewali mandar

Taman Bacaan Masyarakat di Pulau Tangnga/ Pulau Salamaq binaan Dinas Pendidikan kab. Polewali Mandar(Foto : Muhammad Tom Andari)

sign taman bacaan masyarakat di pulau tangnga pulau salamaq binuang polewali mandar

Taman Bacaan Masyarakat di Pulau Tangnga/ Pulau Salamaq binaan Dinas Pendidikan kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

Hanya Tom yang sepertinya sibuk menggali informasi pada bapak ini, kami bertiga sibuk membolak balik buku yang kuyakin tidak ada satupun dari kami bertiga yang membaca bukunya dengan serius, sepertinya destinasi yang satu ini terasa membosankan. Hanya beberapa menit kami duduk manis di teras rumah ini, dari dermaga terlihat beberapa orang datang, kelihatannya mereka para peziarah, itu berarti bapak ini harus mengakhiri ceritanya tentang Tosalamaq.

sign petunjuk makam tosalamaq di binuang pulau tangnga pulau salamaq binuang polewali mandar

Sign Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala makam tosalamaq Binuang di pulau Tangnga/ pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

“Saya tinggal dulu sebentar, saya menemani mereka dulu” kata Bapaknya sesaat setelah segerombolan orang itu memberitahu bahwa mereka akan ziarah ke makam. “kalau begitu kami ikut sama bapak, kebetulan kami juga mau lihat makamnya” entah siapa yg bilang di antara kami. Kemudian bergegaslah kami mengikuti rombongan yang tadi, tidak jauh, hanya berjalan beberapa meter saja kami berhenti di depan sebuah bukit kecil yang jalannya terbuat dari tangga keramik putih, orang Mandar menyebutnya “tangga Tehel”. Kata Bapaknya, Pemerintah belum pernah membantu pembangunan di Makam ini, apa yang ada saat ini adalah berkat donasi para peziarah, bahkan ada yang memang membantu pembangunan karena mempunyai Tinja’ (baca : nasar) jelas laki laki bertubuh gemuk ini.

sign makam tosalamaq binuang di pulau tangnga pulau salamaq polewali mandar

Sign makam tosalamaq Binuang di pulau Tangnga/ pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

kdm berfoto di tangga tegel makam tosalamaq binuang

Berfoto di tangga tegel menuju makam tosalamaq Binuang di pulau Tangnga/ pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

Rombongan itu sudah berada di atas sana, memang makam makam Tosalamaq,  raja-raja dan maraqdia di Mandar umumnya  selalu berada di ketinggian, entah itu kebetulan atau memiliki filosofi tersendiri, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di atas sana, hanya Tom yang ikut kedalam makam, kami bertiga hanya sibuk mengabadikan momen di sekitar makam, meski ujung ujungnya kami pun ikut naik ke atas sana. Tom terlihat sibuk mengabadikan momen peziarah, sementara 1 orang diantara mereka sibuk mambaca baca (Baca : berdoa secara tradisional), sementara kami bertiga masih terus bergantian saling memotret satu sama lain.

berdoa di makam tosalamaq di binuang pulau tangnga pulau salamaq binuang polewali mandar

Peziarah yang berdoa di makam tosalamaq Binuang di pulau Tangnga/ pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

peziarah berdoa di makam tosalamaq binuang pulau tangnga pulau salamaq binuang polewali mandar

Peziarah yang berdoa di makam tosalamaq Binuang di pulau Tangnga/ pulau Salamaq kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Muhammad Tom Andari)

Tidak lama setelah itu, peziarah ini mengakhiri ritual baca-bacanya, ada yang unik, salah satu di antara mereka meninggalkan makam sampai ke tangga dengan berjalan mundur, entah itu maksudnya apa, tapi sepertinya itu etika orang Mandar saat bertamu ke rumah orang yang dihormatinya, dia akan meninggalkan tuan rumah dengan cara jalan mundur (tidak membelakangi tuan rumah) namun ini kali ke dua aku melihatnya setelah dulu sempat tamu di rumah Nenek Ibu (nenek ku) melakukan hal yang sama.

Setelah gerombolan peziarah ini keluar, sekonyong konyong kami berlari kecil menaiki beberapa anak tangga untuk memasuki ruangan Makam Tosalamaq. Wow… baunya khas .. bau dukun. Ada undung (dupa), minyak, telur dan apalah apalah lainnya yang menjadi hiasan khusus makam makam kuno di Mandar. Pertanyaan kami tentang pohon apa yang berada disamping makam ini dijawab oleh Bapak penjaga makam, katanya itu pohon beringin.

“sebenarnya ada 2, hanya saja dulu ada beberapa orang yang memotong pohon beringinnya, bekasnya masih ada sampai sekarang, namun tidak lama kemudian orang itu meninggal” cerita si penjaga Makam seolah meyakinkan kami bahwa Makam Tosalamaq ini menyimpan aura mistis tersendiri.  Cerita lain juga mengatakan, konon suatu waktu Almarhum Bapak penjaga Makam waktu berada di Tanah suci pernah mendapatkan bisikan spiritual, katanya Tosalamaq saat hari Jum’at lagi di tanah suci (gak ada di Makam), itulah sebabnya jarang sekali orang datang bersiarah pada hari Jumat, karena kepercayaan mereka, orang yang disiarahi sedang tak ada di rumah. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi entahlah.. cerita hanyalah cerita.

Bapak penjaga makam juga menceritakan asal mula mengapa makam ini berada di ketinggian, katanya dahulu tanahnya datar, namun perlahan tanah ini terangkat dengan sendirinya sampai akhirnya setinggi bukit kecil seperti tempat kami berdiri saat ini.

Karena sudah akan masuk waktu siang, kami berempat pamit ke penjaga Makam, perjalanan masih akan dilanjut ke pulau-pulau lainnya. Terlihat jelas di bawah sana Pak Yusuf guide kami dan pak Sarman, supir perahu juga sudah menunggu kami sedari tadi. Hal yang lucu adalah si Alif Bahri juga ikut-ikutan berjalan mundur ke arah tangga, entah maksudnya apa, aku dan Askar hanya menggelengkan kepala *ada apa dengan anak ini*

Bersambung……………..


Penulis :

muhammad putra ardiansyahMuhammad Putra Ardiansyah, hobi travelling, fotografi, dan dunia bisnis. Alumni SMK Neg 1 Polewali, saat ini sedang mengembangkan jasa wisata bahari dengan nama layanan "Bocah Pantai" di pesisir pantai desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar

Kontak Saya :
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018