Online 45 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Muara Sungai Mampie, Dinding Bakau Dan Makam Tosalamaq Misterius

Muara Sungai Mampie, Dinding Bakau Dan Makam Tosalamaq Misterius Cetak
oleh Wahyu Amril   
Rabu, 11 Januari 2017 19:47 | Tampil : 1315 kali.

Mendengar kata Mampie, pasti kita akan langsung berpikir ke pantai Mampie yang sudah terkenal di desa Galeso, kecamatan Wonomulyo, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Pantai yang eksotis, angin sepoi-sepoi dan gazebonya yang berjejer rapi di pinggir pantai, objek wisata populer di kb. Polman. Tapi kali ini kita tidak akan membicarakan pantai melainkan potensi lain yang dimiliki dusun Mampie, tidak kalah indah dari pantai Mampie bahkan menurut saya lebih indah dari pantainya. Kita akan membahas sungai Mampie surga yang tak kalah indah dari sungai-sungai yang ada di dunia seperti Missisipi di Amerika.

Untuk menyusuri sungai Mampie anda tidak perlu pusing hendak menggunakan kendaraan jenis apa, untuk menikmati surga sungai mampie, dengan keramahan warga sekitar dan kearifan lokalnya serta sifat "amalaqbiang"  suku Mandar maka mereka akan dengan senang hati mengantar pengunjung dengan perahu khas lokal, masyarakat menyebutnya dengan nama perahu "Balaq-Balaq". Untuk soal kenyamanan dan keamanan perahu Balaq-Balaq tidak perlu dikhawatirkan,  selama daya muat 4 orang bersama pengemudi perahu dan tidak melebihi batas ukuran penumpang.

perahu balaq balaq tanjung mampie polman

Perahu Balaq-Balaq yang disiapkan sebelum menyusuri muara sungai Mampie (Foto : Wahyu Amril)

perahu balaq balaq di tepi pantai tanjung mampie

Perahu Balaq-Balaq dengan nama "Pammase" salah satu balaq-balaq yang digunakan untuk menempuh transportasi menyusuri bakau di muara sungai (Foto : Wahyu Amril)

Sepanjang perjalanan ditemani jejeran bakau Anda mungkin tidak akan berpikir bahwa sedang berada di kabupaten Polewali Mandar, Anda akan disapa oleh hutan mangrove yang masih alami dengan nyanyian burung serta tarian satwa yang akan membuat Anda lupa akan hiruk-pikuk dunia. Sungguh menenangkan, dan menyejukkan.

Nyanyian burung Bangau tepatnya yang jadi dominan di muara sungai Mampie, jenis burung ini yang paling banyak saya temukan, berterbangan dari pohon bakau satu ke pohon bakau lainnya, sembari mengarahkan sayap menuju tepian muara dan pantai untuk mencari sekira ada ikan yang dapat dilahap. Saat menelusuri muara sungai Mampie, burung-burung Bangau akan menemani Anda, tentu saja bersama deru mesin motor pendorong yang ditempelkan di jenis perahu Balaq-Balaq.

Seolah tak ada habisnya jika membahas keindahan sungai mampie, mangrove menjadi dinding hijau sepanjang aliran sungai, muara dari beberapa sungai bersatu di tanjung Mampie. Terlepas dari keindahan nan eloknya sungai Mampie juga menyimpan misteri yang belum terpecahkan asal muasalnya, Anda mungkin tidak akan menemuinya di tempat lain. Ya setelah berangkat menggunakan perahu dari tanjung Mampie saya dihipnotis oleh keindahan alam bakau, tetapi di tengah perjalanan saya melihat sebuah bangunan kecil, tak ahu ukuran pastinya, setelah saya dan teman-teman menghampirinya, makin dekat justru saya heran awalnya hanyalah bangunan biasa tetapi ternyata menurut guide yang mengantar saya konon itu adalah bangunan pelindung makam Tosalamaq sappoang.

Unsur mistis masih terasa, saya masih bingung setelah melihat langsung bagian makam "bagaimana caranya makam ada di bawah air?" Pertanyaan yang sampai sekarang masih mengiang di kepala saya.

bangunan makam tosalamaq terendam air

Bangunan makam yang konon disebut "Tosalamaq Sappoang" di antara bakau (Foto : Wahyu Amril)

bangunan rumah kecil pelindung makam tosalamaq sappoang

Bangunan pelindung makam yang konon disebut "Tosalamaq Sappoang" di antara bakau (Foto : Wahyu Amril)

makam tosalamaq sappoang mampie

Bangunan pelindung makam yang konon disebut "Tosalamaq Sappoang" di antara bakau (Foto : Wahyu Amril)

Warga sekitar sering menziarahi makam tersebut, bahkan menurut warga yang memandu saya bukan hanya warga lokal yang datang berkunjung dan berziarah kesini, tetapi ada juga masyarakat lain yang rela jauh-jauh datang berziarah di makam ini. Tetapi yang unik, terlepas dari unsur musyrik dalam agama atau apakah ini hanya menyangkut keyakinan masing masing, konon katanya jika ada yang berziarah ke makam ini, mereka datang dengan ritual khusus mengikatkan kain kaci berwarna putih, mirip bahan dasar kain kafan ke bagian bangunan pelindung makam. Sebelum melakukan yang diharapkan atau diminta kain akan diikat di salah satu tiang bangunan makam tersebut dan konon jika hajat dan harapannya terpenuhi mereka akan kembali datang membuka ikatan tersebut.

kain kaci di makam tosalamaq sappoang mampie

Kain kaci berwarna putih, bahan dasar kain kafan yang diikatkan di bangunan serupa rumah kecil  di atas makam yang konon disebut "Tosalamaq Sappoang"  (Foto : Wahyu Amril)

Tidak bisa di pungkiri makam ini menjadi salah satu daya tarik yang selalu menarik untuk di pelajari dan di pecahkan, karena itu mari kita jaga dengan tidak merusaknya, atau menjaga kebersihannya dengan tidak membuang sampah sembarangan saat datang berziarah.


Penulis :

wahyu amrilWahyu Amril, berstatus sebagai anggota pramuka di SMU Neg. 1 Campalagian, kab. Polewali Mandar, saat ini sedang menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Menyukai dunia travelling dan kepetualangan serta kepenulisan

Kontak Saya :
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018