Online 61 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Jelajah 2 Sungai Dari Muara Tanjung Mampie

Jelajah 2 Sungai Dari Muara Tanjung Mampie Cetak
oleh Alif Bahri   
Kamis, 12 Januari 2017 07:20 | Tampil : 509 kali.

Ada beberapa muara sungai di dusun Mampie, desa Galeso, kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat tetapi kemarin hanya muara sungai Matakali dan sungai Galeso yang sempat kami kunjungi. Sementara muara sungai satunya lagi adalah muara sungai Rea. Ini dalam kegiatan trip undangan dari Yusri Mampie, tokoh pemuda setempat yang mengundang kami untuk melihat potensi destinasi wisata lingkungan yang katanya sangat indah. Beliau mengundang kami dari Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar/KDM) untuk menelusuri sudut-sudut terdalam muara yang cantik ini.

Untuk mengunjungi muara-muara sungai yang ada di Mampie kita bisa berangkat di Tanjung Mampie atau di Ujung Mampie menuju ke arah barat, dari arah objek wisata Pantai Mampie jarak ke Tanjung Mampie sekitar 1-1,5 km dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan beroda dua dan beroda empat. Saat masuk ke muara sungai, jika mengarah ke kanan kita akan mendapatkan muara sungai Matakali lalu apabila mengarah ke kiri akan bertemu dengan muara sungai Galeso. Muara sungai kecil juga banyak bersatu di daerah ini.

perahu menyusuri sungai matakali polman

Nelayan pemilik perahu yang digunakan dari Tanjung Mampie dengan menggunakan perahu jenis Balaq-Balaq saat melintas di muara sungai Matakali (Foto : Muhammad Tom Andari)

Di muara sungai Matakali, begitu Anda memasuki kawasan mangrove, Mungkin saja Anda akan merasa berada di sungai Kapuas, karena view nya yang agak mirip.

muara sungai matakali polman sulbar

Muara sungai Matakali yang bertemu di Tanjung Mampie (Foto : Muhammad Tom Andari)

Di sebelah kanan muara Matakali yakni di pinggir muara ada sebuah makam yang berdiri sendiri ( sekitar 500 meter dari kawasan mangrove muara Matakali). Menurut guide dan pemilik kapal yang kami tumpangi makam tersebut adalah milik "Tosalamaq Sappoang". Makam Tosalamaq Sappoang ini biasanya di ziarahi oleh penduduk luar maupun lokal yang biasanya yang telah bernazar atau memiliki hajat, ini dibuktikan dengan jejak tempat dupa dan kain-kain berwarna putih yang diikatkan di bagian rumah pelindung bangunan makam. Kepercayaan yang saat ini masih ada dan merupakan tradisi yang masih dilestarikan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Setelah dari muara sungai Matakali kami menuju ke muara sungai Galeso, dengan setengah jalur yang berbeda. Ini karena kami lebih memilih melewati jalur darat dan berjalan menyusuri mangrove diantara tambak ikan bandeng yang ada di samping muara untuk melihat lebih dekat mangrove-mangrove yang ada di ujung muara. Bentuk kegiatan susur hutan mangrove dan melihat lebih dekat dan merasakan rimbunnya hutan mangrove. Dan ternyata ada banyak bakau yang telah ditanam dan tumbuh dengan subur di kawasan ini. Setidaknya ada 3 kali penanaman bakau dengan ragam usia bakau dari 1 tahun-3 tahun. Tampak jelas bahwa bakau-bakau yang ditanam dibawah kooordinasi pemuda setempat "Yusri Mampie" tumbuh dengan sehat. Bagian muara sungai yang kaya akan lumpur dan pasir menjadi tempat yang paling baik dan memberi nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan bakau. Setealh puas melihat bakau-bakau mungil ini kami bertolak ke tujuan selanjutnya. Kembali kami menaiki perahu Balaq-balaq dengan ditemani guide dan pemilik perahu menuju muara sungai Galeso.

tepian sungai matakali bermuara di tanjung mampie

Bagian tepian muara sungai Matakali yang ditumbuhi bakau dan berbatasan dengan tambak ikan bandeng dan daerah Garassi di Sebelahnya (Foto : Muhammad Tom Andari)

Di muara sungai Galeso tidak jauh beda dengan muara sungai Matakali, hanya saja di muara ini ada pulau kecil yang isinya hampir keseluruhan mangrove. Di bagian selatan pulau kecil ini ada juga sebuah makam. Menurut informasi masyarakat setempat, makam tersebut adalah makam Tosalama Mettuleq. Sama dengan makam di muara sungai Matakali, di makam ini orang orang juga biasanya datang berziarah karena nazar, dan hajat tertentu.

Ketiga sungai yang ada di muara sungai Mampie membentuk liukan aliran sungai yang menarik saat dilihat dari Google Map (Peta Google). Jika pernah melihat gambar sungai Amazon liukannya mungkin hampir mirip namun sisi-sisi hutan di muara sungai Mampie tidaklah terlalu lebat seperti di Amazon, karena di Mampie ada tambak ikan bandeng di sisi sebelahnya.

Liukan sungai ini secara jelas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sajian menarik untuk atraksi wisata, terutama bagi para turis atau wisatawan mancanegara. Wisatawan lokal mungkin akan terbiasa dengan sajian ekowisata seperti ini, namun tidak dengan wisatawan mancanegara. Ini adalah bagian dari tur wisata yang akan sangat disukai.


Penulis :

alif bahriAlif Bahri, berstatus sebagai pelajar di SMU Neg. 1 Polewali, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, saat ini sedang menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Menyukai dunia travelling, kepetualangan serta fotografi tema "human interest" dan "landcsape"

Kontak Saya :

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018