Online 66 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Hei Mampie, Kami Datang, Ayo Bangun (Surga Ekowisata) – Bagian 3

Hei Mampie, Kami Datang, Ayo Bangun (Surga Ekowisata) – Bagian 3 Cetak
oleh Askar Al Qadri   
Kamis, 19 Januari 2017 23:53 | Tampil : 519 kali.

Saat ini, mungkin Mampie sedikit bersedih akibat abrasi hebat yang melanda daerah di sekitarnya, terutama pada wilayah bibir pantai. Akibat terjangan ombak keras ini nampak sangat jelas terlihat kerusakan di Wisata Pantai Mampie. Beberapa foto yang cukup fenomenal menampakkan kerusakan akibat abrasi ini, sempat di abadikan Kanda Yusri Mampie dalam akun Facebook  miliknya pada tanggal 17 januari 2017.

Di sana terlihat jelas Aula dan beberapa gazebo hancur akibat abrasi ini. Lebih prihatin lagi melihatnya, ketika merunut masuk kedalam kolom komentar kiriman Kanda Yusri Mampie, yang mengatakan, “Dulu ban itu berada di belakan gasebo, sekarang udah habis.” Menunjukkan begitu hebatnya terjangan abrasi sampai meluluhlantahkan sebagian properti yang berdiri di sekitaran Pantai Mampie.

pantai mampie abrasi januari 2017

Gambaran abrasi di Pantai Wisata Mampie, desa Galeso, kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar (Foto : Askar Al Qadri)

Sontak, kiriman ini pun menjadi buah bibir dan telah beberapa orang yang ikut membagikan kiriman tersebut sebagai tanda keprihatinan terhadap salah satu objek wisata yang populer di kab. Polman.
Terlihat dari tagar (Hastag) #Savepantaimampie, mereka yang turut membagikan hanya berdoa agar salah satu objek andalan yang ramai di kunjungi ini segera mendapat penanganan serta solusi jitu. Setidaknya meminimalisir terjadinya abrasi.
_____
Namun, saya dan kawan-kawan dari Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar/KDM) tidak hentinya memperkenalkan dan tidak letihnya terus menjelajahi surga budaya serta wisata. Khususnya saat ini, kita masih berada di lokasi Mampie. Masih merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya Tentang Penyu dan Ujung Mampie (Bagian 2)

Kenyataan yang kami lihat sungguh di luar dugaan. Ini masih berada dalam kawasa Wisata Mampie. Tepatnya di Dusun Mampie, Desa Galeso, Kec. Wonomulyo, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ternyata Mampie diam-diam menyembunyikan surga ekowisatanya yang menurut pengamatan kami secara langsung setelah puas menikmati, layak menjadi rekomendasi wisata baru bagi Anda yang berkunjung ke Mampie.

Setelah rasa penasaran saya dan kawan-kawan dari Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar/KDM) terobati dengan mengunjungi dan mengamati secara langsung Ujung Mampie yang bila di lihat kembali melalui citra satelit  Google Maps, sangat mirip dengan tungkai penyu.
______
Mendengar arahan dari guide kami, Kanda Yusri Mampie, ia pun mengajak kami kembali ke tempat semula. Yaitu tempat kami memarkir kendaraan di salah satu rumah nelayan yang tak jauh dari tempat kami saat ini, yakni Ujung Mampie. Katanya, “Mari kita lanjutkan perjalanan kita.”
Setiba di sana, saya sendiri tidak tahu akan kemana kaki ini akan dilangkahkan lagi. Di sana kami hanya terdiam. Sementara Kanda Yusri terlihat sibuk berbincang, nampaknya ia sedang merencanakan sesuatu dengan beberapa nelayan di sana.  Sementara yang lain sudah mengeluh merasa kelaparan. Saya sudah termasuk di dalamnya.

Terlihat salah satu nelayan mengambil beberapa botol berisi bahan bakar premium, lalu berjalan menuju bibir pantai. tak lama setelahnya, Kanda Yusri menyusul. Begitu juga beberapa dari kami, ikut berjalan di belakangnya. Hanya beberapa langkah dari rumah nelayan yang kami singgahi, ternyata kami di ajak kembali ke bibir pantai. Ini adalah rute yang kami lalui untuk menuju ke Ujung Mampie tadi. Di sana masih terlihat beberapa anak-anak dan orang tua berada di atas gazebo masih melakukan aktivitas memancing. Ada yang sedang memasang umpan, melontarkan kail nya ke laut, juga ada seorang anak yang berhasil memancing dan mendapatkan ikan, pemandangan khas tepian pantai.
_______
Sang nelayan mengambil beberapa botol bahan bakar premium dan mengisi tangki mesin perahunya. Oh ia, perahu atau sampan di tepian Ujung Mampie punya nama sendiri, namanya "Balaq-balaq". Tidak tahu secara pasti mengapa di namakan balaq-balaq. Namun bagi saya, di mana pun berada, setiap melihat perahu nelayan pasti mata saya akan tertuju ke tulisan-tulisan unik yang biasanya terletak di pinggiran perahu. Tulisan di lambung bagian belakang perahu yang satu ini adalah “Pammase” ini adalah bahasa Mandar lokal. Jika ditransformasi ke bahasa Indonesia, bisa berarti “Berkah”.

perahu balaq balaq mampie polman

Tulisan "Pammase" di lambung perahu balaq-balaq (Foto : Askar Al Qadri)


perahu balaq balaq mampie

Jenis perahu balaq-balaq di ujung Mampie, desa Galeso, kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar (Foto : Askar Al Qadri)

Telah nampak bahwa semoga perahu ini mendatangkan keberkahan baik pemiliknya maupun bagi orang lain yang melihat ataupun naik diatasnya.

Ternyata perahu “Balaq-balaq” ini sengaja di siapkan untuk kami. Sebenarnya di sini ada dua perahu. Namun perahu satunya berada jauh dari kami. Di sana juga ada nelayan yang sedang sibuk mempersiapkan perahu tersebut. Jika di lihat sekilas, perahu balaq-balaq ini hanya mampu menampung maksimal 4 orang. Sudah termasuk pengemudi perahu.

Mengingat kami yang berjumlah 8 orang (sudah termasuk pengemudi kapalnya), kami pun di bagi menjadi dua kelompok. Satu perahu masing-masing di isi kuota 4 orang. Saya sendiri memilih perahu Pammase ini. Bersama Kak Tom dan Wahyu Amril.
____
Mesin perahu pun di nyalakan dan kami mulai meluncur dengan cepat. Agak sedikit takut berada di atas perahu ini. Selain bentuknya yang mungil, sedikit gerakan saja perahu balaq-balaq ini pasti terguncang. Sedikit tips bagi Anda yang perdana akan menaiki balaq-balaq seperti saya. Yaitu tetap duduk dan usahakan berada di tengah agar keseimbangan tetap terjaga. Kedua, jangan membuat gerakan-gerakan yang dapat memicu terguncangnya perahu ini. Dan terakhir adalah tetap berdoa kepada Ilahi agar di berikan keberkahan dalam setiap perjalanan.

Di atas perahu yang sedang berjalan, kami melihat beberapa gazebo di tengah laut. Terlihat seperti rumah, lengkap dengan tiang dan atapnya. Hanya saja ini berdiri jauh dari bibir pantai. Saya lebih nyaman menyebutnya “Rumah-rumah”. Terlihat rumah-rumah di sana sebagian ada penghuninya. Mungkin ini beberapa nelayan yang tinggal di pesisir pantai Mampie. Menjadi bumbu-bumbu manis perjalanan, di setiap kami melalui rumah-rumah itu, nelayan-nelayan di sana melemparkan senyuman ramahnya sambil melambai-lambaikan tangannya kepada kami. Sedikit lesung pipih terlihat ketika Kak Tom Andari dengan senyuman khasnya  membalas sapaan beberapa nelayan itu dengan penuh kebahagiaan. Nampaknya ia sangat menikmati trip kali ini. Telunjuk tangan kanannya tidak henti-henti menekan tombol jepret kamera yang ia bawa untuk mengabadikan momen perjalanan kali ini.
_____

Dengan sangat hati-hati, dan berusaha agar tidak terlalu bergerak, saya mencoba meraih smartphone di saku celana. Meski agak sedikit sulit, namun saya berhasil meraihnya. Sekedar ikut mengabadikan momen di atas perahu.

Karena terlalu asik menikmati perjalanan, di dukung dengan pemandangan langka bagi saya, kami baru sadar kalau ternyata air yang kami lewati sekarang sudah agak berwarna kecokelatan. Dengan pepohonan lebat diantaranya, seolah-olah ini seperti gerbang besar yang sengaja di buat untuk menyambut kedatangan kami. Ini beberapa foto yang saya maksud :

sungai mampie

Muara sungai Mampie desa Galeso, kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar (Foto : Askar Al Qadri)

muara sungai mampie

Muara sungai Mampie dengan gerbang mangrove di kanan dan kiri. Objek ini terletak di  desa Galeso, kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar (Foto : Askar Al Qadri)

Rasa penasaran kembali merasuki saya tentang bagaimana jika perjalanan atau titik kami berada sekarang di lihat menggunakan aplikasi Google Maps? Lagi-lagi, untuk menjawab rasa penasaran sendiri, kembali saya menyalakan data seluler guna tersambung ke jaringan internet....

Bersambung....


Penulis :

askar al qadriAskar Al Qadri, aktif di komunitas Stand Up Comedy Polewali Mandar, mahasiswa Institut Agama Islam DDI Polewali Mandar, alumni Madrasah Aliyah Negeri Polman, hobi travelling, menyukai dunia kepetualangan, dan promosi wisata.

Kontak Saya :

 



 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017