Online 24 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Kuliner Bolu Paranggi Wonomulyo Milik Pak Hamusah Yang Menusantara

Bolu Paranggi Wonomulyo Milik Pak Hamusah Yang Menusantara Cetak
oleh Muhammad Junaedi Mahyuddin   
Senin, 24 Februari 2014 07:45 | Tampil : 2754 kali.

Pagi itu, hari Senin sekitar jam setengah delapan pagi dengan muka yang masih berbau. Bersama sepupu berkeliling kota Wonomulyo. Keliling kota Wonomulyo rutin saya lakukan ketika akan meninggalkannya untuk sementara. Start dari rumah yang beralamat di Banua baru hingga berakhir di jalan Cerbon. Sungguh perjalanan keliling kampung sangatlah mengesankan karena dikesempatan tersebut saya mengetahui bahwa di sekitar kampung saya/tetangga kampung ada penjual bolu paranggi yang menusantara. Warungnya sangat sederhana, tampak dari jalan mirip dengan pos ronda yang berdinding kain. Akan tetapi jangan terlalu cepat menilai tampilan warung tersebut dari luarnya. Sebab dari warung tersebut atau tangan pak Hamusah dan ibu Hidayah telah lahir beribu-ribu kue bolu paranggi yang telah menusantara bahkan telah menginjakkan kaki hingga ke tanah suci (Mekkah).

Menurut salah seorang pelanggan yang sedang membeli bolu paranggi dan hendak ia bawa ke Makassar, alasan mengapa dia membeli bolu buatan pak Hamusah karena tesktur kuenya padat tapi agak renyah dengan rasa khas karena menggunakan kayu bakar dalam memanaskannya dan bolu bapak Hamusah tahan sampai beberapa minggu. Pak Hamuzah menambahkan bahwa kuenya ini bahkan mampu tahan sampai 1 bulan hal itu dibuktikan oleh salah satu pelanggannya yang pada waktu itu membawa kuenya ke negeri Mekkah. Pada saat itu pelanggannya lupa memakan 1 kue yang di bawa ke Makkah dan setibanya di Polman ia baru melihat dan memakannya dan ternyata kue tersebut masih tetap bagus dimakan. Pak Hamuzah tak mengarang cerita tersebut, beliau berkata dengan menggunakan bahasa Mandar "di'e carita anak tania anu ukarang-karang, paalli'u toi iyau sendiri mauang bassa di'o"

bolu paranggi pak hamusah cirebon wonomulyo

Pak Hamusah saat memindahkan Bolu Paranggi yang telah matang (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin)

Cukup mudah menemukan warung penjual bolu paranggi yang menusantara itu. Tepatnya berada di jalan cerbon sebelah kanan ketika kita masuk dari arah Mesjid Raya Merdeka. Tak ada penanda khusus di warung tersebut yang sering kali kita temukan di warung-warung lainnya, semisal: "di sini jual........ " Untuk mengetahui keberadaan warung tersebut hanyalah kepulan asap yang menjunjung ke atap yang meluber ke sela-sela pepohonan yang ada di samping warung tersebut ketika kita menyusuri jalan tersebut di pagi hari atau menanyakan saja pada masyarakat yang anda temui di jalan cerbon.

Saking sibuk atau lamanya pak Hamusah berjualan bolu paranggi pada saat menanyakan kepada pak Hamusah, sejak kapan dia mulai berjualan. Beliau sudah lupa sejak kapan beliau berjualan bolu paranggi. " Inddiangmi uingarang kandi" kata pak Hamusah. Pak Hamuzah hanya mampu menuturkan bahwa awalnya mereka berjualan di bawah rumahnya yang berada di belakang warungnya saat ini, sambil menunjuk rumahnya. Tapi dengan sering banyaknya pesanan Pak Hamuzah dibantu kerabat memindahkan tempat jualannya ke depan rumahnya.

Ketika saya bertanya siapa-siapa saja yang menjadi pelanggannya, pak Hamusah menjawab sambil tersenyum, pelanggan saya adalah orang yang akan berkunjung ke kampung keluarganya sebagai oleh-oleh dari mereka, dan sudah sering pula dibawa ke Kalimantan, Bali, Jawa dan Jakarta atau minta untuk dikirimkan. Dan sering pula dijadikan oleh-oleh para pejabat teras kecamatan Wonomulyo hingga kabupaten ketika menerima tamu kunjungan dari daerah lain.

Pak Hamusah tidak hanya menjual bolu paranggi. Pak Hamusah juga menjual bolu tallo. Yang menjadi pembeda bolu paranggi dengan bolu tallo hanya dari bahan dasar yang digunakan. Bolu paranggi berbahan dasar gula merah dan bolu tallo berbahan dasar tallo. Dari warna dan bentuk cukup berbeda, bolu paranggi berwarna merah yang kecoklatan yang berbentuk bundar bawahnya sedangkan bolu tallo berwarna kekuningan dan berbentuk persegi panjang.  Harga jualnya pun berbeda, bolu paranggi di jual dengan harga 3000,  untuk 3 buah kue sedangkan bolu tallo dengan harga 5000, untuk 4 buah kue. Semenjak harga gula merah dan tallo (telur) naik harganya pun ikut naik, dulunya Rp 500 per buah. Dari Harga bolehlah naik, kita tak perlu kecewa dengan kenaikan harga tersebut karena saya yakin jika kita mulai mencicipi kue tersebut harga kuenya saat ini tidaklah mahal dengan kenikmatan yang akan kita dapatkan ketika mencicipi kue tersebut, apalagi menikmatinya dengan secangkir kopi atau teh hangat.

Dari warung Pak Hamusah dapat dijadikan penanda tambahan bahwa di daerah Polewali Mandar sangat banyak dan mudah menemukan jajanan oleh-oleh atau sekedar pelengkap kopi dan teh hangat. Di mulai dari golla kambu, kasippi, gogos, baruas, putu, bolu paranggi, dan tentunya masih banyak lagi.


Penulis :

muhammad djunaedi mahyuddinMuhammad Junaedi Mahyuddin, saat ini menetap di Jati Sari - Semarang, Jawa Tengah, domisili asal di Kelurahan Banua Baru Kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar. Menamatkan pendidikan di SMU Neg 2 Polman dan alumnus Universitas Negeri Makassar. Hobi menulis artikel bertemakan budaya, menyukai dunia pendidikan, fotografi, serta travelling.

Kontak Saya :

facebook :  https://www.facebook.com/muhammad.j.mahyuddin
twitter : https://twitter.com/lelakimandar_
blog :  http://lelakimandar.blogspot.com

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017