Online 12 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Opini Melabuhkan Sandeq Di Tempat Yang Layak

Melabuhkan Sandeq Di Tempat Yang Layak Cetak
oleh Muhammad Junaedi Mahyuddin   
Senin, 16 September 2013 21:00 | Tampil : 1630 kali.

Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan Host Liebner (salah satu peneliti sandeq) di media elektronik Radar Sulbar. Di tulisan tersebut Liebner menyampaikan kegelisahan tentang sandeq “Rencana sandeq, awal matinya”. Terlepas dari pro dan kontra perlombaan tahunan sandeq yang saya baca dalam tulisan tersebut, ada hal yang patut kita cermati bersama. Sampai saat ini sandeq sudah sangat terkenal, terbukti bahwa di pertengahan bulan juli nanti lopi sandeq akan menjadi tamu utama di acara festival perahu layar terbesar di dunia, “Brest Festival” mewakili Asia, juga kita tentu tak akan lupa pada Festival kebudayaan kemarin tim dari Sulawesi Barat mendapatkan juara I (pertama) berturut-turut yang dimana lopi sandeq ikut andil dalam kemenangan tersebut dan ditambah lagi lopi sandeq saat ini bercokol di lambang Sulawesi Barat dan Polewali Mandar.

Melihat keberhasilan lopi sandeq saat ini, akan menimbulkan rasa penasaran bagi masyarakat Indonesia (khususnya, luar sulawesi barat) dan mancanegara yang mendengar atau melihat tentang sandeq. Mereka akan berkunjung ke tempat sandeq itu berada, mau tidak mau kita harus sigap dengan kedatangan mereka ini. Museum-Desa wisata Masyarakat Mandar (kita dan pemerintah) harus merespon aktif prestasi luar biasa yang ditorehkan Sandeq di kancah internasional maupun lokal.

lomba perahu sandeq mandar

Perahu Sandeq saat mengikuti lomba adu kecepatan dalam Sandeq Race 2013 (Foto : Harris Rinaldi)

Sandeq merupakan icon Sulawesi barat yang sudah saatnya mendapatkan tempat yang layak. Sandeq ada ketika ada pada acara-acara tertentu yang diselenggarakan tiap tahun. Pertanyaannya, ke mana Sandeq ketika perlombaan Sandeq (sandeq race) itu sudah berakhir? apakah ada jaminan bahwa sandeq akan tetap ada sampai 100 tahun lagi? Mengingat bahwa Sandeq saat ini sudah jarang digunakan para nelayan dan menghitung biaya yang diperlukan untuk penyelenggaraan perlombaan yang dimana pemerintah kadang setengah hati dalam pelaksanaan lomba tersebut. Jika ini dibiarkan, saya berani membayangkan ke depannya Sandeq hanya akan menjadi kenangan. Pemerintah sebagai penentu kebijakan harus mendukung setiap elemen-elemen budaya untuk mengangkat dan meningkatkan karakter daerah kita. Padahal kita ketahui bersama bahwa Sulawesi barat kaya akan kebudayaan, di mulai dari pattuqdu, pakkacaping, passayang-sayang, parrabana towaine, pammacca, dll. Tinggal bagaimana kekayaan budaya kita itu dikelola secara baik dan profesional.

A. Masri Masdar mengemukakan pada kata pengantar buku Sandeq Perahu Tercepat Nusantara (Ombak, 2010) yang ditulis oleh Muhammad Ridwan Alimuddin “saat ini satu-satunya kebudayaan Mandar yang rutin mendatangkan wisatawan luar negeri dalam tiap tahunnya adalah Sandeq! Melihat potensi ini, tentu akan sangat dapat memberikan mamfaat untuk warga dan pemerintah Sulawesi barat”. Sejalan yang ditulis Liebner pada harian Radar Sulbar (online) “Sandeq Race menjadi daya tarik yang amat besar bagi pelayar internasional yang meramaikan Makassar antara akhir Agustus dan awal September. Jelas, dengan itu nama lopi sandeq makin menyebar ke dunia, dan bahkan ada beberapa perahu yacht yang mengunjungi Mandar untuk mengunjungi kampung asal rekan-rekan pelaut yang tadinya mereka temui di Makassar”.

Sudah saatnya Sandeq dibuatkan museum atau paling tidak menjadikan daerah pembuat Sandeq sebagai desa wisata yang dapat dikunjungi. Agar ke depannya dapat menjadi tempat alternatif parawisata bagi wisatawan yang melancong ke Sulawesi Barat, tempat yang nyaman bagi para peneliti, atau paling tidak sebagai sarana pendidikan tempat pengenalan budaya bagi anak siswa/i kita yang ingin mengetahui kebudayaan mereka lebih dalam. Dalam pendidikan Di sekolah para guru dan kurikulum yang diajarkan hanya mendorong untuk belajar keras untuk mendapatkan nilai akademik yang memuaskan, namun lupa untuk memupuk kesadaran budaya mereka.

Memasukkan pembahasan Sandeq ke dalam kurikulum pendidikan tentu merupakan sebuah langkah yang tepat dalam upaya mempertahankan eksistensi Sandeq di litaq pembolonganta (sulawesi barat). Akan tetapi materi yang disajikan kepada peserta didik jangan hanya sebatas mengajarkan peristiwa yang pernah terjadi, tetapi lebih kepada pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nah, disinilah pentingnya museum atau desa wisata itu, karena para pendidik dapat menggunakan metode pembelajaran study tour/ karya wisata terhadap mata pelajaran sejarah budaya (lopi sandeq) di sekolah. Hal ini akan efektif karena peserta didik akan lebih mudah memahami nilai dari makna, perjuangan nelayan Mandar dalam mengarungi laut dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di lopi sandeq dibanding hanya membahasnya di dalam kelas saja. Lopiq Sandeq adalah identitas masyarakat Sulawesi Barat yang sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikannya.

Penulis :

muhammad djunaedi mahyuddinMuhammad Junaedi Mahyuddin, saat ini menetap di Jati Sari - Semarang, Jawa Tengah, domisili asal di Kelurahan Banua Baru Kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar. Menamatkan pendidikan di SMU Neg 2 Polman dan alumnus Universitas Negeri Makassar. Hobi menulis artikel bertemakan budaya, menyukai dunia pendidikan, fotografi, serta travelling.

Kontak Saya :

facebook :  https://www.facebook.com/muhammad.j.mahyuddin
twitter : https://twitter.com/lelakimandar_
blog :  http://lelakimandar.blogspot.com

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018