Online 20 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Opini Ironi Wisata Di Pesisir Pantai Majene

Ironi Wisata Di Pesisir Pantai Majene Cetak
oleh Fatiyah Mubarak   
Rabu, 25 September 2013 20:36 | Tampil : 2079 kali.

Majene, Sulawesi barat merupakan daerah pesisir yang sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Banyaknya daerah pantai ini merupakan salah satu daya tarik atau tujuan wisata. Ada beberapa kampung nelayan di pesisir pantai dan laut yg berada di kota Majene yang menunjukkan identitas Majene sebagai salah satu daerah pesisir tapi sungguh ironis keadaan pantai maupun lautnya yg tidak dilestarikan dengan baik sehingga keindahannya pun sirna oleh tumpukan sampah yang menggerogoti laut dan pantai sejak bertahun-tahun lamanya.

Daerah pesisir yang disamping berfungsi sebagai pusat penopang kegiatan ekonomi nelayan dan menjadi pusat kunjungan wisata bahari di kota Majene, kini hanyalah sebagai sarang penyakit, bagaimana tidak sampah bertebaran dimana-mana, pasir pantai pun tak tampak lagi, bau busuk pun sudah sangat menyengat, air laut dan pantai pun sudah sangat tercemar dengan iindikasi perubahan warna air yang keruh, kecoklatan bahkan berlendir sehinnga tak tampak lagi keindahan dari laut dan pantai tersebut. Keindahan alam yg seharusnya bisa membuat orang-orang tertarik dan terpesona oleh keindahannya malah membuat orang menjauh dan menghindar.

pantai tanangan majene

Gambaran kondisi pantai di Majene yang tercemar oleh limbah (Foto : Fatiyah Mubarak)

Keadaan yang telah berlangsung sudah sejak lama, entah apakah menjadi sudah pemakluman ataukah hal yang dianggap sebagai bagian dari kehidupan. Bahkan kebiasaan tidak menjaga kebersihan pantai telah menjadi "budaya negatif" yang hampir tidak pernah disadari oleh warga disekitar daerah pesisir pantai ini. Lalu ketika kita berbicara soal pesona pantai seperti struktur pasir maka semuanya akan "hilang" saat ini. Pesona-pesona ini tertutup oleh sampah rumah tangga yang begitu banyak.

pesisir pantai tanangan majene

Sampah yang berserakan menutupi pasir pantai di daerah Tanangan Majene (Foto : Fatiyah Mubarak)

Gambar di atas menunjukjan tingkat pencemaran pesisir pantai Majene yang sangat memprihatinkan dikarenakan penduduk atau masyarakat di sekitar lingkungan Tanangan tidak memperhatikan kesehatan lingkungan terutama kebersihan dan keindahan laut maupun pantainya. Pun masyarakat sepertinya bersikap cuek dan acuh tak acuh terhadap keadaan ini, sementara kesehatan lingkungan dan kesehatan diri mereka terancam oleh kemungkinan timbulnya penyakit.

lingkungan pantai tanangan majene

Berbagai macam limbah rumah tangga yang mencemari pesisir pantai Majene di daerah Tanangan (Foto : Fatiyah Mubarak)

Lalu apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahan "budaya negatif" tak peduli pada panta ini. Jawabannya ialah ada berbagai macam faktor yang berperan didalamnya, diantaranya yaitu adanya tindakan membuang sampah baik sampah rumah tangganya maupun kotoran (tinja) di pesisir pantai maupun laut dan mereka bermasa bodoh akan hal tersebut seolah hal tersebut bukanlah masalah yang tidak perlu diperhatiakan ataupun dikhawatirkan, belum lagi dengan keadaan tidak adanya perhatian masyarakat dalam  mengelolah sampahnya dengan baik dan benar ,tidak adanya perhatian untuk melestarikan laut maupun pantainya sendiri dan secara sadar untuk menjaga kebersihan pantai dan laut dari kotoran serta limbah lainnya.  Dan satu hal yang juga paling berpengaruh adalah tidak adanya tindakan nyata untuk menjaga kebersihan pantai ataupun laut dari pihak pemerintah dan tindak tegas dalam peraturan perundang-undangn daerah mengenai pencemaran lingkungan khususnya pemcemaran laut dan pantai.

Jika kemudian hal-hal tersebut diatas belum dapat diatasi dengan baik maka jangan heran jika masalah-masalah kesehatan, program kepariwisataan akan berjalan dengan sukses. Dunia pariwisata sejatinya selalu digerakkan oleh masyarakat, ada warga lokal yang menjadi ujung tombak dalam menyambut pelancong yang datang dari luar daerah, yang kemudian akan menunjukkan daerahnya yang bersih serta bebas dari "gangguan estetis" limbah, kotoran atau sampah.


Penulis :

fatiyah mubarakFatiyah Mubarak, saat ini menetap di kab. Majene, hobi travelling, fotografi dan masih berstatus sebagai mahasiswa di Jurusan Epidemiologi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Bangsa (STIKES) Bina Bangsa Majene. Menggemari dunia kesehatan , budaya serta wisata lokal yang ada di daerah Sulawesi Barat

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/fatiyah.mubarak

 

Comments 

 
#1 2013-12-30 08:22
ada pandeng
Quote
 
 
#2 2013-12-30 23:08
temang kuu tiaa inieeee,,, eheheheh
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018