Online 24 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Opini Beruq-Beruq Dalam Balutan Rok Mini

Beruq-Beruq Dalam Balutan Rok Mini Cetak
oleh Noorwahid Sofyan   
Minggu, 24 November 2013 06:36 | Tampil : 2085 kali.

Shubuh baru saja berlalu, dan saat itu saya berniat jalan-jalan menghirup udara segar pagi hari. Tiba-tiba mataku menangkap gerak bening paha mulus yang melintas. Gimana gak kelihatan dengan mata terang, wong pemiliknya perempuan cantik yang cuma dibalut rok mini kok?! Ketika kuperhatikan, wajah ayu itu malah sempat tersenyum saat laju motornya harus melambat karena dihadang polisi tidur. Aku balas senyum manis itu sambil mengucap alhamdulillah kemudian astagfirullah dalam hati. Untung aku tidak mabuk kepayang apa lagi sampai jatuh pingsan! Haduhh, rok mini rok mini dan ini masih pagi. Gumamku dalam hati.

Pernah juga kulihat hal serupa di kampung. Siapa yang tidak mengenal busana minim yang menutupi bagian atas lutut kaum hawa itu? Rok mini adalah pembungkus area paha, pinggang, bokong dan selangkangan pemiliknya, baik itu mereka yang mulus maupun yang korengan. Tapi, jangan salah menerka dulu! Tulisan ini tidak akan membahas isi di dalamnya melainkan hanya mencoba menghubungkannya dengan bagian kecil sejarah dan budaya. Dalam pada itu, selalu ada hal yang dianggap sepele tetapi berefek luar biasa bagi kehidupan manusia. Bahasa kerennya; kecil tapi menjadi sebab dari akibat yang cetar membahana. (lagi ingat Syahrini)

Rok mini menempati makna yang khas dalam sejarah kebudayaan sebab ia adalah ranah perempuan, dan perempuan adalah pilar peradaban manusia. Ada yang memakainya karena alasan pragmatis; katanya cocok dengan iklim di nusantara yang tropis. Ada pula yang mengenakannya atas dasar sekedar ingin bergaya dengan mengikuti trend mode modern. Juga tidak sedikit wanita yang mengaggapnya sebagai representasi perlawanan terhadap kemapanan ideologi laki-laki (phallosentrisme). Sementara kaum agamis melihatnya sebagai bentuk degradasi moral kaum perempuan.

"Petite Histoire" rok mini
Saya teringat dengan istilah ini; sejarah kecil alias petite histoire. Bahasa Perancis yang dipopulerkan Rosihan Anwar ini memang selalu menarik dikaji. Itu juga menautkan pikiran dengan memori dalam lapisan koteksku perihal Arundaty Roy dalam novelnya ‘God of small things’ yang menemukan Tuhan dalam ragam rupa yang kecil. Bahkan hal itu menjadi titik balik bagi aktivisme politiknya menentang setiap tiran di dunia non-fiksi. Yang kecil-kecil itu telah menjadikan Arundathy sebagai salah satu perempuan India yang ‘kiri’.

Kembali ke soal rok mini dan sejarah kecilnya tadi. Konon arkeolog telah menemukan bukti tentang perempuan-perempuan pada zaman batu yang menggunakan rok mini bersama dengan atasan pendek dan gelang. Orang-orang yang hidup lebih dari 7.500 tahun yang lalu itu meninggalkan serangkaian patung-patung batu yang terukir menunjukkan busananya di situs seluas 120 hektar yang sekarang disebut Plocnik bagian selatan Siberia (Majalah Historia, ed September 2011).

Di abad modern, rok mini telah digunakan sejak 1958. Berdasarkan sumber yang sama, busana tersebut dikembangkan oleh para desaigner kondang Eropa seperti Mary Quant di Inggirs, André Courrèges di Perancis yang lahir 1923 dan desainer Inggris lain yang bernama John Bates kelahiran 1938. Tidak ada kesepakatan perihal siapa yang pertama kali memperkenalkannya di zaman modern, namun menurut ulasan majalah historia, Mary Quant punya peran yang signifikan dalam mempopulerkannya. Dan rok mini terus memgalami perkembangan dalam beragam variasi warna dan model.

Namun yang tak kalah menarik di balik fenomena ini adalah seputar kontestasi sosial politik kaum perempuan dalam sejarah berkenaan dengan rok mini. Dekade 60-an hingga 70-an, rok mini menjadi simbol perlawanan kaum perempuan. Mereka menggunakannya sebagai ekspresi kebebasan dari kungkungan budaya patriarki sekaligus menyuarakan slogan-slogan kebebasan melalui rok mini.

Slogan kebebasan di mana rok mini turut andil di dalamnya itu, banyak disuarakan oleh kaum muda dan peristiwa itu tidak dapat dilepaskan dari fakta-fakta bersejarah yang terjadi di Eropa dan Amerika. Di Perancis terjadi revolusi kaum muda yang akhirnya gagal di tahun 1968, pembangkangan kaum homo dan Lesbi tahun 1969 di Stonewall, Amerika Serikat. Atau perkembangan filsafat eksistensialisme yang banyak mempengaruhi kaum feminis di dunia. Begitu juga dengan protes-protes anak muda tahun 60-an di Eropa yang menyurakan pikiran-pikiran revolusioner, menggugat sistem politik, sosial dan tatanan moral yang didominasi kaum tua. Tapi itu dulu. Sekarang tentu ia punya makna yang berbeda.

Pandeng Korban Iklan
Mungkin ada yang berkilah bahwa di zaman dulu perempuan mandar pun tampil dalam busana yang terbuka. Sampai sekarang pemandangan itu pun masih ditemui di desa-desa setiap pagi dan sore hari saat penduduk pergi ke sungai untuk mencuci, mandi atau mengambil air bersih. Lantas apa salahnya menggunakan rok mini? Toh seksinya tidak berbeda jauh dengan perempuan di daerah pedesaan. Tampilan busana mereka terbuka, tapi tidak ada yang mempermaslahkan. Demikian kilah mereka.

Mereka seksi bagi orang kota, tapi di desa itu biasa saja karena gairah hanya diumbar di atas ranjang pengantin setelah diabsahkan agama, berbeda dengan di kota-kota. Tapi permasalahan sekarang adalah wilayah mana yang tidak terlepas dari pengaruh globalisasi? Di belahan bumi mana sekarang ini, ditemukan tempat yang benar-benar terisolasi dan tidak terpengaruh oleh deru modernisasi?

Jawabnya sedikit sekali. Bahkan hampir semua kampung-kampung juga ikut terpapar pengaruhnya sebagai konsekuensi pembangunan. Mereka yang sudah tersentuh, tentu merasakan dahsyatnya pengaruh industri media dan hiburan yang kemudian membangun citra dan mempengaruhi pikiran dan tingkah keseharian, termasuk gaya berpakaian. Televisi sebagai bagian dari budaya masa kini telah banyak mengekspose keseksian. TV berperan besar mengangkat bagian dalam jiwa manusia yang berhubungan dengan interaksi lawan jenis (libido, eros dan thanatos) yang semula bersembunyi dalam bawah sadar manusia, kemudian muncul ke permukaan kesadaran. Karena televisi, yang sexy tidak lagi diakses di ranah privat melainkan diumbar di ruang publik. Parahnya lagi tv menciptakan pembiasaan yang mengakibatkan budaya negatif merangsek masuk ke hal-hal yang dianggap lumrah dan biasa. Pengaruh TV, ditambah lagi pergaulan yang bebas, akibatnya? Ah, anda pasti sudah bisa tebak bahkan menyebutkan contohnya sendiri!

Selain itu fakta juga menunjukkan bahwa di belakang layar Industri televisi, ada sekelompok kecil pemilik modal yang berkepentingan besar membangun rezim mode agar ditiru. Produk mereka diiklankan dengan permainan semiotika yang canggih untuk membentuk dan membenamkan makna dalam kepala bahwa produk yang diiklankan itu akan membuat mereka cantik, modern, gaul dan punya prestise di ranah sosial, oleh karena itu harus dibeli. Bagi perempuan yang ingin dibilang cantik maka daftar produk yang harus dibeli adalah; lotion cream pemutih, pelembab wajah, bedak, lipstik, tabir surya, dll, sampai ke alat pencukur bulu yang bercap merek terkenal. Daftar itu dengan mudah ditemukan di semua channal TV setiap jeda iklan, karena memang untuk tujuan itu iklan diproduksi.

Malolo+Malaqbiq=Sexy tanpa Rok Mini
Mari memulainya dengan pertanyaan sederhana. Pantaskah perempuan ber-rok mini dan memakai model pakaian sebangsanya itu dikatakan perempuan malaqbiq? Jika rok mini yang dikenakan lebih pada perkara mengumbar aurat, mengundang maksiat serta memancing liarnya nalar dan hasrat lelaki yang melihat, tentu jawaban penyangkalan/negatif alias NO untuk menjawab pertanyaan di atas sudah ada dalam kepala setiap pembaca yang budiman. Sebab konsep ke-malaqbiq-an ditafsirkan sebagai sebuah nilai lebih yang dimiliki seorang manusia. Ia indentik dengan keluhuran budi, sikap, pemikiran dan tutur kata yang bernilai dan bermoral tinggi bahkan inilah sebenarnya derajat kecantikan tertinggi dan juga sexy bagi tomalolo.

ilustrsi beruq beruq mandar

Ilustrasi beruq-beruq Mandar (Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin)

Sedangkan jika pengguna rok mini menganggap bahwa itu busana yang memang pas digunakan untuk kondisi Indonesia yang tropis. Kenapa tidak pakai sarung saja? Atau kenapa itu digunakan di luar rumah, atau saat malam hari yang dingin, atau di atas tunggangan motor yang nota bene angin tidak hanya menelisik tapi sudah menerobos hingga ke bagian dalam. Jika ini alasannya, perempuan itu juga tidak pantas disebut malaqbiq karena otak dan pikirannya sudah tidak beres.

Sementara bagi mereka yang mungkin sok intelek atau sok aktivis yang katanya mau membela ketertindasan perempuan, (kalau pun ada di mandar) mungkin alasannya sama dengan kaum feminis liberal di eropa barat dan amerika. Mereka menganggap bahwa rok mini adalah simbolisasi perlawanan terhadap kekuasaan patriarki, baik itu ideologi maupun kekuasaan politik yang didominasi oleh kaum laki-laki. Tapi lagi-lagi kita patut bertanya, kenapa busana itu yang dipilih? Di mandar ada pejuang perempuan seperti Andi Depu yang mendapatkan penghargaan bintang mahaputra dari Proklamator Kemerdekaan RI, Presiden Soekarno. Ia melawan penjajah dengan busana khas mandar dalam balutan kerudung.

Belum lagi jika menilik lebih dalam hingga ke ranah sosial ekonomi budaya suku mandar, di mana peran perempuan bukan hanya soal dapur, sumur dan kasur tapi juga menempati posisi sebagai pilar penting dalam bangunan keluarga. Konsep siwaliparriq menempatkan perempuan (istri) dalam budaya mandar sebagai mitra laki-laki dalam mensejahtrakan kehidupan keluarga secara keseluruhan. Relasi gender dalam budaya mandar tidak menempatkan perempuan dalam posisi subordinat tapi berdaya sebagai mitra. Maka dengan ini, alasan simbolisasi perlawanan itu pun juga gugur.

Menyingkap Makna di Balik Busana
Hal di atas menegaskan bahwa busana merupakan bagian penting dalam kebudayaan manusia. Dari situ kita dapat mengungkap makna estetika dan etika yang terkandung di dalamnya. Clifford Geertz mengatakan “manusia dengan kebudayaan ibarat binatang yang terperangkap dalam jerat-jerat makna yang dia tenun sendiri”. Melalui busana kita dapat menelusuri perkembangan moral subjek sejarah yang memainkannya, sebab busana adalah salah satu simbol yang merepresentasikan nilai-nilai yang melandasi kebudayaan itu. Kita juga seringkali menilai seseorang dari cara dia berbusana bukan? Karena itu gambaran busana adalah teks yang dapat memperlihatkan kemana arah gerak kebudayaan itu berjalan.

Lantas, jika semakin banyak busana mini yang berseliweran dan mempertontonkan paha di jalan raya, apakah itu menandakan bahwa laku moral dalam hidup ini kian merosot? Silahkan jawab sendiri!

21/11/2013, di Jogja. Setelah sarapan dengan paha mulus dan senyuman manis pengguna rok mini. Gratis!


 

Penulis :

Nurwahid SofyanNoorwahid Sofyan, berasal dari kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar, suka dengan dunia travelling, budaya dan tulis menulis (puisi dan cerpen), saat ini menetap di Jogjakarta.
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018