Online 16 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Opini Catatan Singkat Untuk Para Pecinta - Jelang Setahun Kompa Dansa Mandar

Catatan Singkat Untuk Para Pecinta - Jelang Setahun Kompa Dansa Mandar Cetak
oleh Noorwahid Sofyan   
Rabu, 29 Januari 2014 22:01 | Tampil : 1310 kali.

Entah kapan tepatnya saya bergabung di group ini? sudah berapa lama? Soal itu saya tidak tahu pasti. Tapi rasa-rasanya sudah setahun yah? Entahlah yang pasti adalah ketika itu, jumlah anggotanya baru mencapai ratusan, belum sampai ribuan seperti sekarang. Alasan bergabung pun hanya karena kebetulan sebab saat itu ada beberapa teman di fb yang sepertinya sudah lama bergabung dan terlibat dalam dikusi soal lattigi. Akhirnya saya pun ikut nimbrung di dalamnya.

Lama kelamaan pun terlihat bahwa bergabung dengan komunitas ini bukan keputusan yang salah. Berbeda dengan beberapa group lainnya yang melekatkan diri dengan identitas mandar maupun SULBAR, namun bergabung di dalamnya adalah sebuah kerugian sebab isinya sama sekali nggak mutu dan tak ada untungnya. Ujung-ujungnya hanya penyesalan.

Sebagai pemuda rantau yang biasa rindu dengan kampung halaman group kompa dansa bagaikan sebuah oase di tengah padang pasir bagi para musyafir yang rindu akan kepulangan. Bahkan terkadang menjadi media provokatif yang menyulut emosi ketika content yang diunggah adalah makanan khas yang membuat air liur berproduksi melebihi ambang batas normal, atau soal gambar pandeng cantik yang seleret senyumnya tiba-tiba mampu menyeruakkan aroma beru-beruq tanah mandar. Maka sempurna sudahlah kerinduan sekaligus kejengkelan itu

Cermin Mengenal Aku

Kurang lebih setahun sudah, saya menjadi anggota di grup ini. dan sekali lagi itu bukan hal yang sia-sia tetapi justru berbuah bahagia. Dan saya percaya sebagai bukan satu-satunya orang yang merasakan itu. Tempat ini adalah rumah untuk semakin mengenal “aku”. Yang saya tau manusia gagal menjalani hidup ini jika tak mampu menjawab pertanyaan itu. Di sini saya menjadi paham bahwa hidupku bermula di tanah bertuah yang oleh leluhur disebut mandar.

Di sanalah rumahku, tempat pertama kali saya diperkenalkan dengan dunia. Juga tempat ku bercermin dan mengenal aku. Dalam psikoanalisis Jacques Lacan tahap perkembangan psikologi manusia melewati salahsatu fase yakni tahap pen-cermin-an. Saat manusia berada dalam rahim ibunya ia tak merasa berbeda melainkan berada dalam sebuah ruang yang tak terpisahkan. Berbeda ketika sang bayi lahir dan secara perlahan ia tumbuh dan sadar bahwa dirinya adalah subyek yang berdiri sendiri. Ia kemudian mengenal ibu, ayah dan keluarga yang lainnya lalu mengidentifikasi mereka sebagai yang lain (the others). Namun itu hanyalah tahap pencerminan yang kecil sebab setelah kita tumbuh besar dan dewasa kita kian banyak mengenal dunia sebagai sang lain besar (the big other) yaitu realitas yang melingkupi kita. Budaya, nilai, norma, kearifan lokal dan realitas sosial kemudian membentuk karakter kita sebagai manusia. Karena itu saya, anda, kita, sebagai manusia mandar turut dibentuk secara signifikan oleh struktur ke-mandar-an.

Kadang dalam keseharian kita tiba-tiba saja menjadi tempramen hanya karena ada orang lain yang kentut sembarangan di depan kita. Itu terjadi lantaran dalam ukuran orang mandar, itu adalah sebuah kekurang ajaran yang benar-benar kurang ajar. Juga saat kita merasa bangga bila mendengar sesorang yang bersuku mandar telah menghasilkan karya yang prestisius. Padahal itu dilakukan oleh orang lain. tapi kita tetap saja merasa senang dan bangga sebab kita memiliki identitas yang sama; satu kampung atau sama-sama orang mandar atau juga sama-sama dari SULBAR. Beda lagi ketika kita tau orang lain mengelu-elukan nama yang disebut-sebut sebagai orang yang memiliki jasa besar dalam sejarah padahal nama itu kita kenal sebagai moyang yang memiliki pertalian darah dengan kita. Maka rasa bangganya pun akan minta ampun.

Semua itu bisa terjadi sebab mandar membentuk kita menjadi demikian. Yah, saya mandar, anda dan kita semua mandar. Dan kita satu dalam group ini. kita sama-sama belajar. bukan hanya tuk saling kenal mengenal tapi juga mengakrabi dunia yang sebagian masih samar kita kenal. Karena itu kita saling bercermin di sini.

Moi Indie yang Disayang

Moi Indie adalah alias Indonesia (Hindia Belanda/indie) yang molek (moi). Yang molek dan yang indah-indah memang sedap dipandang mata. Tetapi seni dan karya yang merepresentasikan keindahan itu juga harus peka terhadap keterasingan, penderitaan dan kelaparan. Di sinilah pintu masuk terhadap kritikan terhadap mainstream seni moi indie itu.

Meminjan ulasan para pemikir postkolonial, moi indie menempati ruang kritik dalam lapangan sastra, seni dan pariwisata yang kebanyakan hanya menampilkan kemolekan-kemolekan itu. Tapi apa yang salah dengan itu? Kata para teoritikus itu, ia berimplikasi pada wilayah tanggung jawab yang seolah menafikan dan melakukan penyeleksian untuk tidak mempertontonkan hal-hal yang mengerikan seperti penjajahan, penyiksaan, keterasingan, kelaparan, penistaan, penyalahgunaan kekuasaan atau pencemaran lingkungan. Dan itu dulu dilakukan oleh Belanda untuk menutupi kebejatan mereka saat menjajah nusantara.

Seni (juga pariwisata) bukan melulu soal tampilan yang aduhai tetapi juga perkara kebahagiaan orang banyak. Ia tidak hanya ditentukan dari gagal tidaknya menyuguhkan keindahan tetapi juga menuntut tanggungjawab sosial yang seharusnya ikut mewartakan kesedihan untuk menyentil rasa kasihan dan naluri kemanusiaan.

Lalu bagaimana seharusnya Kompa Dansa? Ya berdansa saja dengan yang indah-indah itu sambil bernyanyi ca... ca.... tapi tetap kabarkan pada dunia bahwa SULBAR itu indah, eksotis dan punya nilai tambah. tetap kokoh dalam sikap kritis yang tidak apatis terhadap kondisi yang menuntut keterlibatan nurani untuk menyuarakan kebenaran. Kita boleh tidak lepas dari kacamata moi indie tapi juga harus menyayangi nusantara yang indah ini. Jika kita sayang, kita tak ingin ia dirusak bukan? Maka carilah yang indah-indah tetapi takkala menemukan keburukan yang disebabkan oknum perusak, kabarkan dengan berbagai cara sebagai isyarat bahwa genderang perang telah ditabuh demi sebuah perubahan.

kompa dansa mandar sulawesi barat desa pamboborang

Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) saat berisitirahat setelah usai menelusuri jejak sejarah, dan potensi wisata di desa Pamboborang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Tak Ada yang Hampa di Dunia Maya

Paragraf di atas terlanjur menyinggung soal perubahan. Dan baiknya memang begitu sebab jika Kompa Dansa Mandar tak bisa membuat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya maka tak ada gunanya. Meskipun kebanyakan hanya tatap muka di dunia maya kita tetap bisa menyebarkan virus cinta budaya dan pariwisata hingga ke dunia nyata.

Sejarah telah mencatat bahwa dari dalam rahim yang maya lahir dentuman dan kontraksi yang menyebabkan rezim-rezim otoriter di timur tengah bertumbangan kala gelombang demokratisasi menyapu kawasan kaya minyak itu. Arab spring telah menjatuhkan Khadafi di Libya, Husni Mubarak di Mesir, dan membakar Muhammed Bouazizi di Tunisia tapi abu mayatnya yang terbakar manjadi badai yang merontokkan penguasanya. Kejadian-kejadian di atas tidak bisa terlepas dari rangkaian sebab akibat yang bertalian dengan facebook, twitter, dan jejaring sosial yang berseliweran di dunia maya.

Kenapa bisa? Bukankan dunia maya itu ruang hampa? Bukan! Dunia maya bukan sesuatu yang hampa sebab di sana (sekarang di sini) selalu ada kata-kata. Dan kata-kata juga soal ide, pikiran dan wadah bagi otak-otak yang brilian. Maka dalam medium itu pikiran, emosi, cinta, niat baik bisa disebarkan dan ditularkan. Kita juga bisa marah, jengkel atau mungkin rada-rada geli dengan status-status lebay bin alay dari kawan kita di sosial media bukan? Itulah buktinya bahwa tak ada yang maya di dunia maya.

Setahun Berlalu dan Setelah itu Apa?

Saya tidak ingin terburu-buru menjawab pertanyaan ini. melihat perkembangan positif di group ini memang membuahkan rasa bangga tapi juga kian membesarkan harapan-harapan. Saya tau di antara pembaca juga mempunyai harapan yang membatin dan mungkin ingin anda ungkapkan bukan? Mungkin ada yang ingin agar group ini resmi dan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak yang berarti harus memiliki AD/ART yang disahkan notaris. Para politikus mungkin ingin masuk agar mendapat ruang kampanye (tapi semoga admin yang sangar dan tak kenal kompromi dalam menyortir postingan selalu sehat wal afiat).

Apapun harapan anda, itu urusan anda sendiri. Terserah. Tapi jika itu baik, “berhati-hatilah dengan apa yang anda pikirkan. Katakan dan lakukan.” Setidaknya itu pelajaran dari Satar sang tokoh dalam novel sabda di persemayaman yang menegaskan bahwa kata-kata adalah doa yang mengandung mu’jizat.

Jika anda bertanya pada saya tentang harapan itu maka harapan saya hanya satu. Semoga harapan anda itu bukan untuk menyempitkan ruang di komunitas ini. bukan untuk menghambat kreatifitas yang dijunjung tinggi di sini dan bukan mematikan semangat yang berkobar dan menyala-nyala di dada penghuni group ini.

Selamat Jelang Setahun Kompa Dansa Mandar! Selamat menari dan berdansa caa.. caa.. caa...


Penulis :

Nurwahid SofyanNoorwahid Sofyan, berasal dari kec. Wonomulyo, kab. Polewali Mandar, suka dengan dunia travelling, budaya dan tulis menulis (puisi dan cerpen), saat ini menetap di Jogjakarta.

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018