Online 34 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Sejarah Jejak Penyakit Kusta Abad 19 di Tanah Mandar Sulawesi Barat

Jejak Penyakit Kusta Abad 19 di Tanah Mandar Sulawesi Barat Cetak
oleh Administrator   
Rabu, 18 September 2013 13:15 | Tampil : 1750 kali.

Sejarah adalah gambaran mengenai kondisi masyarakat yang terjadi pada saat itu, deskripsi mengenai status kesehatan dan tingkat pemahaman populasi pada apa yang berlaku pada masa itu. Sejarah di kab. Majene dan kab. Mamasa pada sekitar tahun 1925 sampai 1929, masa pra kemerdekaan, saat pemerintah kolonial Belanda masih bercokol di daratan Mandar pernah mencatat adanya penyakit Lepra, atau yang dalam bahasa awam disebut sebagai “Kusta”. Masyarakat saat itu menurut data mengidap penyakit lepra, namun tidak dijelaskan seperti apa epidemi yang terjadi, apakah besar atau tidak.

Informasi mengenai penyakit Lepra di dua kabupaten ini dapat ditelusuri dari adanya satu jurnal kesehatan dengan penulis asal Belanda yang bernama “Kaiser L”, dalam publikasinya yang berjudul “Leprabestrijding en lëprabehandeling in de Onderafdee-lingen Madjene en Mamasa (Celebes en Onderh.) in 1925-1929”  dalam bahasa Inggris “Combating and Treatment of Leprosy in Madjene and Mamasa (Celebes) In 1925-1929” yang kemudian jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti “Memerangi dan Perawatan Lepra di Majene dan Mamasa pada tahun 1925 hingga 1929” . Tulisan ini dipublikasikan pada jurnal ilmiah yang juga berbahasa Belanda “Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsche-Indie 1930, July 1 Vol. 70 No. 7 pp. 712-724 pp” . Data publikasi jurnal kesehatan diatas dengan jelas menggambarkan bahwa terdapat kasus penyakit Lepra di kab. Majene dan Mamasa pada masa sebelum kemerdekaan. Dari data judulnya juga dapat kita lihat kemungkinan adanya kasus penyakit yang cukup banyak, hal ini terutama terlihat dari judul dalam bahasa Inggris  “Combat” yang artinya “perang” dengan kata turunan “memerangi”.

sejarah penyakit lepra mandar

Abstrak publikasi ilmiah tentang penyakit Lepra di kab. Majene dan kab. Mamasa

Penyakit lepra (kusta) atau yang biasa disebut dalam istilah medis sebagai penyakit Hansen (Morbus Hansen) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae, satu jenis bakteri tahan asam dan bersifat aerobik yang akan menyebabkan gangguan pada sistem saraf yang ada pada kulit, penebalan lapisan kulit hingga penderita kehilangan sensasi rasa di kulit. Di Indonesia orang-orang lebih akrab dengan penyakit ini lewat istilah “kusta”.

Penyakit ini berkembang secara endemik dan memiliki resiko tinggi pada kondisi lingkungan yang buruk, kondisi air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, serta sanitasi yang tidak sehat. Menular lewat kontak Hal ini kemungkinan terjadi pada masa tahun 1929-1930 di daerah kab. Majene dan kab. Mamasa seperti dijelaskan tulisan hasil publikasi Kaiser diatas. Kondisi ekonomi dan tingkat kemiskinan penduduk di wilayah ini bukan tidak mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa penyakit lepra dapat dengan mudah tertular di wilayah ini. Kondisi tingkat pengetahuan juga berpengaruh pada masa ini, dapat dipastikan tingkat pendidikan seseorang dimasa itu tidak cukup baik. Akses pendidikan yang pasti hanya dapat diakses oleh kaum-kaum bangsawan dan dari kalangan pihak kerajaan.

Dalam abstrak publikasi ilmiah ini juga kemudian dijelaskan mengenai frekuensi penyakit lepra terjadi, dan daerah-daerah tempat terjadinya penyakit serta desa-desa yang terkena imbasnya.  Namun kemudian data yang dijelaskan hanyalah merupakan abstrak singkat, bukan merupakan artikel lengkap (full text). Lalu kemudian juga dijelaskan mengenai langkah penanganan pada penyakit Lepra ini yaitu dengan penanganan pada  permukaan kulit (ulser, dan scabies) Ulser adalah penyakit yang merupakan salah satu manifestasi penyakit lepra yang berada dalam keadaan parah, dimana sebagian permukaan epitel kulit akan terbuka sementara scabies adalah biasa kita kenal dengan penyakit kudis yang disebabkan oleh adanya tungau Sarcoptes scabiei dengan ciri khas adanya keropeng, kebotakan, dan rasa gatal pada kulit. Dapat dibayangkan betapa kemudian kesehatan kulit masyarakat Mandar saat itu berada dalam titik yang paling rendah.

Saat itu pemerintah kolonial Belanda ternyata melakukan intervensi perawatan terhadap penyakit lepra ini dengan melakukan perawatan khusus dengan pemberian campuran minyak “Chaulmoogra”, “Thymol”, serta “Camphor”, ketiga campuran bahan alami ini diberikan pada masa itu pada penderita penyakit Kusta di Majene dan Mamasa. Bisa dipastikan perkembangan dunia farmasi (obat-obatan) di Indonesia dapat dikatakan belum berkembang. Pemberian “minyak Chaulmoogra” atau “chaulmoogra oil” ini memang dikenal pada zaman dahulu untuk perawatan penyakit Lepra. Pengobatan dengan minyak jenis ini telah dikenal sejak lama di dunia timur sementara ia masuk ke dunia barat pada awal abad ke 19 tepat ketika Belanda menggunakannya untuk menangani kasus kusta di daerah jajahannya. Walaupun diketahui bahwa obat ini tidak cukup ambpuh mengobati kusta, namun hanya merupakan teknik isolasi untuk mencegah agar penyakit tidak meluas. Sampai pada tahun 1950 penyakit kusta tidak dapat disembuhkan, dan penggunaan minyak ini adalah masa kegelapan pada sejarah pengobatan penyakit lepra (kusta). Belanda memang dikenal cukup concern dengan hal kesehatan di daerah jajahannya pembangunan rumah sakit di kab. Majene yang saat ini menjadi lokasi “Museum Mandar” tidak lepas dari pengaruh mereka. Mereka juga dalam beberapa dokumentasi sejarah melakukan vaksinasi pada masyarakat miskin.

minyak chaulmoogra

Minyak chaulmoogra yang digunakan untuk mengobati penyakit Lepra pada tahun 1900-an

Sisi lain pihak pemerintah Belanda pada daerah jajahannya adalah adanya intervensi penanganan kesehatan pada mereka yang membutuhkan, entah dengan motif social, atau memang merupakan bagian dari usaha untuk kembali mengambil hati masyarakat yang dijajahnya. Motif aplikasi penerapan ilmu pengetahuan mungkin juga dapat mereka ujicobakan disini. Dengan melihat efek pengobatan atau perawatan yang dilakukan,  mereka dapat belajar untuk menangani penyakit Lepra dengan lebih tanggap. Mengapa kemudian pihak pemerintah Belanda saat itu tidak menggunakan obat-obatan, analisa yang dimungkinkan adalah aplikasi ketiga bahan diatas tidak terlalu mahal dan mudah diaplikasikan, walaupun keefektifan penanganan Lepra menjadi sembuh bukan merupakan suatu jaminan.

Dari sini juga dapat kita lihat adanya kesenjangan keilmuan para penjajah dengan pihak yang mereka jajah, mereka dapat dengan mudah menolong masyarakat dapat dipastikan saat itu bodoh dan tahu apa-apa. Proses penularan penyakit lepra adalah hal yang tidak diketahui sehingga wajar jika kasus ini kemungkinan berkembang dengan luas pada masa itu.

Referensi :

  1. Parascandola J. Chaulmoogra Oil and the Treatment of Leprosy. Pharmacy in History Vol. 45, No. 2 (2003), pp. 47-57
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017