Online 34 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Sejarah Jejak Sayoang dalam Lontaraq Pattodioloang Di Mandar

Jejak Sayoang dalam Lontaraq Pattodioloang Di Mandar Cetak
oleh Administrator   
Selasa, 01 Oktober 2013 21:53 | Tampil : 1648 kali.

Sayoang, daerah pegunungan yang berada dalam wilayah kecamatan Alu kabupaten Polewali Mandar, saat ini menjadi salah satu desa di kecamatan Alu bersama-sama dengan desa Alu, desa Kalumammang, desa Puppuring, desa Mombi dan kelurahan Petoosang. Wilayahnya yang berada jauh dari ibukota kecamatan dan letaknya yang cukup sulit dijangkau membuat Sayoang jarang disebutkan. Warga di desa Sayoang terkenal dengan komoditas penghasil  gula aren terbaik di kecamatan Alu.

Jika berbicara mengenai Sayoang zaman dahulu kala maka wilayah ini juga cukup terkenal dan berbatasan dengan wilayah kerajaan Alu. Sayoang memiliki Tomakaka, yang biasa disebut “Tomakaka Sayoang”, jauh sebelum munculnya istilah Maraqdia di wilayah Mandar maka sebelumnya dikenal Tomakaka, Tomakaka sendiri adalah orang yang dituakan dan dianggap sebagai pemimpin di wilayah tersebut. Entah mengapa tidak pernah didengar tentang “Maraqdia Sayoang” mungkin ini ada kaitannya dengan penaklukan kerajaan Alu dan Balanipa pada sayoang saat kedua kerajaan ini dahulu masih berjaya.

Membuka buku Lontarak 1 karya M. T. Azis Syah di halaman 48 maka anda akan menemukan bahwa Sayoang disebutkan dalam lontarak pattodioloang di Mandar. Dalam bagian ini dijelaskan bahwa Sayoang pernah diserang oleh dua kerajaan yang bersekutu, yaitu kerajaan Balanipa dan kerajaan Alu (tidak dijelaskan tahun berapa peristiwa penyerangan ini terjadi), oleh karena “ I Kaiyyang Palasang” pemimpin Sayoang tidak memiliki kearifan dalam membawahi Sayoang. Ia diketahui memiliki budi pekerti yang tak mencerminkan figur seorang pemimpin masa itu. tidak dijelaskan secara rinci siapa “ I Kaiyyang Palasang” ini,  namun besar kemungkinan ia adalah salah satu penerus dari Tomakaka Sayoang.

sayoang mandarPetikan tentang Sayoang diserang dalam lontarak pattodioloang di Mandar

Dalam lontarak pattodioloang di Mandar disebutkan bahwa “Apa ditingara boi sajoang, siola bomi Alu to Balanipa. Apa masonga-songai  I Kaiyyang Palasang, kawatta-wattai tammasselaqlang. Katagga-taggalani. Rumpaq bomi Sajoang, nauwwang bomo litaq di Balanipa: “O ia jangan-jangan manriqba soqnaimo uala annaq ia urunganna naubeio saicco annaq dipandangnganang litaq di Balanipa annaq litaq di Alu. Napelitaq bomi alu Petoqosang ingganna buttu Pundanga, madroro naung di Bungaan” (MT Azis Syah, 1992)

Terjemahan dari  kutipan lontarak diatas yaitu “pada waktu sajoang diserang, Alu bersatu dengan Balanipa. karena I Kaiyyang Palasang kasar perangainya suka memerangi tidak pilih bulu, suka memegang perempuan. Sajoang kalah, berkata pula adat di Balanipa: “Rakyatnya kami ambil seluruhnya dan tanahnya saya berikan kami sekedarnya yaitu pada batas negeri Balanipa dengan perbatasan negeri di Alu. Maka menjadilah negeri Petoqosang bagian dari kekuasaan Alu sanpai ke buttu Pundanga lurus ke arah bawah Bungaan” (MT Azis Syah, 1992)

Dari petikan lontaraq pattodioloang di Mandar tersebut motif penyerangan terhadap suatu daerah di wilayah Mandar adalah dipengaruhi oleh sifat dari para pemimpinnya, jika diketahui pemimpinnya tidak memihak pada rakyat atau tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin maka ia kemungkinan akan ditaklukkan. Dan wilayah-wilayah kerajaan di Mandar masih merupakan hal yang penting pada batas-batas wilayah kerajaan yang harus dipertegas, hal ini semakin menjelaskan bahwa kerajaan-kerajaan yang ada di Mandar masing-masing berdiri sendiri di atas kekuasaannya, tidak saling mengklaim wilayah, namun menghormati batas-batas wilayah tersebut. Peranan kerajaan Balanipa yang berstatus sebagai “bapak” di konfederasi kerajaaan “Pitu Baqbana Binanga” pada masa itu cukup strategis dengan persekutuannya dengan kerajaan Alu, satu kerajaan yang tidak termasuk dalam konfederasi kerajaan di pesisir.

Pusat kerajaan Alu dahulu saat ini terdapat di desa Allu, desa yang asri dibalik bukit tinggi dengan jalan setengah beton dan aspal serta beberapa jalan dengan kerikil lepas. Desa Allu  berjarak sekitar 10-15 km dari kecamatan Tinambung kabupaten Polewali Mandar. Jika berdasar pada isi lontaraq pattodioloang Mandar wilayah Sayoang dahulu sampai pada Petoqosang, namun setelah penaklukan yang dilakukan oleh Balanipa dan Alu, wilayah ini jatuh ke tangan Alu. Perbatasan ini dijelaskan dari Petoqosang sampai ke wilayah buttu Pundanga, lurus ke arah bawah Bungaan.

Referensi :

  1. MT Azis Syah (1992). Lontarak 1 Pattodioloang Di Mandar. Yayasan Pendidikan Dan Kebudayaan Taruna Remaja Pusat Ujung Pandang. Makassar, 48.
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017