Online 39 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Sejarah Kisah Singkat Imaga Daeng Riosok (Tomatindo Di Marica) Arajang Kerajaan Balanipa

Kisah Singkat Imaga Daeng Riosok (Tomatindo Di Marica) Arajang Kerajaan Balanipa Cetak
oleh Administrator   
Minggu, 24 November 2013 09:44 | Tampil : 3861 kali.

Imaga Daeng Riosok atau yang diberi gelar anumerta "Tomatindo Di Marica" adalah salah satu dari Arajang yang pernah memegang tampuk jabatan sebagai penguasa tunggal atas kerajaan Balanipa, bapak dariĀ  kerajaan-kerajaan di "Pitu Baqbana Binanga". Ia naik tahta dan menggantikan "Tomatindo Di Langganna" setelah berhasil melawan invasi kerajaan Bone yang dipimpin oleh Arung Palakka. Saat itu suasana kerajaan Balanipa sampai pada titik kritisnya, dimana negeri dalam keadaan kritis diinvasi oleh pihak Bone hingga Balanipa dipaksa mundur hingga ke wilayah Napo.

ilustrasi gambar imaga daeng riosok tomatindo di marica

Ilustrasi gambar Imaga Daeng Riosok Tomatindo Di Marica

Daeng Riosok sebelumnya adalah Maraqdia Malolo (panglima kerajaan) Balanipa saat Arung Palakka menyerang Mandar, memegang jabatan raja setelah Maraqdia di Langganna berkata " berjuanglah kalian untuk tanah airmu, siapa saja yang dapat menyelamatkan negeri di Balanipa, dialah yang memimpin negeri dan saya turun tahta, dan bersedia di pimpjn" saat itu ia berhasil menyelamatkan Balanipa.

Namun perjuangannya tidak semudah yang dibayangkan beberapa kali ia harus menekan pihak pasukan Arupalakka hingga ke wilayah pantai di wilayah Malaujung.

Dalam lontarak Pattodiolong di Mandar, saat itu momen-momen penyerangan didokumentasikan sebagai berikut " saat pasukan Bone menyerang, Balanipa dipukul mundur hingga ke Napo, Maradia Balanipa kalang kabut, berseru daeng Riosok, "majulah kemari, kita bersatu, kapan juga kita pasti mati,," tetapi tak ada yang mau dipanggil, hanya Tomatindo di Sallombok, bergelar Todipossok di Malaujung dan dua temannya yang berani menemani daeng Riosok bersama menyerang hingga ke pantai,, disana Maraqdia Banggae gugur, berkata daeng Riosok,, "jangan dulu kau ambil mayatnya puammu, karena saya sudah saling berjanji habis-habisan bersama dalam tempo sehari ini, terlanjur saya berjanji untuk sehidup semati". (MT Azis Syah, 1992 : 80-81) Betapa potret dan nilai ikatan diantara konfederasi baqbana binanga begitu kuat antara Banggae-Balanipa saat itu.

Dalam usaha perlawanan ini gugur Maraqdia Banggae, dan Daeng Riosok berhasil kembali dengan klewang ditangannya penuh darah musuh, hingga dalam lontarak pattodioloang dijelaskan bahwa klewang tersebut sukar lepas, karena penuh darah musuh.

Dalam buku "Warisan Arung Palakka", pernah ada upaya pembunuhan Daeng Riosok yang dilakukan oleh Arung Palakka, Karena ia khawatir Balanipa dapat menjadi ancaman bagi Bone dan pemerintahan kemanakannnya Lapatau Matanna Tikka RB XVI yang baru saja dilantik menggantikannya, megingat Bone menjadi kerajaan terbesar di Celebes pasca perang Makassar, bahkan ada beberapa bangsawan di Sulsel yang di Bunuh oleh Arung Palakka yang dianggapnya memiliki potensi berbahaya kelak.

Saat itu Arung Palakka didesak oleh Daeng Riosok hingga kepantai, Arung Palakka lolos setelah berhanyut-hanyut dan lolos dari pengejaran. Setelah itu ia menginstruksikan pada pihak kerajaan Gowa untuk menunjukkan diri, setelah pihak Balanipa melihat pihak Gowa, maka kemudian mereka heran, mengapa kemudian ada pihak Gowa yang datang sementara Balanipa dan Gowa sama sekali tidak memiliki masalah. Lalu kemudian pihak Gowa yang telah kalah perang berkata untuk menjual budak dari Gowa terlebih dahulu untuk keperluan perang, jika budak tersebut telah habis, maka ia boleh menjual budak yang berasal dari Mandar.

Selepas invasi ini Daeng Riosok memegang tahta, yang ia dapatkan karena keberaniannya. Daeng Riosok memiliki patriotisme tinggi dalam mempertahankan negerinya, tak takut mati, dan pantang menyerah, disaat tak ada yang berani menjawab panggilannya untuk bertarung melawan pihak Arung Palakka, hanya Tomatindo Di Sallombok yang menjawab panggilannya.

Pencapaiannya dalam menduduki jabatan raja Balanipa sangat cemerlang namun akhir hidupnya sangat menyedihkan, ia harus mati setelah dipenggal kepalanya. Ia memiliki gelar "Todipolong" karena meninggal terpotong dipisah kepala dengan badannya Oleh Paliliq Arua dan kemudian dimakamkan di Marica, maka digelarlah dia "Tomatindo di Marica" Dalam buku Lontarak Pattidioloang 2 karya Madjid Tanawali Azis Syah. " Nammesa bomi paliliq aruwa, napatei napasisaraq ulunna salakkana. Disangami todipolong, sabaq napasisaraq ulunna salakkana". yang artinya "Disepakati Paliliq aruwa, dipisah kepalanya dari bahunya, digelarlah todipolong, sebab dipisah kepalanya"). Kedelapan Paliliq aruwa tampaknya bergabung dan sepakat untuk membunuh Daeng Riosok, namun tidak dijelaskan pihak Paliliq aruwa yang mana yang kemudian menjadi eksekutor pemenggalan dan saat itu (" kemudian marah orang Balanipa. Waktu itu paliliq arua didenda sa'bu kati olah orang Balanipa dan mayatnya dipulangkan").

Satu hal yang menarik dari seorang Imaga Daeng Riosok, Tomatindo Di Marica adalah kisah cintanya dengan I Pura Paraqbue, permaisuri raja Pamboang, yang sempat ia culik, karena terpikat pesona kecantikannya. Peristiwa penculikan ini sempat menggoyahkan persatuan di "Pitu Baqbana Binanga" dimana harga diri kerajaan Pamboang seolah-olah diinjak-injak dengan peristiwa penculikan tersebut.

Referensi :

  1. MT Azis Syah (1992). Lontarak 1 Pattodioloang Di Mandar. Yayasan Pendidikan Dan Kebudayaan Taruna Remaja Pusat Ujung Pandang. Makassar, 80-83.
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017