Online 71 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Sejarah Sekilas Mengenai Caloq Ammana I Wewang, Maraqdia Malolo Balanipa Penentang Belanda

Sekilas Mengenai Caloq Ammana I Wewang, Maraqdia Malolo Balanipa Penentang Belanda Cetak
oleh Administrator   
Selasa, 07 Januari 2014 07:09 | Tampil : 2949 kali.

Calo Ammana I Wewang, melihat dari postur yang ada dalam foto dalam tulisan ini nyaris tidak terbayangkan bahwa ia pernah mengobrak-abrik tangsi militer Belanda di kabupaten Majene, ia salah satu panglima perang "maraqdia malolo" kerajaan Balanipa yang paling antipati pada penguasaan Belanda.

Perawakannya yang terlihat sedang,
tidak pendek tidak pula tinggi tampak jelas dalam foto ini. Adapun detail foto ini diambil pada saat ia sudah berada di Mandar setelah kurang lebih 37 tahun dibuang dan diasingkan oleh pihak belanda ke Pulau Belitung. Sebelumnya ia mengangkat senjata dan mencoba teknik konfrontasi dengan penjajah. Setelah menolak teknik diplomasi yang ditawarkan oleh pihak Belanda. Seirama dengan Arajang pada masanya "Tokape" ia juga menempuh teknik perang gerilya, tidak menetap dan lebih mengutamakan mobilitas untuk melakukan penyerangan secara sporadis, mulai dari penyerangan tangsi militer Belanda di Majene dan beragam pemberontakan lainnya yang ia susun bersama tokoh penentang semasanya yaitu Kacoq Puang Ammana Pattolawali, yang masih saudara kandungnya. Namun kemudian usaha perlawanannya harus terhenti setelah ia tertangkap oleh Belanda pada tahun 1907. Ia diadili di Campalagian, ditahan di Makassar, dipindahkan ke Batavia (Jakarta) dan lalu kemudian disingkirkan jauh dari kampung halamannya hingga ke Pulau Belitung pada 1 November 1907.

ammana i wewang

Calo Ammana I Wewang dalam kostum adat mengenakan sokkoq biring

Siapa Sebenarnya Ammana I Wewang

Ammana I Wewang dilahirkan dengan nama I Calo, tepatnya di daerah Lutang (Kel. Tande, Kec. Banggae, Kab. Majene) pada tahun 1854. Ia anak dari pasangan ayah ibu (I Gaqang dan I Kenna), I Gaqang adalah maraqdia "Raja"  kerajaan Alu, salah satu kerajaan lokal yang ada di wilayah Mandar. Sementara ibunya adalah I Kena seorang putri dari Maraqdia "Raja" Banggae. Kakek dari pihak ayahnya adalah Maqdusila "Lippo Ulang" seorang maraqdia "raja" di Pamboang, dan kakek dari pihak ibunya adalah "To Cabang" juga seorang maraqdia atau raja di Pamboang. (Alimuddin, 2011)

Ia populer dengan sebutan Ammana I Wewang, nama ini diambil dari seorang kemenakan permaisurinya yang bernama "Wewang". Nama yang banyak digunakan di tanah Mandar untuk tidak menyebut nama asli si bangsawan. Merunut dari keturunannya maka ia kental dengan darah bangsawan, penggabungan dua darah dari kerajaan Alu dan kerajaan Banggae. Kerajaan Alu sendiri dikenal sebagai kerajaan yang telah lama berjaya di daerah Mandar, (saat ini masuk dalam administrasi wilayah desa Allu, kecamatan Alu Kabupaten Polewali Mandar, berlokasi sekitar 10-15 km dari kec. Tinambung)  sementara kerajaan Banggae adalah satu dari tujuh kerajaan dalam konfederasi kerajaan "Pitu Baqbana Binanga".

Ammana Wewang memiliki tiga saudara yaitu Kacoq Puang Ammana I Pattolawali, Cacaqna Pattolawali, dan Cacaqna I Sumakuyu. Di usianya yang ke-30 ia didaulat menjabat posisi panglima perang "maraqdia malolo" di kerajaan Balanipa dan menggantikan posisi I Tamanganro. Ia masuk dalam jajaran posisi penting bersama arajang Balanipa yang masa itu dijabat oleh "Tokape". Tepatnya pada tahun 1886 ia diangkat menjadi maraqdia "raja" di kerajaan Alu, hingga pada masa itu ia merangkap jabatan dengan dua posisi, yaitu sebagai panglima perang di kerajaan Balanipa dan sebagai raja di kerajaan Alu. (Alimuddin, 2011)

Sebagai seorang maraqdia malolo atau panglma perang di kerajaan Balanipa maka Ammana Wewang secara struktural membawahi beberapa kelasykaran. Ia bertanggung jawab langsung kepada Arajang pada masa itu "Tokape". Angkatan Perang Balanipa dinamai Joaq dan terbagi atas (empat) bagian, yaitu :

  1. Joaq Matoa(Pasukan Pengawal Raja),
  2. Joaq Passinapang(Pasukan bersenjatakan senapan),
  3. Joaq Pakkabusu
  4. Joaq Paqburasang(bersenjatakan sumpitan)

Tiap bagian kelasyakaran atau joaq ini dipimpin oleh seorang "Annangguru" yang dibantu oleh Sariang, Tomawuweng dan keqde, tiap Annangguru bertanggung jawab pada maraqdia malolo.

Referensi :
  1. Alimuddin M. R. (2011). Si Jelek, Intrik, dan Perlawanan ke Belanda. Available at : http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/28/%E2%80%9Csi-jelek%E2%80%9D-intrik-dan-perlawanan-ke-belanda-358865.html (diakses 07 Januari 2014)
 

Comments 

 
#1 muh. fiqri idris 2017-10-07 12:29
Asslamualikum cerita sejarah ini sangat bagus dan memberi pengetahuan sejarah tentang negri mandar. Adapun saran sayaagar sejarah ini bisa lebih detail lagi agar kami bisa menegtahui semau yg ada d tanah mandar dari budaya raja-rajanx yg ada samapai sekarang , terimaksih
Quote
 
 
#2 muh. fiqri idris 2017-10-07 12:34
Asslamualikum,, cerita sejarah ini sangat bagus dan membantu wawasan pengetahuan tentang negeri mandar, adapun saran saya agar lebih detail lagi baik dari segi budaya adat dan kerajaan beserta raja-raja yg ada hingga sampai sekaran
Quote
 
 
#3 Minerva 2017-12-12 03:29
Interesting content, keep updating your website

My blog foot fetish video: foot-fetish.club/.../
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017