Online 37 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Sejarah Kisah Tomakaka Allung : Yang Wafat Di Tanah Mandar

Kisah Tomakaka Allung : Yang Wafat Di Tanah Mandar Cetak
oleh Muhammad Hasbi   
Kamis, 10 April 2014 19:34 | Tampil : 2198 kali.

Tomakaka allung merupakan salah satu tomakaka yang pernah ada dan berdiam di dalam wilayah Polewali Mandar, tepatnya di kecamatan Matakali desa Patampanua, dari hasil pembicaraan dengan sang pemandu pada saat Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar) terdapat beberapa potongan cerita yang menarik untuk disimak dan diteliti lebih lanjut, dan dari ketikan jari ini serta olahan otak sang penulis diharapkan nantinya ada masukan dari rekan-rekan lainnya. Selanjutnya, ada beberapa pertanyaan mendasar yang sempat dilontarkan oleh penulis pada narasumber saat mengunjungi situs yang masuk dalam daftar objek sejarah oleh Balai Purbakala Makassar, yaitu siapakah nama asli Tomakaka Allung ini? dari mana tomakaka ini berasal ? dan apa kelebihannya sehingga ia bisa diangkat dan diberi gelaran Tomakaka Allung? berikut adalah pertanyaan yang akan kita telusuri dan coba kuak jawabannya.

Diawali dari pertanyaan siapa nama asli Tomakaka Allung? saat kami mencoba menelusuri dengan mengajukan pertanyaan pada narasumber, ternyata sampai saat ini belum terdeteksi bayangan sedikitpun, yang diketahui hanya jenis kelaminnya saja yaitu laki-laki, tomakaka ini disinyalir hidup jauh sebelum agama Islam masuk ke Mandar.

makam tomakaka allung polewali mandar

Makam Tomakaka Allung di kecamatan Matakali Kab. Polewali Mandar (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya yang kami lontarkan, dari mana tomakaka ini berasal? dari penuturan Muhammad Salim yang merupakan narasumber warga lokal yang menemani Kompa Dansa Mandar saat melakukan kunjungan sejarah di makam Tomakaka Allung ini mengatakan bahwa tomakaka ini berasal dari daerah Bugis, itupun belum diketahui daerah Bugis yang mana.

makam tomakaka allung di mulut goa

Makam Tomakaka Allung yang dibalut kain berwarna putih (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Lalu berikutnya kami cecar lagi sang narasumber dengan pertanyaan berikutnya mengapa beliau (Tomakaka Allung) bisa sampai ketempat ini? Pak Muhammad Salim mengatakan bahwa si Tomakaka diketahui ingin mengunjungi saudara kakak wanitanya yang berdiam di tanah Mandar, namun di tengah perjalanan beliau wafat dan di makamkan di daerah Allung ini. Dari pembicaraan ini ada sedikit yang membuat fikiran kami terganjal karna narasumber mengatakan bahwa dari beberapa suku besar yang ada di Sulawesi Selatan, Mandar, Bugis, dan Toraja adalah bersaudara, orang-orang Mandar mengenalnya dengan istilah "mesa kanneq". Secara rinci, yang bermukim di Mandar adalah seorang wanita dan di Bugis seorang pria dan di Toraja juga seorang pria, dimana ketiganya bersaudara. Yang bermukim di Mandar merupakan kakak tertua namun dia seorang wanita, sehingga para maraqdia di Mandar dipanggil dengan julukan daeng karna ia adalah seorang kakak.

makam tomakaka allung dari dekat

Tampak makam Tomakaka Allung dari dekat (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Apa kelebihan Tomakaka Allung juga menjadi salah satu daftar pertanyaan yang sempat kami lontarkan pada narasumber, ia lalu kembali bercerita bahwa pada satu hari tomakaka ini sedang ingin menangkap ayam hutan dan ia membuat perangkap, kemudian datanglah orang dari Salabose yang selalu memukul-mukul kayu sehingga menimbulkan kegaduhan yang menyebabkan ayam hutan ini pergi jauh, kemudian timbullah kegaduhan antara Tomakaka Allung ini dengan orang yang berasal dari Salabose ini hingga terjadilah adu keberanian. Singkat cerita dari kegaduhan ini orang dari Salabose mencabut pedang dan menebas membagi dua tubuh tomakaka ini hingga terpisah, kemudian pengawal dari tomakaka ini mengambil tubuh tomakaka yang terpisah ini dan menyambungnya kembali sambil membalut tubuh tomakaka dengan ular jenis piton, sehingga tubuh tomakaka ini kembali menjadi utuh sedia kala, kemudian tomakaka ini kembali menebas tubuh orang dari Salabose hingga tuan dari salabose ini meninggal.

wawancara penulis tentang tomakaka allung

Wawancara penulis dengan narasumber Muhammad Salim tentang Tomakaka Allung (foto : Gita Novianti Muchtar)

Demikian sekelumit kisah mengenai Tomakaka Allung yang sempat penulis rekam saat mengunjungi situs ini. Salah satu situs yang terbilang "kuno" dengan penggambaran masa "sebelum agama Islam masuk", jika melihatnya sejajar dengan masa pemerintahan kerajaan Balanipa di tanah Mandar maka mungkin ini adalah masa yang sezaman dengan I Manyambungi (Todilaling), Tomepayung, atau bahkan beberapa puluh tahun sebelumnya.


muhammad hasbiPenulis :

Muhammad Hasbi, saat ini menetap di kec. Tapango Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah, budaya daerah, travelling, serta fotografi. Saat ini berstatus sebagai tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo (Teknik Otomotif)

Kontak Saya :

 

 

Comments 

 
#1 2014-09-29 23:23
Tabe' Maraja, sy pernah baca di Situs Purbakala Sulawesi Selatan, nama Lengkap Tomakaka Alung Tuan Belopadang, mohon pencerahan...Salama'
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017