Online 69 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Sejarah Jejak Mesjid Tua Penanian Batetangnga Dan Kisah Spiritual Penentuan Kiblatnya

Jejak Mesjid Tua Penanian Batetangnga Dan Kisah Spiritual Penentuan Kiblatnya Cetak
oleh Aminuddin Lahami   
Senin, 21 Agustus 2017 08:58 | Tampil : 248 kali.

Mesjid atau biasa disebut dengan tempat ibadah bagi umat Islam, merupakan simbolitas akan peradaban suatu agama di suatu wilayah. Begitupun dengan peradaban Islam di Sulawesi Barat, khususnya di wilayah kekuasaan Kerajaan Binuang. Dimana di daerah ini, pernah terbangun sebuah mesjid yang menjadi kebanggaan pihak kerajaan, sekaligus pusat dan titik awal penyebaran ajaran Islam yang kini mulai dilupakan. Adapun nama mesjid ini, mereka beri nama mesjid Tua Penanian berdasarkan wilayah penempatan berdirinya mesjid.

Mesjid Tua Penanian terletak di Desa Batetangnga, Kec. Binuang Kab. Polewali Mandar mungkin masih banyak yang kurang mengetahui keberadaannya, sebab mesjid ini sudah lapuk dan dimakan zaman. Ini akibat dari beberapa faktor; diantaranya, berpindahnya penduduk dari wilayah penunungan ke wilayah yang lebih datar/pesisir atas desakan penjajah Jepang pada masa itu. Selain desakan penjajah Jepang, faktor kedua yaitu bencana longsor di wilayah pegunungan sehingga mau tidak mau, penduduk memutuskan untuk berpindah demi keselamatan hidup mereka.

Ciri khas mesjid Tua Penanian, sama halnya dengan ciri khas mesjid-mesjid tua di daerah lain. Contohnya mesjid Tua Katangka di wilayah Kab. Gowa, Sulawesi Selatan. Dimana mesjid tua ini, memiliki bangunan yang khas berupa dinding mesjid yang tebal ketika dibandingkan dengan mesjid-mesjid pada umumnya. Adapun maksud dari ciri khas ini, merupakan simbol akan ketahanan dan sekaligus sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh.

Sementara mesjid Tua Penanian, sekalipun tidak memiliki dinding tembok yang tebal dan kuat, tetapi ia memiliki kolam wudu yang tebal dibandingkan dengan tempat wudhu mesjid-mesjid pada umumnya. Sehingga dengan ciri khas ini, memberikan penjelasan bahwa mesjid Penanian adalah mesjid Tua yang pernah ada di wilayah ini.

mesjid tua penanian batetangnga polman

Jejak peninggalan masjid tua Penanian berupa pondasi masjid dan kolam tempat berwudhu di desa Batetangnga kec. Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Aminuddin Lahami)

Bicara sejarah Mesjid Tua Penanian, maka kita akan disuguhi cerita mistis yang menurut akal sehat, mungkin sangat mustahil untuk bisa terjadi. Tetapi cerita ini tidak hanya di benarkan oleh masyarakat dari daerah desa Batetangnga saja. Namun dari luarpun, banyak yang memberikan keterangan akan kebenaran peristiwa itu dan mereka percaya berdasarkan cerita orang tua mereka yang hidup pada waktu itu.

Adapun kisahnya adalah pernah suatu ketika penduduk Batetangga telah banyak memeluk agama Islam dan hendak membangun sebuah Mesjid pertama di wilayah ini yang nantinya disebut Mesjid Penanian. Merekapun melakukan musyawarah dengan masyarakat dengan dipimpin oleh Tomakaka dan beberapa Syekh. Diantara mereka ada Syekh Kamaluddin Datuk Ribandang, Syekh Abdul Rahim Kamaluddin, Syekh Bil Ma’ruf, dan Syekh Al-Magribi.

Ketika musyawarah dan penentuan tempat mesjid telah disepakati, maka di bangunlah mesjid pertama di Kerajaan Binuang, tepatnya dibagian pinggir sungai Binuang yang sekarang kawasan ini disebut dengan Manikkan. Merekapun memulai pembangunan dengan cara bergotongroyong. Mulai dari pembersihan lahan, pembangunan pondasi, pengadaan tiang, atap dan dinding mesjid semuanya dikerjakan dengan bersama-sama dan berjalan dengan lancar.

Setelah pembangunan mesjid telah selesai, maka beberapa diantara mereka (masyarakat) merasa kurang yakin terhadap arah kiblat mesjid Tua Penanian yang telah mereka bangun. Sehingga kondisi ini, menimbulkan beberapa perdebatan yang cukup menegangkan. Maka majulah Syekh Bil Ma’ruf ke arah pengimaman, kemudian melobangi diding mesjid bagian depan Imam dan menyuruh diantara masyarakat yang merasa ragu akan arah kiblat mesjid tersebut untuk mendekat.

Dengan cara bergantian, mereka mengintip lubang dinding mesjid depan imam, maka masyarakat yang meragukan arah kiblat mesjid Tua Penanian tersebut merasa keheranan. Karena apa yang mereka lihat, diluar dari akal pikiran mereka. Sebab mereka telah melihat Ka’bah yang sangat dekat dari lubang arah kiblat mesjid Tua Penanian. Dari peristiwa ini, maka tidak ada lagi diantara masyarakat berdebat dan merasa ragu akan arah kiblat mesjid Tua Penanian serta menjadikan peristiwa itu sebagai bahan pembelajaran hidup. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah telah menghendaki dari doa-doa para wali-Nya.

Itulah kehebatan Syekh Bil Ma’ruf seorang Waliyullah sekaligus sahabat seperguruan syekh Abdul Rahim Kamaluddin yang asalnya dari Timur Tengah. Adapun peristiwa yang mempertemukannya, ketika Beliau menempuh pendidikan di Negeri Samarkand-Uzbekistan. Syekh Bil Ma’ruf memiliki mukjizat dengan kemampuan membuat pandangan seseorang menjadi mampu menembus apapun dan dari arah manapun, sehingga beliau di beri gelar Syekh Losa yang artinya Syekh Penembus.

Kisah tentang mukjizat Syekh Bil Ma’ruf dalam cerita ini, tidak menjadi mustahil ketika Tuhan berkehendak sebab tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Mujizat para waliyullah di kawasan Nusantara cukuplah bayak yang menakjubkan. Seperti menundukkan hewan liar, shalat di pelapah pisang, berjalan diatas air, berjalan tanpa menyentuh tanah, menyembuhkan orang sakit, berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan dan masih bayak yang lain tergantung kondisi dan keadaan para waliyullah pada masa itu.

Dengan kisah sejarah mesjid Tua Penanian, setidaknya menjadi bahan referensi bagi para pegiat sejarah budaya religi dan mendorong bagi kita semua untuk banyak memperhatikan sejarah peradaban Islam di Nusantara khususnya di Sulawesi Barat. Sejarah ini sungguhlah warisan budaya yang tak ternilai harganya. Dengan memperhatikan dan menjaga, berarti kita telah menghargai usaha para pendahulu dan akan dapat mewariskan kepada kenerasi penerus bangsa dimasa akan datang.

Harapan
Mesjid Tua Penanian merupakan salah satu ikon peradaban Islam di Sulawesi Barat, sebab di tempat inilah orong-orang terdahulu melakukan penyebaran ajaran Islam di kawasan ini. Berdasarkan alasan tersebut, maka kita semua berharap, semoga ada dari pihak Pemerintah terkait yang tersentuh hatinya untuk melakukan peninjauan dengan harapan, kegiatan renovasi/pembangunan mesjid tua Penanian dapat dilakukan, karena kini kondisinya hanya tinggal pondasi dan Kolam yang juga mulai lapuk.

Dengan dibangunnya mesjid Tua Penanian nantinya, maka secara tidak langsung memberikan kontribusi peningkatan ekonomi masyarakat dari sisi wisata religi, sekaligus memelihara warisan sejarah budaya Islam bangsa ini. Artinya, dengan dibangunnya mesjid Tua Penanian, berarti kita telah melakukan dua sisi pembangunan. Seperti peribahasa yang mengatakan “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Yaitu pembangunan dari sisi ekonomi dan dari sisi kebudayaan yang keduanya sama-sama sangat penting.

Kita boleh saja berharap setinggi langit, tetapi semua harapan tidak akan bisa terwujud tanpa adanya sebuah tindakan yang nyata. Mari membangun sebatas apa kemampuan kita, sebab dari kitalah semua, maka kejayaan Kab. Polewali Mandar menjadi lebih baik. Maju negeriku jaya bangsaku.


Penulis :

aminuddin lahamiAminuddin Lahami, lahir dan besar di desa Batetangnga, kec. Binuang, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, alumni Madrasah Aliyah DDI Kanang, saat ini menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Kontak Saya

facebook :https://web.facebook.com/aminuddin.alfath1

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017