Online 18 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Seni Seni Musik Mengenal Sattung, Alat Musik Tradisional Mandar

Mengenal Sattung, Alat Musik Tradisional Mandar Cetak
oleh Administrator   
Selasa, 24 September 2013 14:26 | Tampil : 2608 kali.

Kata Sattung berasal dari “Kalipattung” jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah katak yang berbunyi setelah hujan turun dimalam  hari atau tempat rawa-rawa. Bapak Suani menuturkan, sattung tidak terlepas dari kehidupan Tomakaka Tinunnungan, menurut sejarahnnya “Wassu-wassuli” (pondok-pondok kecil) menjadi tempat tomakaka tinunnungan beristirahat, bersenang-senang, di puncak gunung. Diperistirahatannya mendengar sebuah bunyi konon itulah yang disebut “Kalipattung” sehingga dibenak Tomakaka mempunyai inisiatif untuk menirunya akan tetapi dihambat oleh sulitnya peniruan itu maka, dibuatkanlah alat yang hampir menyerupai Kallipattung sekaligus dinamakan Sattung, tentang penamaan dan pembuatan semua difikirkan olehTomakaka Tinunnungan. Tinunnungan adalah nama wilayah yang terletak 1 km dari dusun Limboro, Desa Ongko, Kec. Campalagian Kab. Polewali Mandar. Wilayah ini termasuk wilayah kerajaan Balanipa.

sattung alat musik tradisional mandar

Bentuk Sattung, alat musik tradisional Mandar (Foto : Irwan Syamsir)

Awal penyajiannya dilakukan sebagai media untuk memuaskan batin ketika sedang dalam keadaan senggang, lalu berkembang menjadi alat hiburan saat pelaksanaan upacara pelantikan raja dan sampai sekarang tidak lagi difungsikan  seperti  semula melainkan hanya sebagai pelengkap pertunjukan ”Orkes Toriolo”. Kelompok Orkes Toriolo  bertempat tinggal di desa Ongko Kec. Campalagian, Kab. Polewali Mandar yang dipimpin oleh Bapak Suani.

Sattung terbuat dari Ruas bambu yang telah dipilih (kering) semakin panjang ruasnya semakin bagus kualitasnya, membuatnya dengan cara memotong bambu sesuai dengan ruas, tulang akan tetap melekat sehingga terlihat tidak bolong lalu mengikat dengan teratur ujung-ujung bambu untuk menghindari kerusakan ketika mencungkil kulit bambu sebanyak 2-3 kali, hasil cungkilan itu diberi greff  (pengganjal Dawai) dari unjung ke ujung, kemudian ditengah-tengah ruas bambu dibuatkan lubang resonansi dan dipertengahan dawai juga diberi kayu tipis sebagai tempat untuk memetik dawai, dan yang terakahir tulang yang berada disebelah kiri diberi lubang untuk menciptakan efek Vibrator.

Referensi :
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018