Online 48 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Seni Seni Musik Mengenal Gongga Lima, Alat Musik Tradisional Mandar

Mengenal Gongga Lima, Alat Musik Tradisional Mandar Cetak
oleh Administrator   
Selasa, 24 September 2013 14:49 | Tampil : 4127 kali.

Gongga lima adalah sebuah alat atau benda yang didalamnya terdapat dua kata, dan ketika dipisahkan mempunyai pengertian yang berbeda yakni Gongga dan lima. Gongga diartikan sebagai alat itu sendiri sedangkan lima dalam bahasa Mandar adalah Tangan, jika dilihat dari pembagiannya, sangat memperjelas identitas serta eksistensinya yang menjelaskan bahwa  ke duanya membutuhkan satu sama lain.  Gongga lima adalah sebuah alat musik yang termasuk klasifikasi idiopon, idiopon dalam buku Solihing mengatakan sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri (Solihing ibid Hal: 99) ada persamaan dari pemaparan Yayat, mengatakan bahwa idiopon adalah bunyi alat yang menghantar getaran tabuh inti instrument itu sendiri (Yayat Nusantara, seni SMA jilid 1 2003, Hal: 35 ).

gongga lima alat musik tradisional mandar

Bentuk Gongga lima, alat musik tradisional Mandar (Foto : Irwan Syamsir)

Jenis Gongga lima terdapat diwilayah balanipa hampir sama dengan alat musik parappasa dari Gowa Sulawesi Selatan, perbedaan Parappasa dengan Gongga lima dapat dilihat dari penampilan alat itu, dalam pembuatannya bambu dibelah-belah kecil yang ukuran bilahannya hampir sama besar dengan pensil sehingga dalam penampilannya menyerupai sapu lidi, cara memainkannya pun tidak sama dengan Gongga lawe, sebab ketika dimainkan alat ini dibenturkan kebenda lain untuk mendapatkan bunyi.

Dahulu di Mandar sampai sekarang masih dijumpai pekerjaan masyarakat yang pekerjaannya adalah sebagai petani Areng istilah Mandarnya adalah “Passari atau Tosumari”  tempat yang digunakan  untuk mengambil areng disebut “Kokok atau Sue”  (bambu yang panjangnya 1 sampai 1,25 cm, dahulu masyarakat Mandar juga menggunakan alat ini sebagai tempat mengambil air sekarang jergen atau buah bila, menurut Kadatira atau biasa disapa A’bana Fatima mengatakan bahwa pengambil air yang rata-rata pengambilnya adalah seorang gadis selalu diikuti oleh para pemuda saat itu dan ditempat pengambilan air (sumur-sumur kecil) kira-kira pukul 17.00 WITA atau saat terbenamnya matahari,  terkadang pertunjukan Gongga lima berlangsung sebagai media menyampaikan perasaaan seakan memperlihatkan keterampilan mereka, peristiwa itu terjadi sekitar Abad ke 16 atau masa pemerintahan I Manyambungi (raja Mandar yang pertama), dari sumber itu para pemuda membuat alat atau media sebagai bentuk cintannya terhadap sang gadis tersebut. Sehingga menurut beliau Gongga lima hasil dari peristiwa itu, dalam  pembuatanya tidak ada tiruan dari manapun kalaupun  ada persamaan dari daerah lain maka itu secara  kebetulan saja seperti misalnya: Jarumbing, jika dilihat dari bentuk instrumennya maka kita akan melihat persis dengan Gongga lima, dalam sejarahnya ada syair diciptakan pasca peristiwa itu yang diberi judul “ Indo Caawewe” dalam perkembangannya  Gongga lima beralih fungsi hanya sekedar digunakan  sebagai pemuas batin ketika sedang melaksanakan aktivitas menunggu tanaman  dikala senggang. sekarang terkadang alat ini disajikan sebagai penambah bunyi eveck pada sebuah pementasan, baik itu pementasan musik, tari, maupun teater.

Bentuk Penyajian

Dahulu petunjukan Gongga lima diadakan berdasarkan konteks/lomba tetapi tidak direncanakan karena setiap pertunjukannya diadakan secara tiba-tiba dan atas dasar kesepakatan pemain, Kadatira mengatakan jika matahari terbenam malampun tiba menyelimuti suasana kampung saat itu, satu persatu para pemuda berdatangan serta ditangan mereka tidak terlupakan Gongga lima sambil memainkannya, hampir setiap malam terjadi peristiwa itu, jika para pemuda sudah berkumpul maka lomba diadakan pertunjukanpun berlangsung, tidak ada juri/penilai khusus, setiap pemain bertanggung jawab pada apa yang mereka lakukan, tidak ada panggung karena dimana ada pemain disitu ada pertunjukan, atau ditempat-tempat nongkrong, mereka harus sepakat untuk menentukan siapa pemenangnya, hadiah tidak jadi masalah karena pertunjukan hanya bertujuan sebagai pemuas batin dan teman suasana sunyi diperkampungan, kategori pemenang berdasarkan pada kemerduan bunyi gongga dan cara bermain, penilaiannya pun dilakukan melalui jarak jauh dan bukan jarak dekat, bentuk penilaian ini ada hubunngnnya jika telinga ditutup, jadi hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakat balanipa  sudah memahami tentang bagaimana bentuk mendengarkan bunyi yang merdu (berkualitas) mereka yang kalah harus mengakui kekalahannya/sportifitas masih dijunjung tinggi saat itu dan yang menang terkadang beruntung sebab Gongga lima terbaik  biasanya ada yang ingin  menukar dengan pohon kelapa,  jadi dalam permainannya tidak pernah ditemukan sara/masalah antar warga tetapi sangat disayangkan, pertunjukan semacam itu sudah tidak ditemukan hingga sekarang disebakan pemain jarang ditemukan, pertunjukan Gongga lima  hanya sekedar penambah bunyi eveck garapan musik yang terkadang dilakukan karena pelestarian budaya.  Tidak ada jenis Gongga lima yang mendasar sebab, dalam penampilannya gongga yang terbuat dari dulu hingga sekarang tidak pernah ditemukan perubahan baik itu secara betuk maupun bunyi, kendati demikian yang perlu diperhatikan pada saat pembuatannya karena harus memilih bahan paten sehingga dapat menghasilkan bunyi yang merdu  dan tidak mudah rusak.

Referensi :

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017