Online 47 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Wisata Majene Ekspedisi Betteng Adolang - Pantai Taraujung (Catatan Perjalanan Madatte Arts)

Ekspedisi Betteng Adolang - Pantai Taraujung (Catatan Perjalanan Madatte Arts) Cetak
oleh Ibnu Masyis   
Selasa, 11 Februari 2014 16:26 | Tampil : 2709 kali.

Adolang - Pantai Taraujung , Catatan Perjalanan Madatte Arts Sabtu 8 Pebruari 2014

Siapa yang tidak kenal Betteng Adolang? Itu kata kunci dari kami yang terpaksa harus berangkat dari Polewali tanpa ditemani pemandu.

Dalam ranah historis dan administrasi, sedikit tentang Pamboang- bukan hal asing di telinga kami. Berkat panduan beberapa orang di Banggae, akhirnya kami tiba di pasar Pamboang, beberapa meter sebelum jembatan sungai Pamboang. Situasinya agak mirip dengan Pasar Tinambung lama yang juga berdekatan dengan Sungai Mandar. Tepat di jalan Ammana Pattolawali- depan pasar pamboang, dari arah polewali kita belok kanan menuju jalan Abd. Hae Tinambung Pamboang. Tidak jauh dari mulut jalan Abd. Hae, di sekitaran Sekolah Agama yang lupa kami catat namanya, kami bertanya kepada sekelompok pemuda yang nongkrong di depan gardu jualan. Dari keterangan yang kami dapat, kami menyimpulkan bahwa warga di sini sangat paham dengan peristiwa yang berhubungan dengan Betteng Adolang. Salah seorang dari mereka kemudian ikut separuh jalan dan memberi keterangan mendetail tentang lokasi tujuan.

Sekitar ± 1 km tepat di tugu batas Desa Tinambung Pamboang, kami belok kiri, poros menuju Desa Betteng. Sepanjang jalan poros Desa Betteng, memang terdapat beberapa belokan kecil atau persimpangan, tapi pilih jalan terus saja mengikuti jalan beton campur aspal. Untuk membedakan jalan poros Desa Betteng dengan belokan adalah kondisi jalan poros Betteng lebih lebar dan lumayan bagus. Berhubung kondisi jalan yang lumayan menanjak, kondisi kendaraan perlu diperhatikan untuk rute ini.

Setelah rumah terakhir di perkampungan awal poros Desa Betteng, jalan mulai menanjak. Tanjakannya lumayan panjang dan di sepanjang jalan- sisi kanan adalah tebing dan di sisi kiri jurang dengan hamparan gunung batu campuran kapur yang terjal- gundul seperti karakter pegunungan daerah Mandar setelah Sungai Maloso Mapilli sampai ke Sendana. Saya agak bingung menamai wilayah ini, dengan data minim yang saya miliki, saya sebut saja area pegunungan Tammeundur kompleks. Pengklasifikasian berdasarkan khas tanah/ pegunungannya saya kira adalah hal penting. Cuman menurut kawan saya, bebatuan di Desa Betteng agak berbeda karna ada campuran bebatuan hidup (keras) seperti batu yang ada di sungai.


turunan jalan desa betteng pamboang

Turunan di jalan poros Desa Betteng (Foto : Ibnu Masyis)

Tiba di puncak tanjakan terakhir, terdapat bale bambu- tempat istirahat. Dari situ kita dapat melihat separuh kota pamboang. Di sekitar bale bambu tadi, ada belokan ke kanan menuju Desa Ratte. Kita pilih terus, jalan agak menurun dengan kondisi jalan mulai menyempit dan tidak dibeton lagi. Deretan rumah penduduk kembali ada, itulah permukiman Desa Betteng. Sebelum jalan buntu, kita belok kiri menuju rumah Kepala Desa yang bisa ditandai dengan kondisi jalan yang terdiri atas bebatuan sebesar mangkuk yang disusun rapi sepanjang jalan. Rumah Kepala Desa Betteng berada sebelah kanan dengan rumput hijau menghampar di halamannya.
Sempat beristirahat sebentar lalu mengutarakan maksud tujuan, Pak Kades kemudian meminta salah seorang warga yang bernama Jawahir, untuk menemani kami menuju Betteng Adolang. Sebelumnya, motor harus dititip di rumah Kepala Desa. Beberapa meter melewati rumah Kepala Desa, kita belok kiri melewati samping rumah warga menuju ke belakang menyusuri jalan setapak yang sehari-hari dilalui para petani di gunung tempat Betteng Adolang berada.

rumah warga desa betteng adolang pamboang

Salah satu rumah warga Desa Betteng (Foto : Ibnu Masyis)

Setelah menyeberangi jembatan kecil (sebuah kali) yang memisahkan antara dataran dengan Buttu Betteng, pendakian dimulai. Bila depan gunung adalah sisi yang menghadap langsung ke kota pamboang, maka rute yang kami jalani adalah sisi kanan belakang gunung. Konon jalan yang kami lalui adalah jalanan kampung di masa lampau untuk menghubungkan Desa Betteng dengan Kota Pamboang. Bahkan sampai hari ini, jalan tersebut  masih kerap dilalui oleh warga setempat sebagai alternatif.

Kondisi jalan tidak terlalu buruk, tingkat kemiringan terjalnya bahkan tidak terasa. Apalagi susunan batu rapi masif sebagai pijakan memudahkan kita untuk berjalan. Saya agak penasaran dengan susunan batunya. Susunan batu sepanjang jalan mengingatkan saya pada kondisi menuju puncak Gunung Bulusaraung Pangkep dengan ketinggian di atas 1000 m.dpl yang sering berkabut. Perihal pendakian, malah sebenarnya pendakian berat itu terdapat sewaktu kita masih naik motor di jalan poros Desa Betteng. Seperti yang saya alami, motor yang saya pakai tidak mampu mendaki sehingga saya harus berjalan sekian meter. Jalan mendaki di jalan beton lebih menyiksa karna kita tidak bertumpu pada pijakan yang baik atau rata. Saking capeknya sewaktu turun dari motor, saya sempat berkata, “Tua betul maq kapang diq?” kawan-kawan saya tertawa. Dan ternyata saya belum tua, tapi lelah tadi memang hanya disebabkan oleh pijakan mendaki di beton tidak mendukung langkah.

Kalau pendakian ke Gunung Betteng dimulai di sudut kanan belakang, maka tanpa terasa kita sudah berada di sisi kiri gunung. Ternyata di sisi samping kanan gunung adalah tebing terjal dimana Sungai Pamboang mengalir di bawahnya. Dari penuturan Jawahir, terdapat air terjun disungai itu. Kami sempat meminta untuk diantar ke lokasi air terjun bersusun yang dimaksud, tapi katanya kita mesti mengambil jalan lain dari kaki gunung. Selain itu, di sungai yang dimaksud sempat beberapakali ditemukan ular besar. Konon sewaktu pasukan Ammana Pattolawali terdesak, beberapa orang memilih melompat dari tebing sisi kanan gunung menuju sungai di bawahnya. Dugaan kami, pilihan melompat itu bisa mencederai.
Keras dugaan, di sekitaran jalan belakang yang kami lalui adalah jalan yang juga dilalui Belanda berdasarkan informasi dari penghianat atau balanda malotong matanna sebagai satu-satunya kelemahan benteng ini.
Selain nenas, jambu mente dan pohon berbuah kecil seperti anggur banyak ditemukan di sekitaran benteng. Kami sempat menanyakan nama buah mirip anggur tadi, dan menurut pemandu kami, warga disekitar menyebutnya buah Mangiwang. Karna penasaran, beberapa di antara kami sempat mencoba buah mangiwang dan rasanya sangat kecut (entah masih muda, yang jelas kecutnya menempel di gigi). Tembok/ pagar setinggi 1 meter lebih yang terbuat dari susunan batu juga merupakan pemandangan yang akrab sepanjang jalan. Tembok tersebut dibuat oleh petani untuk melindungi ladang mereka dari serangan babi hutan. Nyaris tak ada pohon besar di gunung betteng.

buah mangiwang pamboang

Buah mangiwang (Foto : Ibnu Masyis)

batu pagar ladang petani adolang pamboang

Susunan batu  pagar ladang petani (Foto : Ibnu Masyis)

Tak sampai 30 menit, kami tiba di sisi depan gunung yang merupakan pusat pertahanan Betteng Adolang. Angin berhembus cukup kuat saat kami berada di pusat pertahanan benteng. Selain diperkuat oleh susunan batu sebagai tembok (bedanya dengan tembok ladang petani, tembok benteng lebih tebal dan susunan batunya tidak rapi tapi kokoh), juga terdapat batu besar memanjang kira-kira 6-8 meter meter sepanjang bibir tebing. Dari bentuknya memang seperti tembok pertahanan. Benteng alam yang sangat strategis memang. Hampir semua bukit di sekeliling buttu betteng adolang bertebing terjal dan sangat sulit dilalui, tetapi terkhusus di Buttu Betteng, terdapat tembok batu alam di bibir tebingnya. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pintu masuk ke benteng terdapat kali yang memiliki pintu yang bisa diangkat untuk menutup akses masuk. Kami menduga, Sungai Pamboang yang melengkung di sisi depan gunung adalah lokasi tepat pintu itu.

Tembok alam tadi lebih menjorok kira-kira 2-3 meter ke depan dari punggung gunung. Bila kita turun memutar, ada hamparan landai tepat di bawahnya. Kami membayangkan, kalaupun Belanda lolos melewati gerbang kali tadi, Belanda akan kewalahan di tanah landai ini. Peluru dan batu besar siap meluncur dari atas. Itupun kalau bisa lolos sampai ke tempat ini karna di depan tanah landai, jurang menanti. Di hamparan landai ini juga-lah terdapat batu yang berbentuk pipih persegi empat yang menancap berdiri layaknya batu nisan dengan tinggi ± 1 meter dan lebar 60 cm. Konon batu tersebut dijadikan sebagai  landasan leher para pejuang yang kebal, dengan posisi terbaring leher mereka dipatah. Menurut penuturan narasumber kami yang bernama I Ha'deng - seorang kakek yang kini berusia kurang lebih 100 tahun, salah seorang pejuang yang lehernya dipatahkan di batu tadi salah satunya adalah kakeknya yang biasa dipanggil Kanneq Goloq (nama ini diambil dari proses penyiksaan sebelum kematiannya). Almarhum Kanneq Goloq disiksa karna kebal sampai kedua bola matanya dicungkil lalu kemudian kepalanya dipatahkan di batu itu. 

batu alam latar kota pamboang

Batu alam yang menjadi tembok, latar Kota Pamboang (Foto : Ibnu Masyis)

tembok alam adolang pamboang

Tembok alam dilihat dari bawah (Foto : Ibnu Masyis)

Masih keterangan dari narasumber kami, disebutkan bahwa korban terbanyak dari perang di Betteng adalah warga Adolang.  Ada beberapa poin penting yang kami simpulkan dari keterangan narasumber dan sikap masyarakat setempat secara umum yaitu, 1) masyarakat Adolang dan sekitarnya sangat menghormati sosok Ammana Pattolawali dan Ammana Wewang, 2) mereka mengenang dan bangga dengan peristiwa peperangan di Betteng Adolang, 3) mereka sangat menyesali aksi penghianatan yang mengakibatkan jatuhnya Betteng Adolang. Ketiga poin di atas dapat dimaklumi mengingat ikatan emosional dengan latar belakang kekerabatan dan sisi historis heroik seputar peristiwa ini.

tanah landai depan benteng adolang pamboang

Tanah landai depan benteng (Foto : Ibnu Masyis)

batu eksekusi pejuang di betteng adolang pamboang

Batu tempat para pejuang dieksekusi (Foto : Ibnu Masyis)

Ada penggalan syair yang konon sempat dilantungkan oleh Ammana Pattolawali berkaitan peristiwa Betteng Adolang yang berbunyi, “Dotaq naala di mateu, daripada naala dituou, apaq napebatuadaq.” Syair ini saya sandingkan dari keterangan lain dari narasumber yang sama, “Termasuk kannequ, to Adolang maeqdi mate di Betteng. Marakkeqmi tia menderita to Balanipa anna to Sendana. Iya nasanga, innai na meloq massibaliang senjata (pistol dan senapan). Masussa memang toi dipasisaraq Pamboang anna Alu.”

Secara geografis, Pamboang dan Alu hanya dipisahkan  sebuah gunung tempat dimana masyarakat menyebutnya Karampuang atau Karampuanna. Di gunung itu terdapat kuburan tua yang bagi masyarakat setempat sangat dikeramatkan sehingga seringkali dijadikan tempat menebus nazar. Sejatinya, menurut Bapak Syahrir Kades Betteng, Karampuang adalah tempat bersemedi.  Di sisi luar Buttu Karampuang, Sungai Mandar menjemput untuk tiba ke  Desa Kalumammang Kecamatan Alu.

Tak jauh berbeda dengan data-data yang ada sebelumnya, bentangan alam Betteng Adolang memang strategis sebagai lokasi pertahanan. Dari Betteng kita bisa melihat Kota Pamboang hingga laut. Buttu Betteng dikelilingi jurang dan gunung. Ada tiga gunung tinggi yang mengitari Buttu Betteng, di sisi kanan ada Buttu Paung yang konon banyak menyimpan benda kuno, di belakang ada Buttu Karampuang, tepat di depan Betteng yang melindungi dari arah laut juga ada gunung terjal. Di sisi kiri gunung terjal inilah kita bisa melihat Kota Pamboang. Sehingga, Pantai Taraujung dari arah Betteng tertutupi oleh gunung ini karna Pantai Taraujung berada di sisi kanan depan.

Awalnya kami sempat bingung perihal nama desa dan beberapa keterangan tentang lokasi ini. Dari keterangan Bapak Syahrir Kades Betteng, diceritakan bahwa Desa Betteng merupakan hasil pemekaran dari Desa Adolang. Makanya dalam beberapa catatan sejarah tertulis Betteng (buttu) Adolang. Desa Betteng 1 dari beberapa desa yang lahir dari hasil pemekaran desa ini. Adapun situs Karampuang, lokasinya jauh dari Betteng dan harus turun dulu dari Desa Betteng menuju Desa Adolang lalu mendaki gunung untuk sampai ke situs yang dimaksud di atas.

Mengingat waktu yang agak terbatas, apalagi narasumber dan pemandu kami juga sudah mau menunaikan kewajibannya untuk mengambil makanan kambing, akhirnya data historis perang Betteng Adolang agak minim kami dapatkan. Prinsip kami, ini adalah kunjungan perdana, pemetaan atau identifikasi lokasi adalah poin pertama. Insya Allah kalau ada kesempatan, nanti kunjungan berikutnya barulah data historis diperdalam. Sesuai janji kami kepada Pak Kades, narasumber Kakek Ha’deng dan pemandu kami saudara Jawahir, kami akan kembali lagi suatu saat nanti. Pisang goreng, teh hangat dan kelapa muda adalah suguhan persahabatan buat kami. Pukul 16 lewat kami meninggalkan Dusun Galung Desa Betteng (sepertinya ada makna khusus dari kata Galung).

Setelah agak sore, kami lanjut perjalanan ke Pantai Taraujung. Dari jalan Abd. Hae kita belok kanan menuju arah Mamuju. Bagi anda yang belum pernah ke sana, hitung saja jembatan mulai dari jembatan Sungai Pamboang sebagai jembatan pertama, terus setelah melewati jembatan ketiga, cari saja belokan ke kiri sebelum dapat Rewataqa (gunung terbelah) poros Mamuju. Melihat ke arah laut, garis pantai seperti huruf ‘W’, Terdiri atas 2 teluk dan 3 tanjung. Tanjung pertama adalah Kota Pamboang, tanjung kedua adalah karang Pantai Taraujung yang berbukit. Di puncak bukit kecil tanjung tadi terdapat kuburan tua yang berada di dalam bangunan (rumah kecil)  persegi empat. Kuburan tersebut memiliki kelambu. Menurut masyarakat setempat, seorang karaeng yang dikebumikan disitu. Sesuai keterangan yang kami dapat, suasana angker sejalan dengan keindahan pantai yang berkarang, airnya bening dan dalam, serta pasir yang bersih. Dari pantai Taraujung membelakangi laut, gunung tinggi menjulang melindungi Betteng Adolang di belakangnya.

pantai taraujung pamboang majene

Pantai Taraujung kec. Pamboang Kab. Majene (Foto : Ibnu Masyis)

kuburan tua pantai taraujung pamboang
Kuburan tua di Pantai Taraujung Pamboang (Foto : Ibnu Masyis)

Maghrib kami meninggalkan Pantai Taraujung yang hanya kami nikmati dengan bersantai. Keterangan tentang pantai ini masih minim dibatasi oleh malam yang perlahan datang. Seiring sunset yang pulang, kami menuju Polewali dengan membawa kesimpulan, Majene memang eksotik!


pantai taraujung pamboang menjelang magrib

Pantai Taraujung Pamboang jelang waktu magrib (Foto : Ibnu Masyis)

eksotisme pantai taraujung pamboang majene

Eksotisme senja di Pantai Taraujung Pamboang (Foto : Ibnu Masyis)

madatte arts dan kepala desa betteng adolang pamboang
Foto bersama peserta ekspedisi dari Madatte Arts dengan Kades Desa Betteng, narasumber Kakek Ha’deng dan pemandu Jawahir (Foto : Ibnu Masyis)

Tepi Salu Madatte, 9 Pebruari 2014


Penulis :

muh ibnu masyisMuh. Ibnu Masyis, lahir tidak jauh dari sungai Madatte, Polewali. Saat ini tinggal di Kabupaten Polewali Mandar. Penggiat sejarah Mandar, pemerhati budaya, aktif berkegiatan seni di Sanggar kesenian Madatte Arts dan menjadi pembina di divisi Teater.  Bercita-cita melihat dunia Teater dan Madatte Arts membumi di Mandar, Sulawesi Barat.

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/ibnu.whidya

 

 

 

Comments 

 
#1 2014-02-24 19:07
aslm. penggalan syair yg berbahasa mandar sebaiknya ditranslate juga k bhs indonesia krn sebagian dr pembaca tidak mgetahui artinya termasuk saya..tks
Quote
 
 
#2 2014-02-24 21:18
terima kasih atas saran dan masukannya saudara (luluareq) betul sekali, tidak semuanya pembaca memang tahu artinya,,

berikutnya akan menjadi pertimbangan untuk tulisan selanjutnya
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018