Online 22 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Wisata Mamasa Sekelumit Tentang Objek Wisata Makam Kuno Tedong-Tedong Kab. Mamasa Sulbar

Sekelumit Tentang Objek Wisata Makam Kuno Tedong-Tedong Kab. Mamasa Sulbar Cetak
oleh Ibnu Masyis   
Rabu, 12 Maret 2014 19:22 | Tampil : 2659 kali.

Kondisi jalan yang sangat hancur menuju Kab. Mamasa merupakan persoalan klasik. Bahkan tidak jauh dari jembatan Kelapa Dua yang berada dalam wilayah Polman, kondisi jalannya tak kalah memprihatinkan.

Relatif sama dengan kondisi tahun 2005- terakhir kali saya ke Mamasa, hanya sepanjang daerah Messawa-Sumarorong yang kondisi jalannya lumayan bagus. Padahal menurut seorang Bapak yang kebetulan 1 mobil dengan saya menuju Mamasa, kondisi jalan di jaman Belanda lumayan lebih nyaman dilalui. Karena kala itu, mobil sedan masih bisa melintas. Masih menurut beliau, di jaman Belanda, per 5 km disiapkan penjaga yang setiap saat memantau kondisi jalan. Beliau sempat juga menuturkan, bila di masa jabatan Pak Adnan sebagai Gubernur Sulbar perbaikan akses jalan poros Mamasa tidak mampu diwujudkan, maka suatu saat nanti, Pak Adnan akan merenungi dan menyesali kesalahannya sebagai putra Mambi.

Setelah sempat merasakan mandi pagi di Mamasa kira-kira pukul 06.30, saya kemudian mengiyakan pendapat yang mengatakan Mamasa tidak sedingin dulu lagi. Adapun kisah lain sewaktu Mamasa masih bagian dari wilayah Polmas, kota Mamasa dulunya dipenuhi oleh beragam bunga. Sehingga istri pejabat Polmas kalau berada di Mamasa, pasti pulang membawa bunga. Dari kota Mamasa kita dapat melihat G. Mambulilling yang tegar berdiri diselimuti kabut. Pada sisi tertentu, jelas terlihat air terjun membentuk garis putih vertikal di lereng gunung tersebut. Dari yang saya lihat sepanjang jalan, sungai Mamasa boleh dikata sudah tercemar karena kebanyakan kandang babi berada tepat di bantaran sungai dengan bau khas.

ukiran gerbang kantor bupati mamasa

Ukiran di gerbang Kantor Bupati Mamasa (Foto : Ibnu Masyis)

ukiran gerbang kantor bupati mamasa sulbar
Ukiran di gerbang Kantor Bupati Mamasa (Foto : Ibnu Masyis)

Walaupun memiliki banyak kesamaan dengan Toraja Sa’dan, tapi dari segi arsitektur, atap depan atau bubungan rumah masyarakat Toraja Barat atau Mamasa sedikit lebih rendah. Adapun makam kuno Tedong-Tedong, terletak di Kecamatan Balla. Bila keluar dari kota Mamasa melalui jalan poros Polman, jarak ke makam Tedong-Tedong tidak terlalu jauh. Kira-kira 4-5 km dari kota Mamasa kita belok kanan menyeberangi sungai. Di mulut jalan-belokan terdapat papan penunjuk arah ke makam Tedong-Tedong. Setelah melintasi jembatan di atas sungai tadi, kita belok kiri lagi menyusuri jalan berkelok yang sepanjang sisi kanannya adalah tebing. Bila tiba pada satu jembatan dekat sawah, terdapat persimpangan. Kita pilih jalan ke kiri yang terdapat 2 tongkonan atau rumah adat Mamasa. Tongkonan yang agak kecil tepat berada di tengah jalan yang memisahkan antara sungai dan sawah. Terdapat papan penunjuk arah yang bertuliskan, “Objek wisata Tedong-Tedong,” di depan tongkonan kecil tadi. Kita berjalan melewati tongkonan kecil sekitar 15 meter dan di atas sebuah ketinggian tongkonan lebih besar tempat makam Tedong-Tedong itu berada. Pintu makam tergembok, dan rumah juru kuncinya berada  di belokan  kanan saat di jembatan tadi. Dari jembatan kita bisa melihat rumah warga bersusun di ketinggian. Salah satunya adalah rumah juru kunci makam.

tongkonan kecil makam tedong tedong mamasa

Tongkonan kecil yang menjemput menuju tempat makam yang berada di ketinggian (Foto : Ibnu Masyis)

objek wisata makam tedong tedong mamasa

Petunjuk arah menuju objek wisata makam Tedong Tedong Kab. Mamasa (Foto : Ibnu Masyis)

lokasi objek wisata makam tedong tedong mamasa sulbar
Tongkonan dalam kawasan objek wisata makam Tedong Tedong Mamasa, Sulawesi Barat (Foto : Ibnu Masyis)

Kompleks makam berada di rumah tongkonan yang kira-kira berukuran 3 X 13 meter. Dari pintu masuk, mayat yang berada di dalam patung kerbau dan perahu berjejer rapi ke belakang. Dari tumpukan tulang di dalam patung tersebut, diperkirankan bahwa lebih dari 1 jenazah yang ditaruh di dalam 1 patung dengan mempertimbangkan garis keturunan atau sistem kekerabatannya. Menurut penjaga makam, awalnya patung-patung tadi berada di sebuah lapangan atau tempat terbuka. Setelah melalui upacara adat, patung berisi mayat tadi lalu dipindahkan ke dalam rumah tongkonan seperti yang ada sekarang. Tradisi pemakaman layaknya yang ada di makam Tedong-Tedong sudah tidak dilakukan lagi hari ini. Jadi boleh dikata bahwa makam Tedong-Tedong kini hanyalah sepenggal kekayaan budaya yang pelestariannya hanya dapat dilakukan sebatas merawat dan menjaga artefaknya saja. Melalui Dinas Pariwisata Kab. Mamasa,  sementara ini dirancang aturan bahwa makam Tedong-Tedong hanya dapat dibuka atau dilihat sekali setahun dan jatuh di bulan Juni dirangkaikan dengan prosesi adat yang meriah.

Dari keterangan juru kunci makam, peti jenazah yang berbentuk patung perahu berisi jenazah yang datang atau bernenek moyang dari daerah pantai. Diduga, orang-orang yang dimakamkan di dalam patung-patung tadi adalah golongan bangsawan. Bila dilihat dari besar-kecilnya patung tempat jenazah atau sarkofagus, kemungkinan pilahannya berdasarkan jasa atau tingkat penghargaan kepada yang dimakamkan. Kendati sarkofagus dalam kompleks makam bentuknya beragam, boleh dikata bentuk kerbau yang paling dominan sehingga makam tersebut dinamai makam Tedong-Tedong. Hampir dipastikan makam ini telah berusia ratusan tahun. Sayangnya tak ada masyarakat sekitar termasuk juru kunci yang benar-benar bisa menjelaskan asal usul perihal makam ini. Salah satu sebab utamanya tidak lain karena orang-orang tua yang memahami persoalan ini telah tiada. Apalagi saudara kita dipegunungan tidak mengenal tradisi tulis dan hanya mengandalkan data lisan cerita rakyat secara turun temurun (folklor).

Tulang belulang dan tengkorak menumpuk saja di dalam sarkofagus. Walaupun begitu, juru kunci makam tetap membantah keras tudingan bahwa sebagian dari tulang tengkorak yang menumpuk di dalam peti kerbau tadi tidak asli lagi atau diambil dari tempat lain. Beliau tetap meyakini bahwa dulunya memang jenazah-jenazah ini- sesuai tradisi, dikubur di dalam sarkofagus atau sengaja dibuatkan peti mayat seperti itu. Hanya tongkonan atau rumah tempat sarkofagus berada yang memang belakangan dibuat. Beberapa sarkofagus beberapa sisinya terukir, tetapi ada juga yang dibiarkan polos. Beberapa patung sudah dalam kondisi rusak. Bahkan beberapa patung  sudah dililit dengan tali untuk menjaga tulang agar tidak jatuh. Konon, badan patung-patung tersebut dibuat dari 1 batang pohon besar  yang kemudian dibentuk. Kalau pun ada sisi atau bagian patung yang terpisah dari badan patung, itu hanya sebagaian kecil seperti tanduk dan kaki.

sarkofagus makam tedong tedong mamasa sulbar

Tulang dan tengkorak bertumpuk dalam salah satu sarkofagus yang mulai rusak (Foto : Ibnu Masyis)

sarkofagus makam tedong mamasa

Tulang dan tengkorak yang ada dalam peti jenazah berbahan kayu (Foto : Ibnu Masyis)

Sebenarnya, setelah meninggalkan lokasi makam Tedong-Tedong kami berniat ke makam lain yang tidak kalah unik. Masih di sekitaran Mamasa, ada jenazah atau tau-tau yang ditaruh di dalam batang bambu. Tapi menurut info yang kami dapat selanjutnya, harus diadakan upacara adat dulu untuk bisa melihat makam tau-tau tersebut yang tentu saja biayanya ditanggung oleh kita pendatang yang mau melihat.

peti jenazah objek wisata tedong tedong sulbar

Sarkofagus/ patung atau peti jenazah yang berjejer rapi dengan ragam ukuran dan bentuk (Foto : Ibnu Masyis)

objek wisata makam tedong tedong mamasa

Peti jenazah yang berjejer rapi yang salah satu bentuknya menyerupai kerbau (Foto : Ibnu Masyis)

Perihal kebiasaan masyarakat Mamasa, sekitar tahun 2005 saya sempat berbincang dengan Kades Pasapa’ Mambu di Messawa. Menurut beliau, adat kami di sini sangat memberatkan. Sehingga kedatangan agama samawi dalam hal ini Kristen, sangat membantu untuk bisa sedikit mengabaikan tradisi kami atau kepercayaan Aluk Todolo. Saya sempat diantar melihat jenazah yang telah diawetkan berbalut sarung dengan posisi didudukkan di atas rumah seorang warga. Jenazah tersebut belum bisa dikebumikan karena belum cukup uang untuk membayar utang sekaligus melaksanakan pesta adat. Tak heran bila ada pendapat yang mengatakan, orang Toraja itu hidup untuk mati. Selain penundaan pemakaman, konsekuensi tentang utang tadi mewajibkan keluarga atau anak dari almarhum untuk tidak makan nasi dan sementara waktu hanya bisa makan umbi-umbian. Pesta bagi mereka di Mamasa adalah sesuatu yang sakral sekaligus mahal. Sehingga tidak mengherankan bila tetangga atau kerabat rela menyumbangkan kerbau atau babi bila pesta adat akan dilangsungkan. Tetapi pemberian tadi wajib untuk diganti bila suatu saat si pemberi juga akan melaksanakan pesta serupa.

patung tedong tedong tampak dari belakang mamasa

Patung kerbau tampak dari belakang (Foto : Ibnu Masyis)


ukiran peti jenazah tedong tedong mamasa

Bentuk ukiran pada bagian permukaan peti jenazah (Foto : Ibnu Masyis)

Mengacu pada makam Tedong-Tedong, kemungkinan besar orang Mamasa tidak sekedar memandang binatang kerbau / babi hanya sebatas santapan pengganjal perut atau titik ukur strata sosial, melainkan juga memiliki fungsi spritual. Singkat kata, dengan menumpangi perahu bersama kawanan kerbau, semoga saja arwah atau penumpang makam Tedong-Tedong selamat dalam perjalanannya menuju hari kemudian. Semua datang & kembali padaNya.

pemandangan sawah mamasa makam tedong tedong

Foto diambil dari arah kompleks makam Tedong-Tedong (Foto : Ibnu Masyis)

Tepi Salu Madatte, 8 Maret 2014


Penulis :

muh ibnu masyisMuh. Ibnu Masyis, lahir tidak jauh dari sungai Madatte, Polewali. Saat ini tinggal di Kabupaten Polewali Mandar. Penggiat sejarah Mandar, pemerhati budaya, aktif berkegiatan seni di Sanggar kesenian Madatte Arts dan menjadi pembina di divisi Teater.  Bercita-cita melihat dunia Teater dan Madatte Arts membumi di Mandar, Sulawesi Barat.

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/ibnu.whidya

 

Comments 

 
#1 2014-03-13 16:47
I Like this your post, brother.
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018