Online 23 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Wisata Mamuju Menyibak Belukar Hutan Menuju Air Terjun Tammasapi Mamuju

Menyibak Belukar Hutan Menuju Air Terjun Tammasapi Mamuju Cetak
oleh Zulkifli Zain   
Rabu, 26 Maret 2014 16:56 | Tampil : 1737 kali.

“I’m so lonely broken angel, I’m so lonely, listen to my heart”seperti itu bunyi ringtone berkali-kali membelah keheningan. Walau mata terasa berat membangunkan badan yang masih tidur, tapi ku tak dapat juga mengabaikan bunyi tersebut, entahkah itu alarm pengingat ataukah panggilan masuk. Sejenak ku mengendapkan pikiran dan perasaan yang baru tercabut dari alam mimpiku untuk mengalihkan ke benda berdering diatas meja, waduh… (dalam hati) berat terasa menggerakan raga yang baru terjaga, tetapi semangat menopangku berharap itu bukan bunyi alarm melainkan pengingat sholat subuh dari kekasih Dona. Walahhh… si Cuni Cuni Root yang namanya muncul di layar ponsel alih-alih begitu semangat melebihi semangatku mengangkat telpon tersebut. Tak sempat berbicara mungkin karena ku telat mengangkatnya tapi aku tak perlu berpikir apa perlu si Cuni Cuni Root jam 05.03 membangunkan, ku tahu maksudnya. Sesegera mungkin ku melakukan sholat subuh.

air terjun tammasapi mamuju

Air terjun Tammasapi yang terletak di kota Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Zukifli Zain)

Pasca sholat ku menyiapkan semua yang direncanakan dari rapat online semalam, sambil mengingat-ingat apa keputusan rapat semalam; Pusvawirna Natalia Muchtar menunjukku sebagai guide trip tammasapi waterfall, it’s okey; Cuni Cuni Root & aryandi bertanggung jawab pada kamera; irwan saputra pada spanduk & kasur kolam renang namun tidak jadi karena bocor alasannya; seksi keuangan & konsumsi jangan ditanya siapa, Irha Dona tentunya, menu utama yang tidak pernah ketinggalan setiap kali trip yaitu GOGOS KAMBU, gogos adalah makanan khas Sulawesi yang mirip dengan  lemper dari jawa, bentuknya lebih panjang & agak langsing dibandingkan lemper, Ada gogos yang tanpa isian dan adapula dengan isian. Nah menggunakan isian di daerah Mandar menyebut Gogos Kambu.  Bahan dari beras ketan di tengah diisi abon ikan  tongkol lalu dibungkus dengan daun pisang yang kemudian dimatangkan dengan cara dipanggang, sangat pas untuk bekal bepergian. entah mengapa gogos ini terasa sakral yang harus mencarinya diwaktu subuh hingga pagi hari jika telat sedikit maka kamu akan gigit jari memilikinya. Ok kembali, Untuk segala sesuatunya yang berhubungan dengan air (peralatan) tanpa ditunjuk Abi Qiffary sudah menawarkan diri penanggung jawab hal tersebut dan kami setuju karena dia sudah punya reputasi di laut sewaktu trip di pulau karampuang yang bertindak sebagai asisten kak Ridwan Alimuddin.

Memutar memory lebih kebelakan lagi, pada malam sabtu tepat pukul 08.30 di warkop kopdar berlangsung. Berharap sih teman-teman Kompa Dansa MandarMamuju dapat semua hadir namun sesuatu dan lain hal, maka yang ada hanya berempat; kak Ridwan Alimuddin & Abi Qiffary lebih awal sebelum saya menyusul, dibalut jam kerja memaksa Cuni Cuni Root untuk terlambat datang. Lain hal si Irha Dona yang pengen tapi kondisi kurang fit menghalangi tuk hadir, dimaklumi;  hehehe…. Si pusva si maradika towaine yang sangat dan sangat antusias sebelumnya kini terlenakan oleh pa’lolangnya mengharuskan melewatkan kopdar tanpa dirinya.

Ceritanya kopdar tapi semua pada minum JUS ALVOCAD, apa nggak salah itu atau mungkin lebih tepat kita bilang saja JUSDAR hehe…., namun kak Ridwan Alimuddin membenarkan kata KOPDAR itu. Penuturan beliau kopdar berasal dari kata copy yang diartiluaskan “mengulang” mengulang kembali pertemuan atau kebersamaan, it’s true. Dan sekonyong-konyong aku menambahkan “artinya kita FOTOCOPY donk” mengulang pertemuan/kebersamaan dan foto-foto.

Disela cerita, Cuni Cuni Root & Abi Qiffary bertanya sedikit ragu; seperti apa gambaran air terjun Tammasapi? Berapa jarak dan waktu tempu berjalan kaki? Seekstrim apa medannya? ku bisa menangkap apa mereka pikirkan berdua namun ku hanya menjawab enteng dan sedikit bumbu-bumbu spirit biar mereka berdua bersemangat, tuturku “berjalan di pagi hari itu menyehatkan, trip kita seimbangkan gunung dan laut, serta harus kita tanamkan dibenak bahwa anak KOMPA DANSA MANDAR itu berjiwa adventure, kita hanya berjalan kaki 400 meter itu belum sepadan dengan petualangan kak Ridwan Alimuddin bersepeda dari Suremana (perbatasan Sulteng) sampai ke Paku (perbatasan Sulsel)” kak Ridwan Alimuddin menyimak sambil tersenyum setuju. Mendaki gunung, satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Tatapan mereka sinis dan tak jarang pula disertai dengan cibiran. Mereka pun berkata merendahkan, saat melihat sekolompok orang dengan carier sarat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman. Prinsip seorang petualang adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri. Mendaki gunung dan menelusuri lembah itu bukanlah menaklukkan alam, tetapi justru menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang petualang sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Mendaki gunung dan menelusuri lembah itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama tentang alam semesta, yaitu cinta.

Selepas kopdar semalam, ku menghubungi Pusvawirna Natalia Muchtar  yang pada saat itu lagi ngemil  ingin menanyakan segala persiapan dan kesiapannya. Kataku “ pus, besok kita trip ke air terjun Tammasapi, satu tempat yang asing di telinga kita daerah yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Meski ku sebagai guidenya tapi misi kita sama, memang ku belum pernah ke air terjun itu tapi ku punya gambaran dari informasi yang ku peroleh untuk menuju kesana, jika nanti berhasil menemukannya namun kenyataan tidak sesuai harapan maka kita tak perlu kecewa dan berkecil hati, dinamika berpetualang tak selamanya indah dan berjalan mulus, seperti itu jugalah hakekat kehidupan. Puppa, siapkan semua yang akan kita bawa besok assalamu alaikum” tutt…tutt.. tutt.. panggilan diakhiri. Pusvawirna Natalia Muchtar selalu menjawab iya dalam pembicaraan ditelpon.

Bertindak sebagai guide, ku harus bisa memimpin rombongan layaknya seorang guide beneran, tugas seorang guide atau pemandu adalah; memberi informasi daya tarik wisata, mengantar perjalanan wisata, menjaga rasa aman perjalanan, menjelaskan tujuan kedatangan wisata, menciptakan kesan positif pada wisatawan, & membantu segala sesuatunya yang diperlukan wisatawan.

masjid agung mamuju spot berkumpul sebelum ke tammasapi

Masjid Agung Mamuju spot berkumpul  sebelum menuju ke air terjun Tammasapi
(Foto : Zulkifli Zain)

gogos kambu bekal ke tammasapi

Gogos kambu sebagai bekal menuju Tammasapi (Foto : Zulkifli Zain)

Pukul 06.00 pagi tibalah waktunya berkumpul di masjid Agung kota Mamuju untuk menuju arah trip. Pagi yang dingin tidak menciutkan semangat teman-teman untuk berkumpul meski sedikit molor sekian menit dari waktu yang disepakati, hehe… maklum anak Indonesia. TRIP KOMPA DANSA MANDAR MAMUJU ke air terjun Tammasapi kali ini diikuti : 1. Zulkifli sosok yang lugu 2. Pusvawirna Natalia Muchtar, orangnya supel, teman dia bertebaran dimana-mana, tak salah digelari Mara’dia Towaeine, bekerja di Balai karantina Pertanian, dan bertempat tinggal di kelurahan simboro dekat pelabuhan peri; 3. Fahmi akrab disapa Cuni Cuni RootCuni Cuni Rootroot bekerja di jasa traveling Talenta Mamuju, dia tak lain adalah seorang fotografer (DOT); 4. Irwan Saputra, pria yang kekar berbadan atletis dan energik tapi lugu, ini bekerja di Hotel D’maleo di bagian IT, jadi bila teman-teman pengen makan PIZZA jangan sungkan-sungkan menghubunginya.; 5. Akhiruddin, baru bergabung tapi sudah mengikuti trip sebelumnya dan ini untuk kali keduanya, dia bekerja di Balai karantina ikan & bertempat tinggal di wilayah karema tepatnya belakang patung Tentara; 6. Abi Qiffary, kesenangannya berenang di laut, bekerja di Bank Syariah Mandiri Mamuju, jika teman ingin mendapatkan kredit bank tanpa suku bunga silahkan menemuinya;  7. Aryandi, yang jago melucu ini bekerja di Dinas Kebudayaan Prov. Sulbar. 8. Hijranah alias Irha Dona Dona, seorang sarjana pendidikan yang bekerja di Biro Keuangan Prov. Sulbar ini bertempat tinggal di JAKARTA (Jalur Karema Utara) dekat pompa bensin simboro.; 9. Amanda, adik kandung Pusva ini tak pernah melewatkan trip bersama KDM dan kadang membuat kami tertawa akan tingkahnya yang lucu.: 10. Insti, teman sekantor Pusva. Namun kesempatan ini tidak berpihak pada dua sejoli bang Erick Ady Novendra & Lili Adelina Yolanda, mereka berdua tengah berada di kota Lampung, Sumatera. Erick Ady Novendra bekerja pada Dinas PU Kab. Mamuju bidang Cipta Karya. Jadi sepuluh orang siap berpetualang ke arah gunung.


member kompa dansa mandar mamuju menuju air terjun tammasapi
Member Kompa Dansa Mandar Wilayah Mamuju yang mengikuti trip menuju air terjun Tammasapi (Foto : Zulkifli Zain)

Tepat pukul 06.20 wita, sepuluh orang Starting line up trip mulai berangkat dengan mengendarai sepeda motor kearah pegunungan dengan kejauhan 5 km dari kota Mamuju. Beriringan dalam formasi teman-teman; zulkifli berboncengan dengan Irha Dona, pusva dengan adiknya Amanda, Cuni Cuni Root bersama Abi Qiffary, Irwan bersama insti, akhiruddin dan Aryandi masing-masing bawa motor sendiri. sebelum hingga on the way Cuni Cuni Root sudah mengerjakan tugasnya mendokumentasikan petualang, dia begitu piawai merekam video di atas motor layak kru trans TV yang bertugas di lapangan. Dingin dan segar udara dibawah rindangnya pepehonan berjejeran yang kita lewati mengisyaratkan udara tak berpolusi sebelum asap knalpot kendaraan kami mencemarinya, kicau burung terdengar merdu disela pohon melantunkan simpony kehidupan menyambut sang mentari akan bersinar cerah. Memasuki area wisata kali Mamuju nampak pos jaga retribusi untuk beli karcis masuk lagi kosong petugasnya dan kami pun melenggang santai melewatinya. Sekitar 50 meter dari pos tadi rintangan pertama kami hadapi yaitu jembatan dengan bermaterial kayu, jembatan kali Mamuju yang membentang, dengan sangat hati-hati kami melewatinya, untuk menyeberangi jembatan motor kami harus satu persatu melintasi karena jembatan tersebut terbuat dari kayu yang perlihatkan celah-celah bahaya di bawahnya, kami harus berhati-hati dan focus melewati jika tidak maut mengintai, di bawah kolom jembatan aliran air kali ditemani hamparan batu cadas hitam yang besar itu bukan berita baik bila kita terjatuh ke bawah.

perjalanan menuju tammasapi

Dalam perjalanan menuju air terjun Tammasapi (Foto : Zulkifli Zain)

iringan motor menuju air terjun tammasapi

Iring-iringan kendaraan bermotor KDM Mamuju menuju Tammasapi (Foto : Zulkifli Zain)

Setelah melintasi jembatan perjalanan pun dilanjutkan, ku kembali berada di depan rombongan sepanjang jalan yang berkelok-kelok, menanjak, menurun, dan mendaki memaksa motorku menggunakan gigi 1-2  dan mau tak mau motorku harus mengeluar asap tebal yang tak ramah lingkungan maklum motor tua 2 tak lagi, jika melihat kebelakang wajah teman-teman tertutupi asap knalpotku.  Sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh indah panorama yang terpampan dihadapan, berliuk-liuk menyusur puncak gunung member sensani yang berbeda; ngarai dan curam memperlihatkan kekokohannya, pohon-pohon besar tumbuh kembang tak beraturan menyejukkan hati bila memandangnya, kelok aliran sungai yang nampak dari atas puncak gunung memberi ketenangan jiwa, warna biru laut dari ujung pandangan dan hijau gunung yang berjejeran itu semua adalah warna kedamaian, kami begitu terkesima oleh semua.

Sesampai  dipersimpangan terlihat pohon yang di bawahnya tertulis ± 400 m. disitu kami berkumpul dan berenggut terlebih dahulu.  Dibalik pohon tersebut terdapat jalan kecil menurun dan itu tak lain adalah jalan menuju air terjun. Tibalah saatnya kami menelusuri air terjun Tammasapi dengan berjalan kaki, kamera pendokumentasi tetap siaga dalam genggaman Cuni Cuni Root, namun sebelum itu kami harus memarkir kendaraan di lereng gunung, sekitar 20 meter dari bibir jalan beraspal yang mengharuskan kami bekerja tim bahu-membahu menurunkan menempatkan kendaraan kami ke posisi yang di tentukan.

tempat memarkir motor menuju tammasapi

Lokasi  memarkir motor sebelum berjalan kaki menembus hutan menuju air terjun
(Foto : Zulkifli Zain )

memarkir kendaraan sebelum menuju tammasapi

Member KDM Mamuju memarkir motor sebelum  menuju air terjun Tammasapi
(Foto : Zulkifli Zain )

Setelah kendaraan kami terparkir baik, tepatnya di bawah rindangan pepohonan, barulah kami memulai. semua arah pandang teman-teman tertuju padaku mengisyaratkan kendali komando kembali ke pundakku. “Oke teman-teman, saatnya kita berjalan kaki, mari kita lanjutkan telusuri air terjun itu”. Satu demi satu kaki kami dilangkahkan di temani rasa ragu akan arah yang tak jelas. Sekitar 30 meter melangkah, kami temui jalan bercabang dua; kiri & kanan. Irha Dona menyahut “kemungkinan arah sebelah kanan” dia beralasan, jika kita melihat dari atas, jalur kanan mengarah ke anak sungai, dan kemungkinan disitu terdapat air terjun. Tapi aku tetap yakin pada instingku pilih sebelah kiri. Teman-teman pun harus mengikut.

Sekitar 10 meter dari jalan bercabang yang kami lalui terdapat pintu berupa gerbang kecil setinggi bahu terbuat dari bambu & kayu yang diikat oleh tali dari rotan. Entahkah itu gerbang welcome to air terjun Tammasapi ataukah itu hanya pembatas kebun. berbagai spekualsi dari teman-teman mengomentari pintu gerbang tersebut. Kami pun memuluskan jalan beriringan sorak menyapu semak belukar. Sesekali aku mendengar kata “aough” dari teman-teman bernada protes pada kondisi jalan, namun aku hanya tersenyum dalam diamku.

gerbang menuju tammasapi mamuju

Pintu masuk kawasan air terjun yang merupakan  pembatas kebun warga (Foto : Zulkifli Zain)

gerbang menuju air terjun tammasapi

Menembus semak belukar dan melintas diantara kebun milik warga (Foto : Zulkifli Zain)

Semasa perjalanan, terkadang aku bernyanyi lagu film kartun favoritku Ninja Hatori “ mendaki gunung melewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudra
Bersama teman berpetualang
Hore…, meski itu hanya dalam imajinasiku tetapi lagu itu sangat pas dijadikan soundtrack trip kali ini. Aku merasa terbawa ke masa SD, sepulang sekolah, bersama teman-teman pergi ke gunung mencari jangkrik kemudian diadu.

jalur menuju air terjun tammasapi mamuju

Dalam perjalanan menuju air terjun Tammasapi yang letaknya jauh ke pelosok (Foto : Zulkifli Zain)

menuju air terjun tammasapi

Iring-iringan member KDM Mamuju menuju kawasan air terjun Tammasapi  (Foto : Zulkifli Zain)

Derap langkah kaki terhenti di 150 meter(angka perkiraan) dari gerbang tersebut tadi, terpampang air terjun yang sangat tinggi titik jatuhnya, namun debit airnya kurang dan berpencar tak beraturan. Kami pun tertegum mengamati air terjun tersebut. Teman-teman pada berkata “ini kah tujuan trip kali ini” perkataan bermuatan tak setuju setelah mengamati debit air yang kecil dan tak cukup untuk berenang. Boleh dikata, tidak memuaskan diluar harapan. Namun aku dan pusva secepat mungkin menepis asumsi teman-teman. “air terjun ini bukan air terjun yang kita kunjungi, tetapi ini hanya serangkaian air terjun yang kita lewati menuju kesana” sahut  pusva. Air terjun adalah formasi geologi dari arus air yang mengalir melalui suatu formasi bebatuan yang mengalami erosi dan jatuh ke bawah dari ketinggian.

Kakiku beralas sandal gunung yang melilit, bermerk EIGER persis sama dipakai mara’dia Towaine, motif & ukurannya juga sama 38. Sangat mendukung untuk medan seektrim yang kita lewati. Penelusuran pun dilanjutkan, dibenakku tak henti-hentinya berbicara sendiri “ini jalan adalah jalan yang sangat jarang dijamak manusia, semak belukar melintang menutupi badan jalan setapak, nampak sangat menyeramkan dan hanya itu, semak setinggi badan, batang pohon yang tumbang memotong arah jalan memaksa kami merunduk melintasinya. Betul-betul menyiutkan nyali.” Bertindak sebagai guide, aku tak bisa menampakkan itu, aku harus menyakinkan mereka bahwa jalan inilah arah tujuan kita.

Sepanjang perjalanan, riak air terdengar berirama khas suara alam yang bertanda air mengalirkan kejerniannya melewati sela bebatuan yang kuat, keras nan kokoh.  Juga terlihat lihat aliran air yang kecil muncul dari akar pohon menuju ke badan anak sungai untuk mengalir dialirannya. Tak luput dari pandangan, pipa besi melintang berserakan, itu adalah pipa milik PDAM yang nampak sudah lama tidak difungsikan. Pada akhirnya kami menjumpai bendungan, akan tetapi sangat disayangkan waduknya kering, aku rasa bendungan itu sudah tidak fungsi lagi bersama jaringan-jaringan pipanya.

bendungan tua dekat air terjun tammasapi

Bendungan tua yang terletak sebelum lokasi air terjun (Foto : Zulkifli Zain)

bendungan tua air terjun tammasapi

Usi bendungan yang tampak cukup lama tak digenangi air (Foto : Zulkifli Zain)

Aku yang terlampau jauh ke depan dan tak terlihat oleh teman-teman dari belakang, sendiri meraba jalan yang bermain-main dengan nyali “sempat ular sawa menerkam kemudian melilitku, sempat ada babi hutan yang kaget akan keberadaanku kemudian menyerangku” itu dipikiranku. Aku berhenti sejenak memandang kiri dan kanan, kemudian memutarbalikan badan 180 derajat , hanya riak air yang terdengar jelas tidak ada tanda-tanda arah jalan ke air terjun, aku ingin bicara tetapi kepada siapa bicara, karena aku sendiri jauh didepan. Hanya takut gagal saja yang memaksaku bertahan, aku mencoba melempar suara ke udara, berteriak sekuat tenaga. Begitulah dinamika di tengah hutan jika ingin berkomunikasi.

“aough” berkali-kali layaknya adegan Tarzan dalam filmnya di layar TV, pantulan suaraku dari dinding tebing mengema bolak-balik. Sesekali berteriak pantulannya kembali berkali-kali. Syukurlah, tanpa menunggu begitu lama terdengarlah suara serupa dibalik hutan, itu adalah balasan seruanku dan bertanda ada manusia di area hutan itu. Aku ajak dia berbicara di udara  namun balasanya tidak jelas artikulasinya. Aku memutar haluan saja balik menemui teman-teman. Agak jauh juga aku berjalan kebelakang, buzzet..hehehe. Mereka pada kecapean duduk melentang di area bendungan tadi. Mereka berkata “zull, mari kita sarapan dulu baru kita lanjutkan” sambil membuka bekal.

Kami pun sarapan, yang pertama aku cari dari menu sarapan adalah gogos kambu, dari tadi tercium aromanya yang lezat. Weh..weh ternyata bukan hanya itu, pusva dan Irha Dona pintar memilih menu sarapan, ada kue apang yang nikmat manisnya melengkapi lezatnya Gogos Kambu. Kue apang adalah makanan khas Mandar, terbuat dari tepung beras & dicampur gula merah, lebih enak dimakan jika ditaburi parutan kelapa yang agak muda. Sungguh menggugah selera & rasa letih tadi sirna seketika.

Ditengah kami bersarapan, sejujurnya ku tak bisa mendiamkan pikiranku ke air terjun itu. Rasa cemas & pesimis di rawut wajah teman-teman tak terelakkan lagi yang bersama letih dari kejauhan. Nada-nada sumbang pun dari mereka sedikit menggoyahkan mental dan semangatku. “ayo kita ke pulau Karampuang” seru Abi Qiffary, sambung Aryandi “ke Rangas saja, disana ada permandian air laut, 10 ribu karcisnya”, Pusva tidak tinggal diam “andai kata kita tidak menemukan air terjunnya, bolehlah kita ubah arah haluan ke Soddo, berenang disana” pernyataan itu hampir dan sedikit lagi disepakati teman-teman.

sarapan pagi di tengah hutan tammasapi

Menikmati sarapan pagi di tengah hutan Tammasapi (Foto : Zulkifli Zain)

Andai semangatku itu seperti dinding tembok maka terlihatlah retakan membentuk garis-garis tak beraturan pada dinding yang ingin runtuh. Namun keikhalasan dibungkus sikap sabar akan membawa kekuatan, tatapan iradona penuh asa kepadaku seakan mengirimkan energy positif, semangatku pun mulai terbakar, ku awali menenangkan pikiran, menarik nafas dalam-dalam & mensugesti diriku sendiri “ pantang kembali sebelum tiba, jika aku kembali tanpa sampai di tujuan akan ku temui diriku sebagai pecundang”

Bagiku mendaki gunung dan menelusuri lembah bukan semata-mata perjalanan fisik saja melainkan perjalanan mental juga, mendaki gunung tidak hanya membutuhkan fisik tapi juga membutuhkan otak dan mental, tujuannya bukan hanya mencapai tempatnya saja, kebersamaan, saling berbagi, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mendukung merupakan bagian dari tujuan kita bersama,

Sesekali ku melemparkan suara ke udara dan tak lama membuahkan hasil, ada suara dibalik hutan yang ku pikir itu tak jauh dari posisi kami. Jika ada  manusia di dalam hutan belantara begini aku tak tau apa yang mereka cari, mungkin saja dia bertapa sambil menuggu buah durian jatuh dari pohonnya atau kah dia perambah hutan oknum illegal loging, bisa saja. ku ajak Irwan saputra menemaniku untuk mencari sumber suara tersebut, sambil berjalan aku dan Irwan tak henti-henti berkumandang, sekitar 50 meter berjalan ku sudah bisa menangkap jelas suara tersebut dengan penyebutan yang jelas, “ada orang? Dimana air terjun?” itu teriak kami berdua.  Jawabnya singkat “ada, air terjun masih jauh ke depan” info dari hutan tersebut memberi asa meski tak memberi tahu seberapa jauh lagi kami harus berjalan. Kami berdua dengan semangat menemui teman-teman yang lagi asyik break sarapan di bendungan.

Di bendungan aku mengajak semua teman-teman melanjutkan perjalanan, mereka pun bergegas dengan semangat. Penelusuran pun kami teruskan, rintangan terasa ringan kami hadapi setelah semangat menyala kembali. Air terjun yang selalu membayang akan segera muncul di depan mata, langkah demi langkah kaki silih berganti tak berhitung kejauhan. Mungkin aku terlalu bersemangat hingga tak sadarkan Ku melejit jauh ke depan meninggalkan teman-teman di belakang yang lambat berjalan dikarena masih meraba-raba kondisi jalan.

Gemuruh air terdengar dari kejauhan, langkahku kian dipercepat untuk segera menemukan sumber suara gemuruh air yang berjatuhan dari ketinggian. Uhuuii… dan akhirnya mataku menangkap dan terkesima pada objek putih membentang vertical yaitu AIR TERJUN diselumuti hempasan titik-titik air bebas melayang-layang membentuk warna merah kuning hijau di dinding ngarai, itu adalah pelangi. Takjub dengan semuanya, ku berteriak-teriak ke udara tak kuasa ku menahan kegiranganku sepertinya ku berada diatas podium setelah menjuarai suatu tournament, hehehe. Nampak begitu lama aku menunggu teman-teman bermunculan, ku ingin mereka juga takjub melihatnya. Merekapun bermunculan dan langsung bersorak sorai bertanda mereka telah berhasil.

Kami lalu berusaha mendekati air terjun tersebut, air yang jatuh membawa hawa dingin nan sejuk, sedikit menusuk tulang. Kemudian aku berkata mereka “inilah AIR TERJUN TAMMASAPI, air terjun yang kita cari, dan sekarang kita sudah berhasil menemukannya” lalu terdengar sahutan “makaci guide” aku tak tahu itu dari mulut siapa, hehehe….

Angka yang tertulis di bawah pohon pinggir jalan beraspal dekat tempat memarkir motor yang pertama kita lalui, itu adalah jarak kita berjalan kaki ke air terjun, ya 400 meter itu tidak salah. Di area air terjun terdapat gugusan batu-batu besar, ketinggiannya ± 80 meter dengan kemiringan ± 89o , dan di tempat titik jatuhnya air terjun membentuk kolam berukuran panjang ± 30 meter dan lebar ± 15 meter dengan kedalaman ± 2,8 meter, itu pada saat musim kemarau. Bila musim penghujan tiba tentu debit air akan bertambah dan secara otomatis melebihi dari angka-angka tersebut diatas, kecuali angka ketinggian dan kemiringanTak sabar kami ingin menikmatinya, segala sesuatu yang dipersiapkan beserta penanggung jawabnya sewaktu rapat OL, saatnya bereaksi; spanduk masih terlipat di tangan Irwan Saputra, kamera tengah dipersiapkan Aryandi dan alat selam siap dalam gemgaman Abi Qiffary. Serupa kewajiban tak lain adalah membentangkan spanduk Komunitas KOMPA DANSA MANDARMANDAR merupakan symbol keabsahan sebuah trip kami. Mulailah kami berjejer membentangkan spanduk diatas batu besar dan kemudian mendokumentasikannya. Dengan wajah berseri-seri kami pun perlahan-lahan menuruni batu besar ke arah kolam. Air kolam terasa sangat dingin, Abi Qiffary yang jago bermain-main di air tak sanggup menahan dinginnya air  kolam yang membuatnya merinding dan menyerah. Hehe.. tetapi aku tidak diam begitu saja, ku paksa dia untuk kembali ke kolam. Kami semua sudah berada di kolam kemudian berenang mendekati dinding tebing jatuhnya air dari atas puncak ketinggian. Di tengah kolam sesekali aku menurunkan kaki mencoba mengukur kedalaman, namun kaki tak pernah bisa menyentuh dasarnya. Sesampai di dinding air terjung kami starting line up tak henti-henti berfoto mendokumentasikan wujud keberhasilan menaklukkan air terjun Tammasapi yang syarat dengan tantangan dan rintangan. Setelah itu kami melakukan aktivitas masing-masing; ada melakukan hunting fotografi, ada yang berfoto selfi dan lain-lain mereka lakukan.

kompa dansa mandar mamuju di air terjun tammasapi

Member KDM Wil Mamuju menikmati pesona air terjun Tammasapi Mamuju, Sulawesi Barat
(Foto : Zulkifli Zain)

dinginnya air terjun tammasapi mamuju

Air terjun Tammasapi Mamuju, Sulawesi Barat dengan ikmlim yang sejuk dan airnya yang sangat dingin (Foto : Zulkifli Zain)

Kami semua terasa sangat bahagia, perjalanan bermuatan resah, ragu, letih, dan cape terbayar lunas semua. Kami bergembira seperti berlompat-lompat diatas podium setelah menjuarai piala dunia, hehe lebay. Berada di lembah bawah ngarai yang sunyi seperti mengawetkan segala kemurnian dunia yang sudah hilang ditelan ambisi dan keinginan dunia. banyak orang bilang, di gunung atau lembah disana itu sepi, sunyi, jauh dari keramaian dan keceriaan. Tapi di lubuk hatiku berkata lain, berada di lembah nan sunyi kita bisa merasa menyatu dengan alam, keheningan memiliki daya yang unik dan asli, yang hakiki dan mendekatkan eksistensi kita dengan diri kita sendiri. Hal yang kami lakukan adalah sebuah miniatur kehidupan dalam menuju cita-cita dan menggapai impian. Kita harus menanamkan satu keyakinan pada diri kita bahwa tidak ada yang tidak bisa di dunia ini kecuali keyakinan yang menganggap bahwa kita tidak dapat melakukan hal tersebut. Seperti yang dikatan orang bijak “Tidak perlu menjadi pahlawan yang hebat untuk melakukan suatu hal, Cukuplah dengan motivasi untuk tujuan yang menantang” Perjalanan yang tidak biasa, adalah menari di jalan Tuhan.

Segenap starting line up Kompa Dansa Mandar Mamuju trip air terjun TAMMASAPI, kini pulang dari medan laga dengan membawa kemenangan; Penaklukan medan ekstrim di bawah kokohnya dinding ngarai, kami telah lakukan. Peta kekuasaan penaklukan wilayah melalui trip kini telah bertambah luas.
KOMPA DANSA MANDAR MAMUJU lanjutkan penaklukanmu!. Ayoo,,,


Penulis :

zulkifli zainZulkifli Zain, lahir di desa Mombi, kec. Alu, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Saat ini tinggal di Mamuju. Menyukai dunia sepakbola, gemar membaca novel, dan  travelling serta fotografi.

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/zulkifli.zain.3

 

 

Comments 

 
#1 2014-03-30 23:15
mantaps gan,,,,,
lain waktu jangan lupa ajak2,,,,
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018