Online 56 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Wisata Polewali Mandar EKSOTISME MAKAM TOMAKAKA ALLUNG. Part 2

EKSOTISME MAKAM TOMAKAKA ALLUNG. Part 2 Cetak
oleh Zulfihadi   
Kamis, 10 April 2014 19:18 | Tampil : 1246 kali.

Sahabat KOMPA DANSA MANDAR saat di lokasi

 

Maka tersebutlah sepasang suami istri yang tidak diketahui namanya namun diyakini berasal dari tanah Bugis hendak mengunjungi saudaranya di Mandar (entah di mana daerah di mandar yang dimaksud) pun tidak diketahui tahun berapa waktu kedatangan mereka, setelah menempuh perjalanan tibalah mereka di daerah yang sekarang bernama Bunga-Bunga (masih termasuk dalam kecamatan Matakali). Disanalah mereka bertempat untuk sementara waktu sambil beristirahat, namun tidak lama kemudian salah satu dari suami istri itu meninggal dan oleh orang bunga-bunga dimakamkan di Allung. Dan karena peristiwa tersebut sehingga pasangannya yang masih hidup terpaksa tinggal dan tidak lagi melanjutkan perjalanan sebagaimana maksudnya semula hingga kemudian meninggal pula di tempat itu. Menurut keterangan pak Salim, dahulu kedua makam tersebut disimpan jauh di dalam goa, namun kemudian dikeluarkan diposisinya saat ini yaitu di mulut goa. Ada dugaan jika mereka berdua berasal dari keluarga bangsawan, sebab masih menurut pak Salim, ketika mereka datang, mereka memiliki perhiasan lengkap mulai dari cincin, gelang, anting dan sebagainya sehingga saking banyaknya perhiasan yang mereka miliki sehingga tempat itu penuh warna-warni mirip dengan taman bunga, maka disebutlah tempat itu dengan Bunga-Bunga.

Konon kabarnya saat baru dipindahkan dari dalam goa ke mulut goa, batu yang ada dibagian atas belum selebar saat ini. Dahulu, saat hujan turun maka sebagian makam ini akan basah namun kemudian setelah sekian waktu. Batu yang ada di bagian atas goa tersebut tumbuh melebar dan menaungi makam hingga saat ini jika hujan maka kedua makam tersebut tetap kering.

Mitos lainnya adalah dahulu jika ada orang yang membutuhkan piring dan peralatan makan lainnya untuk hajatan maka yang bersangkutan biasa datang ke makam itu untuk “meminjam” barang yang dimaksud dan melakukan ritual tertentu. Konon jika permohonan peminjaman disetujui maka pada malam harinya barang yang dimaksud akan muncul di samping makam sehingga yang punya hajatan bisa datang keesokan harinya untuk mengambil dan harus mengembalikan saat barang tersebut sudah tidak dipakai lagi, tentu dengan membawa sesajen sebagai tanda terima kasih. Namun kemudian ada beberapa pemilik hajatan yang tidak mengembalikan barang pinjaman, maka saat ini “si empunya” tidak lagi mau meminjamkan jika ada yang melakukan ritual untuk meminjam peralatan makan.

Satu lagi mitos tentang makam Tomakaka Allung adalah, konon bahan pembuatan makam tersebut  adalah batang pohon kayu “sinaguri”. Sinaguri adalah sejenis tanaman perdu dengan tinggi 50 Cm.-100 Cm., bercabang banyak, kulit batang agak kemerahan, berkayu relatif keras dan memiliki bulu halus pada daunnya, biasanya tumbuhan ini terdapat dikebun-kebun atau daerah stepa. Sebelum mendapat kutukan, konon tumbuhan ini adalah pohon kayu yang besar dan kuat hingga sering digunakan untuk bahan pembuatan rumah. Mitos tentang pohon ini dapat juga kita temui dalam sejarah berdirinya mesjid tua Palopo, dengan nama kayu cinaguri.

 

Situs makam Tomakaka Allung

Kondisi makam saat ini.

Kondisi terakhir dari makam Tomakaka Allung saat kami berkunjung relatif masih cukup baik, meski lantai disalah satu ujung makam sudah berlubang cukup besar karena sudah lapuk dan membuat kita bisa melihat kebagian dalam makam. Makam Tomakaka Allung adalah sistem pemakaman dengan menggunakan peti kayu sebagai wadah makam, ini sangat mirip dengan sistem pemakaman yang ada di Tanah Toraya yang dipercaya sebagai peninggalan zaman megalitik. Makam senantiasa dalam kondisi kering meski hujan deras, dinding kiri dan kanan adalah batu demikian juga bagian atas terlindungi batu yang cukup unik sebab menyerupai atap seolah-olah memang dibuat khusus untuk menaungi makam. Ada dua makam di tempat ini, makam pertama yang diyakini sebagai sang suami memiliki ukuran panjang kira-kira 2,5 meter, lebar 0,5 meter dan tinggi 0,5 meter. Sedangkan pada makam kedua berukuran panjang kira-kira 2 meter, sedangkan lebar dan tingginya sama dengan makam yang pertama. Di samping makam terdapat pendupaan yang menandakan jika sering ada orang yang datang kesana untuk berdo’a atau meminta. Hal ini juga ditegaskan dengan banyaknya ikatan tali rafia disisi makam yang menurut pak Salim diikatkan oleh mereka yang datang bernazar.

Saat kedatangan kami, juga terlihat jika kain kafan yang menutp makam masih dalam kondisi baru. Ini diakui oleh sumber kami yang katanya beberapa minggu sebelum kedatangan kami, ada satu rombongan keluarga dari daerah Barru (Sulawesi Selatan) yang datang ke lokasi itu untuk melepas nazar dengan memotong seekor kerbau hitam.

Mencatat hasil wawancara dengan nara sumber

 

 

 

Muhammad Hasby melakukan wawancara dengan pak Muhammad Salim

di depan rumah beliau, saat kembali dari lokasi situs.

 


Perpisahan.

Ada rasa kecewa dan prihatin atas perilaku mereka yang sering datang ke tempat ini dengan maksud untuk meminta-minta. Bukankah mereka yang dimakamkan di tempat ini adalah mahluk, sementara tempat kita meminta seharusnya adalah Sang Khalik yang telah menciptakan segenap makhluk yang ada di bumi. Ditambah lagi mereka yang dimakamkan di sini belum diketahui dengan jelas agama dan keyakinannya bahkan sangat kuat dugaan jika mereka bukanlah muslim sementara yang datang untuk bernazar dan meminta hampir semua adalah muslim. Tentu ini adalah sesuatu yang bisa berbahaya jika ditinjau dari sisi aqidah sebagai seorang muslim, belum lagi upaya mengikatkan tali rafia ditepi makam yang tentu saja mengganggu pemandangan. Seyogyanya sebuah tempat bersejarah bisa dijadikan sebagai pengingat dan pembelajaran, bukan justru menjadi tempat pemujaan. Namun itu kembali lagi kepada prinsip diri kita masing-masing.

Selain kisah tentang Tomakaka Allung, kami juga mendapat bonus dari penuturan pak Salim berupa kisah asal usul nama daerah yang ada disekitar desa Patampanua itu, seperti misalnya Buttu Lamba yang konon menurutnya ada seorang wanita yang mempunyai dua orang suami. Rumah kedua suaminya itu berjauhan sehingga mengharuskan wanita itu berjalan jauh dari rumah suami yang satu ke rumah suaminya yang lain hingga akhirnya bukit yang sering dilalui wanita itu dinamakan Buttu Lamba (Buttu=gunung/bukit. Lamba = (ber) jalan).

Ada juga cerita tentang Tabone. Menurut cerita tutur yang disampaikan pada kami bahwa dahulu ada orang dari Bone (Sulawesi Selatan) yang datang dan membuka daerah itu untuk dijadikan kebun dan oleh masyarakat sekitar orang dari Bone tadi dipanggil dengan nama Ta Bone. Setelah beberapa waktu, maka dinamakanlah tempat itu dengan Tabone. Ketika saya tinggal di Tapango pada era tahun 90an, saya masih sering mendapat orang yang di depan namanya diberi awalan Ta, namun saya tidak tau apakah hal ini merujuk pada kata “tau” yang berarti orang. Contohnya orang yang saya dapati kala itu bernama Ta Kataq, Ta Kunding, Ta Sida, Ta Ridang, dll.

Sebenarnya rasa penasaran kami belumlah terjawab tuntas tentang sejarah keberadaan makam Tomakaka Allung ini, namun apalah daya kondisi hujan deras sementara tempat bernaung di sisi makam tidak sanggup menampung kami semua sehingga beberapa teman terpaksa berbasah-basah. Ditambah lagi dengan pengetahuan sumber kami yang diakuinya sangat terbatas sebab hanya berasal dari cerita tutur yang kemudian kembali ia tuturkan pada kami. Sehingga begitu sang hujan sedikit reda dan memberi kesempatan untuk pulang maka kamipun meninggalkan situs makam Tomakaka Allung.

Menjejakkan kaki di pelataran sempit tingkat bawah, aura mistis yang sempat menyapa saya saat pertama tiba kembali menyergap namun kali ini rasanya seolah ada tatapan mata yang melepas kepergian saya dan teman-teman. Mungkin saja “sang pemilik mata” ingin mengucapkan selamat jalan, dan dalam hatipun saya mengucapkan selamat jalan pula padanya. Saya dan teman-teman KOMPA DANSA MANDAR berpisah setelah mengantarkan kembali pak Muhammad Salim ke rumah anak beliau. Dan di bawah langit yang sudah tidak lagi meneteskan air hujan, kupacu si Beti (motor Beat matik) yang menjadi tungganganku untuk kembali ke rumah mencari sedikit hangat dari segelas kopi panas buatan sang istri yang tentunya sudah menanti kepulanganku. (selesai)

 

Tumpiling, 100414. Saat hawa pemilu masih terasa hangat.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2017